Akankah AI Mengancam Profesi Masa Depan Anak-Anak Kita Kelak?

Akankah AI Mengancam Profesi Masa Depan Anak-Anak Kita Kelak?

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan sharing dengan para orang tua murid SMA Delapan Jakarta. Iya ituuu, SMA paling hits dan jadi rebutan anak-anak pinter :) Dalam acara tersebut, saya menyampaikan tentang perubahan dunia akibat kelakuan digital bernama Artificial Intelligence (AI) terhadap profesi anak-anak kelak. Kebetulan saya sekarang bekerja di sebuah perusahaan aplikasi teknologi fashion matchmaker berbasis AI. Makhluk apalagi ini?

 

Perubahan Zaman Sudah Menanti Anak-Anak Kita

Hingga hari ini, masih banyak orang tua yang menganggap anak sukses itu harus kuliah di UI atau ITB. Sedangkan profesi yang membanggakan adalah dokter atau insinyur. Mereka pun berlomba-lombalah memasukkan anaknya ke SMA favorit, dengan harapan bisa masuk universitas negeri prestisius seperti UI, ITB atau UGM. Tidak cukup sekolah favorit, masih harus ikut les ini itu. Daftar bimbingan belajar (bimbel) paling laris, kalau perlu indent dari 2 tahun sebelumnya.

Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak! Bagus jika anak bisa berprestasi dan sekolah di tempat yang bagus. Tetapi apakah jadi jaminan kesuksesan anak? Nanti dulu.

Bapak dan Ibu sekalian, dunia sudah berubah. Sudah berubah! Gak percaya? Coba cek di HP Anda, aplikasi apa yang sering dipakai? Berapa kali pakai aplikasi untuk mencari makan, transportasi, belanja dapur hingga tukang pijet? Dalam sebulan, berapa kali ke bank? Seberapa sering transfer duit menggunakan HP? Naah….!

Akankah AI Mengancam Profesi Masa Depan Anak-Anak Kita Kelak?

Revolusi sudah terjadi, disadari atau pun tidak

Kita sudah menjadikan smartphone asisten andal yang bisa melakukan segalanya kecuali nafkah lahir batin. Oke kalau ini saya berlebihan. Tetapi sudah tidak bisa dimungkiri, betapa kita sangat menggantungkan  diri pada smartphone. Cuma sayangnya, smartphone gak bisa mikir. Coba aja ada aplikasi yang bisa mikirin, kelar semua urusan dunia.

Eittss! Siapa bilang smartphone gak bisa mikir? Tempat saya bekerja, namanya Yuna & Co. adalah membuat aplikasi yang membantu ibu-ibu dan mbak-mbak supaya tidak bengong di depan lemari baju kebingungan mau pakai baju apa. Yuna yang akan membantu mikir, ibu dan mbak tinggal swipe kiri kanan, beres!

Hellooooo….. Smartphone sekarang bisa mikir lo! Pakai teknologi yang disebut Artificial Intelligence. Hah? lalu kita manusia kerjaannya apa, kalo smartphone aja udah bisa mikir?

 

Bagaimana dengan Profesi Anak Kita Kelak?

Pertanyaan yang sama juga muncul di pikiran saya sebagai ibu, dan mungkin juga orang tua di luar sana. Anakku nanti kerja apa? Jangan-jangan lulus kuliah, profesi yang dipilihnya sudah punah. Matik!

Saya baru saja membaca artikel beberapa media seperti kompas.com, detik.com dan lainnya, ada ulasan tentang beberapa profesi yang akan punah akibat perkembangan teknologi (atau sudah punah?). Hal yang baru-baru ini terjadi adalah hilangnya profesi penjaga pintu tol.

Lalu, berapa banyak dari kita yang masih mengeluhkan produk atau jasa dengan datang langsung menemui customer service? Kayaknya lebih banyak yang ngetwit atau posting di Facebook deh.

Makin males rasanya antre di teller bank. Mendingan install aplikasi m-banking, banyak urusan kelar di tangan. Saudara saya yang bekerja di bank bercerita bahwa, beban kerja di back-end sudah banyak berkurang, karena makin banyak transaksi beralih ke online.

Belum lagi bisnis yang lain seperti transportasi, travel agent, pabrik, atau kantor pos. Konon pekerjaan berbasis otot bakal banyak yang diganti dengan robot. Bahkan akuntan, tenaga farmasi, pengacara, telemarketing, dokter pelan-pelan sudah mulai diganti dengan mesin berbasis AI.

 

Apakah berarti  anak kita gak bisa kuliah kedokteran, akuntansi, atau hukum?

Tentu saja tidak. Menurut saya, bukan hilang sama sekali, tetapi mendapat saingan dari para robot bermesin AI.

Kalau anak-anak kelak tetap memilih profesi itu, masih sangat mungkin berhasil dan sukses (coba direnungkan, yang pengin anak atau orang tuanya?). Dengan syarat tidak boleh menjadi dokter, akuntan, atau pengacara yang biasa saja. Bakal tergerus dalam persaingan.

Paham teknologi dan bisa berinovasi menjadi syarat dasar, apa pun pilihan profesinya. Karena teknologi sudah menjadi bagian hidup manusia sekarang, apalagi nanti.

Akankah AI Mengancam Profesi Masa Depan Anak-Anak Kita Kelak?

Student Exchange Labsky – Sydney

Lalu, Apa yang Harus Dipelajari oleh Anak-Anak Kita Agar Sukses di Masa Depan Nanti?

Supaya anak-anak kita bisa bertahan bahkan berjaya di era digital yang perubahannya sangat cepat ini, bagaimana caranya? Pendidikan apa yang cocok? Sekolah di mana, belajar apa? Orang tua harus bagaimana?

Banyak ya pertanyaannya.

Sebuah video menarik saya dapat dari Twitter. Pidato Jack Ma, orang Tiongkok kaya raya yang sedang jadi perbincangan dunia akibat kesuksesannya membangun raksasa bisnis bernama Alibaba Group.

If we do not change the way we teach, 30 years from now we will be in trouble. We cannot teach our kids to compete against machines. We have to teach them something unique.

Saya tetap percaya, setiap manusia dilahirkan membawa keahlian dan kemampuan dasar untuk bertahan hidup di zamannya. Tinggal bagaimana menyesuaikan dengan kebutuhan sesuai masanya.

Zaman now and then anak-anak harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan, kemauan yang besar untuk terus belajar dan berinovasi, serta tangguh atau resilience.

Apa pun bisa dipelajari. Ilmu pengetahuan bahkan berserak-serak di online. Skill teknis pun bisa dilatih dengan menggunakan tutorial. Sebagai orang tua, ajari anak hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu sense & empathy, art, social skill, critical thinking, dan leadership.

Ajari anak-anak kita dengan ilmu kemanusiaan. Berinteraksi langsung dengan manusia dan alam, belajar kalah dan salah, dan semua ilmu untuk menjadi manusia sesungguhnya. Hal ini tetap dibutuhkan di zaman apa pun profesi ap apun.

Beri ruang untuk anak belajar dan mengembangkan diri sesuai kapasitas dan kemauannya. Orang tua jangan terlalu mengatur menggunakan ukuran zamannya. Semuanya sudah berbeda. Bekali kepercayaan diri dan ajari untuk tetap rendah hati dan mau terus belajar. Selebihnya mari kita doakan agar anak-anak menjadi manusia yang bermanfaat.

2

4 Responses

  1. Atjih Kurniasih
    24 Februari 2018
    • ainun
      26 Februari 2018
  2. Fitri Anita
    16 April 2018
    • ainun
      21 April 2018

Tinggalkan Balasan