Parenting

Catat Ketakutanmu, nak…


Untuk pertamakali anak perempuanku yang berusia 13 tahun akan terbang jauh dari ibunya, tinggal dengan keluarga asing dan bersekolah selama 2 minggu di Sydney.

Ibuk, aku takut. Ibuk, aku boleh nangis?” Beberapa jam menjelang keberangkatanmu, dua kalimat itu yang terucap. Sambik aku peluk erat, aku bisikan “kamu boleh nangis, gak papa nangis aja. Gak usah malu. Karena dengan nangis bisa mengurangi sesak di dadamu.” Usai menangis aku usap-usap kepalanya dan aku pun berbicara dari hati ke hati.

Sekarang soal takut. Mari kita bicarakan ya nak. Semua orang pasti punya rasa takut, tak terkecuali ibumu yang sudah menua ini. Tapi mari kita tulis dan uraikan satu persatu apa yang menjadi ketakutanmu.

Anak pun mulai mengungkapkan satu persatu yang menyebabkan dia takut :
1. Nanti kalau keluarganya gak suka sama aku gimana?
2. Kalau aku gak ngerti yang mereka omongin gimana?
3. Kalo aku gak doyan makanannya gimana?
4. Kalo malam-malam aku bangun gimana?


Udah itu aja nak? Oke kalau udah kita bahas satu-satu, bagaimana supaya bisa mengurangi rasa takutmu.

Kalau keluarga di sana tidak suka gimana? Coba kita pikirkan, kalau keluarga itu mau menerimamu, berarti mereka sudah siap kedatangan “anak” seperti apapun kondisinya. Dan sudah pasti mereka sudah melalui tahap seleksi untuk menjadi house family bagimu. Kita tidak bisa mengontrol sikap mereka, yang bisa kita lakukan adalah kamu menjaga sikapmu. Tetaplah bersikap baik dan layaknya tamu jagalah perilaku dan ucapan. Kalau kamu tidak tahu, bertanyalah. Mereka juga lebih senang kalau kamu terbuka dan apa-apa dibicarakan. Ibuk yakin, kalau kita bersikap baik, masak iya mereka akan membenci? Kuncinya ada di dirimu sendiri nak.

Nanti kalau aku gak ngerti mereka ngomong apa, gimana? Kamu ikut program ini kan sudah pasti sekolah melihat bahwa kamu mampu. Lagipula banyak cara untuk berkomunikasi, tidak semata-mata bicara. Kamu bisa memberikan isyarat, atau menuliskan jika memang kesulitan menyampaikan maksud. Hai….kamu kan punya smartphone, di situ bisa instal kamus kalau kamu susah menemukan kata-kata.

Kalau aku gak doyan makanannya gimana? Justru di Australi banyak makanan kesukaanmu nak. Kamu kan gak suka nasi dan sayur mayur ala rumah. Kamu suka burger, spageti, keju, sandwich…wah di sana surganya. Dan lebih enak. Kalau pun keluarga itu memberi makanan yang tidak kamu suka, tetaplah dimakan. Jangan kamu lihat makanannya, tetapi bayangkan bagaimana mereka bersusah payah menyiapkan makanan untukmu. Bukankah tidak ada yang lebih buruk dari nasi dicampur air ketika kamu BIMENSI, bukan? Jadi ibuk yakin makanan di sana akan baik-baik saja.

(BIMENSI, bina mental siswa, program wajib siswa SMP Labschool bersama Marinir AL untuk melatih mental dan keberanian)

Kalau malam-malam aku bangun gimana? Kamu punya smartphone yang bisa menelpon ibuk kapan saja. Kamu bisa ngobrol sama Ibuk sampai kamu tenang. Kalau pun kamu takut, selalu ingat Allah ada di mana-mana, bahkan di Sydney. Dia akan selalu menjagamu seperti selama ini telah menjaga kita berdua. Banyak “hal sulit” yang telah kita alami, dan Allah selalu menyelamatkan kita. Berdoalah selalu, meminta perlidunganNya. Pada akhirnya hanya Allah yang akan menjaga kita di mana pun. Seperti yang pernah ibuk tuliskan di sini : Tuhan Menjagamu. Lagian hantu-hantu Indonesia gak ada yang berani ke Sydney, gak punya visa.

Dan kami pun tertawa berdua. “Lebih ringan kan nak, ketika kamu menuangkan apa yang menjadi ketakutanmu. Karena sesungguhnya, takut itu lebih banyak dipikiran kita sendiri dan seringkali berbeda dengan kenyataan. Yang bisa mengendalikan pikiran kita, adalah kita sendiri. Berangkatlah dengan keyakinan kamu bakal senang-senang. Apapun yang terjadi, pilihlah untuk menikmati dan bahagia. Sayang kan, udah jauh-jauh dan mahal pergi ke Sydney kalau cuma mikir takut dan sedih? Ibuk yakin pasti kamu dapat pengalaman baru dan seru. Gak ada yang menakutkan kog, hanya karena ini untuk pertama kali aja. Sekolah pasti sudah mempersiapkan dan menjaga semuanya sehingga program berjalan lancar, kamu sehat dan selamat hingga kembali ke Jakarta.”

Malam itu aku melepas anakku dengan hati yang lebih tenang, karena senyumnya sudah mulai sedikit terkembang. Sesungguhnya bukan hanya kamu saja nak yang takut, tetapi ibukmu juga.  Walaupun ketakutan ibuk berbeda. Kepergianmu ini pelajaran untuk kita berdua. Sama-sama belajar menundukkan rasa takut. Terima kasih kamu sudah menjadi anak yang berani dan baik. Aku bangga padamu.

Tulislah apa yang menjadi ketakutanmu, dan baca lagi. Seringkali pikiran yang membuat nampak menakutkan, bukan kenyataan.


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan