Otsuka: Antara Bangil dan Malang

Ada apa gerangan di Bangil dan Malang? Masih tentang perjalananku bersama PT Amerta Indah Otsuka (Otsuka), perusahaan yang memproduksi Pocari Sweat dan Soy Joy. Aku bukan hanya berkunjung ke pabriknya di Pasuruan, seperti yang aku ceritakan di sini, tetapi juga ikut hadir dalam peresmian alun-alun kota Bangil dan mampir ke taman hutan kota Malabar di Malang.

Kedua tempat itu sangat menyenangkan. Kenapa? Karena dua-duanya adalah sebuah taman di tengah hiruk pikuk kota. Paradoks happiness. Buat aku yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta, melihat ada taman besar kehijauan dengan manusia-manusia yang bercengkrama di dalamnya adalah pemandangan langka yang sangat dirindukan. Beruntunglah kota Bangil dan Malang.

Adalah Otsuka, yang ikut serta membantu mewujudkan taman kota sehingga layak dan nyaman menjadi tempat berkumpul dan bermain bagi warga. Gratis. Setiap hari mereka bisa berkunjung dan menghirup udara segar, tanpa harus pergi jauh keluar kota atau harus mengeluarkan koceknya. Kebayang kalau aku tinggal di sekitar situ, tiap suntuk tinggal lari ke taman. Duh, surga.

Alun-alun Bangil, yang baru saja diresmikan oleh Bupati adalah salah satu dari program CSR PT Amerta Indah Otsuka. Bapak Yoshihiro Bando Presiden Direkturnya, ikut menghadiri acara tersebut dan memberikan sambutan dengan bahasa Indonesia. Nice, Pak! Masyarakat Bangil nampak menikmati taman “baru” dengan jogging track dan kursi taman nan nyaman. Aku pun betah duduk berlama-lama. Walaupun cuaca panas, tapi di alun-alun terasa sejuk dengan angin sepoi dan berbagai pepohonan yang menahan gaharnya matahari. Beberapa tempat menjadi spot cantik buat foto, seakan mengerti kebutuhan anak kekinian yang segala sesuatu diukur dari : bagus gak buat Instagram aku?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hutan kota Malabar, Malang adalah hutan kota berikutnya yang aku sambangi. Ketika memasuki taman tersebut, serasa bukan di tengah kota. Tetapi seperti di hutan dengan pohon-pon tinggi, dan seakan tidak ada celah untuk matahari menyelinap masuk. Bedanya, banyak kursi taman buat duduk-duduk santai dan jogging track untuk lari. Beberapa anak sekolah duduk bergerombol sambil tertawa, entah apa yang sedang diperbicangkan. Yang nampak hanya wajah-wajah ceria. Di sudut lain, dua pasang kekasih sibuk melakukan foto pre-wedding, walaupun masih malu-malu tetapi terpancar jelas aura kebahagiaanya.

Dan lagi-lagi aku betah berdiam diri sambil menghirup udara segar, mengamati sekeliling. Bagiku itu refreshing yang sesungguhnya. Malas beranjak rasanya. Otsuka sungguh mengerti kebutuhan masyarakat kota yang sudah sumpek dengan polusi udara dan suara, turun tangan ikut membantu merevitalisasi hutan kota sehingga menjadi tempat melepas penat bagi warganya. Sudah pasti instagram-able banget! Liat aja foto-fotoku ini. *disambit*.

Beruntunglah kalian warga Malang, dengan adanya hutan di tengah kota. Tidak banyak kota di negeri ini yang memilikinya. Hutan kota Malabar menjadi oase yang sangat berharga. Maka wajib bagi warganya untuk menjaga supaya tetap indah dan nyaman. Walaupun Otsuka dengan senang hati memperbaiki dan mempercantik, tapi itu menjadi tidak berarti ketika warganya tidak ikut menjaga. Bukankah begitu?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Alun-Alun kota Bangil dan hutan kota Malabar adalah harta karun. Sebuah parameter kota tersebut layak huni ketika banyak tempat terbuka dan taman yang bisa dikunjungi dengan bebas oleh warganya. Mereka bisa melakukan berbagai aktvitas serta bersosialisasi. Dan aku selalu menyebut kota tersebut dengan kota yang manusiawi. Karena memanusiakan manusia sebagaimana layaknya. Apakah kotamu juga memiliki taman besar  serta hutan di tengah-tengahnya? Selamat, kotamu kota yang manusiawi dan layak huni banget!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Satu Balasan pada “Otsuka: Antara Bangil dan Malang”

  1. Bagus ya kegiatan perusahaannya, memberikan nilai tambah untuk semua. Taman-taman memang sangat diperlukan kota-kota di Indonesia. Apalagi kebanyakan kota di negeri ini sudah jenuh kendaraan bermotor dan polusi, tapi di sisi lain sangat minim taman dan ruang terbuka hijau secara umum. Baiklah, alun-alun Bangil dan hutan kota Malabar jadi tujuan yang harus disinggahi kalau saya bertandang ke dua kota itu. Terima kasih untuk idenya!

Tinggalkan Balasan