Karya
Posted By ainun

KONSISTENSI, PR BESAR NEGERI INI


Salah satu alasan kenapa gerakan Akademi Berbagi yang saya bangun 7 tahun lalu harus terus dijalankan, apapun kendala dan hambatannya, adalah untuk melatih konsistensi. Belajar bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai dan menjalankan sesuai cita-cita dalam semangat kerelawanan tanpa bayaran adalah wujud dari konsistensi itu. Bukan hal yang mudah, tetapi jika ingin melakukan perubahan, konsistensi adalah faktor penting.

Membangun sebuah gerakan berbasis kerelawanan selain komitmen yang kuat, dibutuhkan konsistensi. Dua hal yang menjadi modal utama jika ingin gerakan yang dibangun bisa terus berjalan dan memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Membangun sebuah gerakan itu mudah. Di jaman social media, gerakan sosial bermunculan bak jamur di musim hujan. Tetapi banyak  yang layu sebelum berkembang. Ramai di social media, rontok di jalanan.

Kita seringkali terjebak pada, yang penting dimulai, yang penting seru, yang penting niat. Padahal semua itu belumlah cukup. Konsistensi untuk menjaga apa yang sudah diniatkan, menjadi ujung tombak agar terus bergerak dan membawa dampak. Kecuali kalau niatnya memang cuma “yang penting ramai” di social media dan menjadi “pencitraan” belaka, itu lain soal.

Kosistensi, bukan hanya soal gerakan. Tetapi juga dalam hal meningkatkan kualitas diri. Kita tahu, dan ikut mengamini, bahwa jika ingin melakukan perubahan nasib, perlu konsisten dalam berjuang meraih cita-cita. Semua harus melalui sebuah proses yang bisa jadi panjang dan lama, sampai kemudian perubahan yang diinginkan itu terwujud. Kita sering kali tidak sabar, pengin yang instan. Walaupun mie instan aja tetep butuh 5 menit untuk proses memasaknya.

Apalagi jika kita bicara tentang negara. Konsistensi jadi faktor penting jika ingin membuat perubahan untuk memajukan negeri ini. Konsisten atas keputusan yang sudah dibuat, konsisten atas peraturan yang sudah ditetapkan, dan konsisten atas cita-cta bangsa. Sudah pasti akan ada kendala dan hambatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan mungkin sengaja dihambat oleh beberapa oknum yang tidak mau berubah. Tetapi tanpa konsistensi, sulit untuk membuat perubahan itu sendiri.Bahkan diujungnya akan semakin sulit mendapat kepercayaan, baik dari masyarakat sendiri maupun negara lain.

Apapun keputusan yang diambil sudah pasti beresiko. Bukan berarti kita harus menganulir keputusan supaya hilang resiko. Justru bagaimana memperhitungkan dampak resiko dan mengantisipasinya supaya bisa meminimalisir kerugian. Sebagai contoh dalam kasus kebijakan pemerintah terkait bidang pertambangan. Pemerintah sudah menetapkan aturan bahwa wajib membangun smelter bagi pemilik industri tambang dan melarang ekspor bahan mentah. Bukan sebuah keputusan mudah, tetapi penting untuk menjaga kedaulatan sumber daya energi dan mineral serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selanjutnya pemerintah harus ikut menjaga supaya keputusan tersebut dijalankan dan memberi dampak signifikan.

Jika diawal telah ada pelarangan ekspor bahan mentah, tetapi kemudian ada kelonggaran untuk itu, tentu saja membingungkan para pelaku industri pertambangan. Bukankah kewajiban membangun smelter adalah untuk meningkatkan nilai jual hasil tambang? Tidak sekedar ekspor bahan mentah tetapi sudah menjadi olahan, sehingga nilai ekspornya meningkat signifikan. Diharapkan selain meningkatkan pendapatan negara juga membuka lapangan kerja baru. Pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dan kebingungan ini bukan sekedar bingung doang, tetapi ada nilai investasi besar di dalamnya. Gak bisa “esuk dele, sore tempe” (pagi kedelai, sore tempe – peribahasa jawa), yang artinya berubah-ubah sesuai keinginan. Kebijakan pemerintah dampaknya sangat luas. Bukan hanya berhentinya operasi smelter yang menimbulkan kerugian besar tetapi juga iklim investasi yang sudah dibangun pun ikut terpuruk. Makanya konsistensi itu penting sekali. Gak cuma jomblo, para investor pun butuh kepastian. Yakan?

Pemerintah sudah melakukan banyak hal. Beberapa sudah menunjukkan hasil signifikan. Walaupun begitu, masih banyak pekerjaan rumah (PR) untuk negeri ini. Untuk itu perlu konsistensi atas apapun yang sudah dimulai, supaya perubahan semakin besar dan dampaknya sigifikan.


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan