Perjalanan
Posted By ainun

XIAMEN -WUYISHAN DAN YANG TAK TERKATAKAN


Dua kota tujan piknik kami di negeri China kali ini adalah Xiamen dan Wuyishan. Sebelumnya sudah aku tuliskan hal-hal menarik selama perjalanan kami di tulisan ini. Nah, selanjutnya apa sih yang paling seru dari masing-masing kota ini?

XIAMEN

Selain ke taman, tempat belanja dan makanan, trip kami banyak mengunjungi lokasi bersejarah dan bangunan kuno. Cukup banyak bangunan kuno dan masih dirawat dengan baik. Berbagai museum serta tempat bersejarah yang kami kunjungi diantaranya Tan Kah Kee Memorial Museum, Dragon boat pool, dan Putuo Temple salah satu kuil terbesar dan masih aktif untuk beribadah, serta Zengcuoan culture village. Kami juga mengunjungi salah satu pulau eksotis yang biasa dikenal dengan pulau piano (karena di situ ada museum piano) atau disebut juga pulau villa (karena banyak sekali villa di sana, yang dulu digunakan sebagai rumah perwakilan berbagai negara di dunia). Pulau tersebut adalah Gulangyu. Dari Xiamen kita menyeberang menggunakan kapal feri kurang lebih 20 menit saja.

Dari semua lokasi kunjungan, pulau Gulangyu dan Zhonshan Road jadi tempat favorit. Di pulau Gulangyu, kita bisa berkeliling naik kereta bermotor (atau odong-odnong kita menyebutnya) naik sepeda atau jalan kaki. Tidak ada mobil atau motor. Di dalam pulau dengan tanah yang berkountur terdapat banyak bangunan cantik yang instagramable. Makanya gak heran jika banyak yang melakukan foto pre-wedding di sana. Selain pantai yang cantik, banyak cafe-cafe tempat nongkrong serta penginapan yang menarik. Kita bisa sekedar bermalas-malasan sambil menikmati angin yang sejuk, atau jalan-jalan melihat bangunan serta museum. Kalau suka mutiara, di sini terdapat toko mutiara asli kualitas bagus dengan harga lebih murah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Zhonshan Road sebuah kawasan pertokoan yang pertama kami kunjungi dan membuatku jatuh hati. Sepanjang jalan tidak boleh ada mobil, motor atau pun sepeda. Semua harus jalan kaki. Kalau malam tampak eksotis dengan lampu-lampu yang menerangi toko. Siang hari pun tidak kalah menariknya. Semua toko berada di bangunan kuno dengan cat dominasi putih tertata rapi dan bersih. Tentu saja instagramable banget baik siang maupun malam. Saking sukanya, aku dan beberapa teman berkunjung hingga 3 kali. Bukan hanya mencari pernak-pernik lucu tetapi juga berburu makanan dan tempat ngopi. Banyak toko-toko lokal dan beberapa toko dengan brand international. Mau belanja apa aja ada.

Perjalanan di Xiamen diakhiri dengan berkeliling danau Yudanghu di tengah kota dengan kapal bertenaga surya serta naik ke puncak bukit Sea Pearl tower untuk berfoto di jembatan kaca. Sayang pas kami datang diguyur hujan sehingga tidak bisa berlama-lama. tetapi cukuplah buat ambil foto eksotis.

Sampai akhir perjalanan yang sangat membekas di hati adalah kota Xiamen tertata rapih, tertib, gak ada suara klakson memekak telinga (karena membunyikan didenda) dan banyak sekali taman! Cocok banget buat yang mau pensiun di sana. Siapa tau, yekan?

 

WUYISHAN

Aku harus secara khusus menceritakan kota ini. Perjalanan dari Xiamen menuju Wuyishan, sebuah kota di pegunungan, kami tempuh kurang lebih 3 jam dengan kereta cepat. Keretanya bersih dan nyaman. Di dalam kereta ada penjual makanan, tetapi kita bisa juga membawa bekal sendiri. Jangan lupa setiap memasuki stasiun bawa pasopor karena ada pemeriksaan di pintu tiket. Sampai di Wuyishan kami langsung jalan-jalan dan makan. Baru malam hari masuk hotel untuk istirahat. Wuyishan kota yang sepi dengan jumlah penduduk hanya 200 ribu (sama dengan penduduk Salatiga, kampung halamanku).

Sama seperti Xiamen, banyak sekali taman dan semua trotarnya lebar dan nyaman. Enak banget jalan kaki dengan cuaca adem. Wuyishan terkenal dengan wisata alam Wu Yi Mountain, masuk dalam cagar alam yang dilindungi dan terbesar di Asia. 2 hari berturut-turut kami Wu Yi Mountain. Hari pertama mengelilingi Dawang Feng (Great King Pek) salah satu cagar alam yang dilindungi badan PBB – UNESCO. Untuk mendapatkan pemandangan kebun teh yang indah, ada 800 anak tangga yang ditempuh. Aku? Cukup di bawah saja duduk manis menikmati pemandangan dengan cuaca yang menyegarkan.

Hari kedua, kami melakukan Bamboo Raft drift di Jiu Qu river. Selama hampir 2 jam kami menyusuri sungai menggunakan perahu bambu yang dijalankan oleh 2 orang pemandu di depan dan belakang dengan jumlah penumpang setiap perahu 6 orang. Menurut informasi, hari itu air sungai agat surut sehingga arusnya tidak besar dan perjalanan menjadi lebih lama dari biasanya. Sepanjang sungai kita bisa melihat pemadangan yang indah serta batu-batu bersejarah yang masing-masing memiliki dongengnya.

Dari semua kunjungan di Wuyishan: melihat pemandangan alam, rafting di sungai, serta menikmati ritual minum teh tradisional, yang paling mengesankan adalah menonton pertunjukan drama kolosal Impression Dahongpao : Teh Jubah Merah. Sebelum pertunjukan aku sempat under estimate, bagaimana bisa menikmati ketika gak paham sama sekali dialog tanpa petunjuk maupun terjemahan. Jangan-jangan bakal ketiduran nih. Ternyata selama 90 menit, aku terpaku dan ternganga menyaksikan pertunjukan kolosal yang diperankan 300 pemain. Penonton duduk di platform yang berbentuk seperti piring dengan kapasitas 2.000 orang, dan platform itu berputar selama pertunjukan. Scen demi scen dibangun di sekeliling kursi penonton. Panggungnya bukan panggung biasa, tetapi rumah-rumah tradisional, sungai, sawah dengan undak-undakan, serta taman. Gemerlap lampu serta konstum pemain dengan warna mencolok serta penuh warna menjadikan pertunjukkan makin memukau. Tentu saja, drama China pasti penuh dengan adegan tari serta pendekar yang bisa melompat dan terbang dari satu tongkat ke tongkat lain. Semua ini sungguhan bukan trik kamera. Bagaimana kami tidak melongo sepanjang pertunjukan. Tanpa tahu arti dialognya, kami dibikin merinding. Apalagi setelah tahu sutradaranya adalah Zhang Yimou yang terkenal dengan karya kolosal nan memukau. Kalau kamu suka pertunjukan kolosal, jangan pernah lewatkan yang ini.

Wuyishan bukan kota besar, tetapi ditata dengan rapih. Kalau ingin mendapatkan pengalaman berbeda, sempatkan jalan-jalan di malam hari. Di taman banyak orang berkumpul sambil dansa dan menari dengan membawa speaker untuk memutar lagu pengiring. Kita bisa duduk-duduk menyaksikan aktivitas warga lokal tersebut. Kalau lapar tinggal jalan ke food street yang menyajikan berbagai makanan, termasuk makanan halal sate kambing ala timur tengah yang berempah. Ada beberapa kedai kopi yang lumayan enak buat nongkrong. Yang terbanyak masih toko teh. Hampir setiap sudut banyak sekali penjual teh dari yang harganya murah sampai mahal. Tenang saja, jalan-jalan malam di sana aman kog. Gak ada yang iseng gangguin atau menatap aneh. Rasanya kayak jalan di kampung sendiri aja, bedanya kita gak paham mereka ngomong apa hahaa…. Wuyishan, kota di pegunungan yang nyaman dan takkan terlupakan.

Terima kasih teman jalan Xiamen yang penuh kenangan bikin susah move on Pashatama, Eny Firsa, Motulz, Swastika, Cak Uding, Wiwiek, Adis, Falla dan Rizal.*peluk semuanya*

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan