Parenting
Posted By ainun

Menjadi Ibu yang Sempurna


Saat ini anakku menginjak usia 13 menjelang 14 tahun dengan berat badan 55 kg tinggi 175 cm. Alhamdulillah secara fisik baik, aktif, dan jarang sakit. Sukanya olahraga basket dan berenang. Karena dari kecil biasa minum air putih dan susu putih (non perasa dan pemanis) jadi berat dan tinggi badannya seimbang.

Dulu lahirnya normal atau cesar? Pasti dapat ASI sampai 2 tahun ya? Makanya anaknya tinggi dan sehat. Pertanyaan yang sering diajukan padaku, dari dulu hingga sekarang anak menginjak usia remaja. Lalu apa jawabanku? Duduk yang manis, aku ceritakan semuanya.

Anakku lahir secara normal dengan berat 4,3 kg dan tinggi 53 cm. Untuk ukuran bayi termasuk besar sehingga tidak nampak seperti dilahirkan pada umumnya. Proses lahir nya sendiri tidak lumrah. Dokter sebenarnya sudah mempersiapkan untuk cesar karena bayinya besar, leher terlilit usus dan aku terkena asma. Tapi hari itu aku terjatuh dan mengalami pendarahan pada malam harinya.

Subuh-subuh ke dokter ternyata sudah bukaan 8. Padahal perkiraan lahirnya masih 3 minggu lagi. Gak ada pilihan lain kata dokter, “mari bu kita coba lahir normal” . Udah bukaan 8 seneng dong, tinggal sebentar lagi. Tapi ternyata pas bukaan 10 bayinya berhenti, macet gak maju gak mundur. Rasanya? Sakit luar biasa. Bahkan sampai sekarang masih suka terbayang rasanya. Setelah hampir satu jam baru bayi bisa keluar. Dan aku pun pingsan kehabisan tenaga. Tidak sempat melihat muka bayinya. Siang hari setelah bayi dibersihkan baru aku bisa melihat dan menggendongnya. Anak perempuanku telah lahir. dengan selamat. Alhamdulillah.

Malam harinya aku kesakitan dan tidak bisa tidur. Sambil berjalan tertatih-tatih aku masuk ke ruang suster. Sama suster entah dikasih obat apa (gak sempat nanya dan gak kepikiran juga saking sakitnya) sambil diberi pesan, “Bu ini hanya untuk malam ini ya. Darurat. Besok kalo masih sakit harus ke dokter.”

Karena lahir normal, maka aku gak butuh waktu lama menginap di klinik. Hanya 2 hari satu malam dan anakku bisa aku bawa pulang. Urusan selesai? Belum! Sampai di rumah, aku berusaha memberikan ASI eksklusif. tetapi mendadak sore hari badan anakku panas tinggi. Saking paniknya, aku berlari ke rumah tetangga, yang kebetulan seorang dokter. Ternyata anakku dirujuk ke rumah sakit dan harus opname.

Anak masuk ke ruangan khusus karena bilirubin terlalu tinggi dan panas gak turun-turun. Aku nangis dan nyaris histeris melihat bayi baru berusia 3 hari disuntik keduanya tangan serta kaki, dengan berbagai selang dipasang di badannya. Lemes dan gak tahu lagi mesti gimana. Mungkin karena sakit, anak gak mau menyusu, alhasil payudara bengkak dan aku mengalami demam tinggi. Akhirnya aku dan anakku sama-sama opname di rumah sakit tapi berbeda ruangan.

Karena kejadian itu, produksi ASI menurun dan lama-lama gak keluar sama sekali ketika anak masih berusia 4 bulan. Aku mencoba konsultasi dengan dokter, bukannya memberikan solusi malah justru menyalahkanku. Dan aku pun semakin terpuruk rasanya. Pulang dari dokter, aku masuk kamar mandi dan menangis berjam-jam di bawah shower, sibuk menyalahkan diri sendiri.

Akhirnya anakku jadi anak susu formula eksklusif. Masalah belum berhenti sampai di sini. Hampir setiap bulan anak masuk rumah sakit untuk opname. Sakitnya macam-macam : panas tinggi, kejang, diare, benjolan di kepala dan berbagai keluhan lain. Pernah selama dua bulan anakku tidak bisa buang air besar sehingga dokter menyarankan untuk mengganti susu formula berbahan soya (kedelai). Jangan tanya harganya. Mahal minta ampun.

Suatu hari, saat anakku menjalani opname seorang dokter menawarkan pemeriksaan komprehensif. Aku menyetujui. Hasilnya pertumbuhan bayi belum sempurna tapi sudah lahir jadi timbul berbagai permasalahan di pencernaan bahkan di sistem saraf. Berbagai treatment harus dijalankan. Kali ini dokternya lebih suportif dan bisa diajak diskusi tanpa menyalahkan aku sebagai ibunya. Dia bilang : “Kita lihat sampai 2 tahun ya, jika setelah 2 tahun tidak kejang dan diare/konstipasi berkepanjangan berarti proses pertumbuhannya sudah normal.Jika tidak maka perlu pemeriksaan lanjutan dikarenakan bla bla bla……“.

Aku pun kembali cemas tak terkira. Harus menunggu 2 tahun untuk tahu bahwa semua normal. Rasa di PHP sama mantan gak ada apa-apanya dibandingkan dengan ini. Dan selama proses menuju 2 tahun, anakku rutin menjalani opname di rumah sakit. Sampai platform asuransi habis, dan keuangan berantakan. Aku harus bekerja keras mencari nafkah demi menutup semua biaya.

Tentu saja dalam perjalanan itu aku berkali-kali menerima pertanyaan, sindiran, tuduhan serta cercaan karena gak kasih ASI.  Rasanya? Hayati lelah luar biasa, Jendral! Hingga aku trauma sama penggiat-penggiat ASI dan memilih menghindar. Kalo perlu gak usah berteman dulu. Karena aku harus fokus memperhatikan perkembangan kesehatan anak dan bekerja mencari uang. Aku gak punya daya lagi untuk meladeni cecaran pertanyaan kenapa anaknya gak dikasih ASI. Dan aku gak perlu menjelaskan panjang lebar kenapa gak bisa memberikan ASI. Pertama akan berapa lama menjelaskan, kedua belum tentu mereka mau mendengar. Dobel capeknya. Emang pernah dicoba? Tentu saja pernah. Dan hasilnya aku tetep salah.

Sejujurnya tanpa dicecar orang-orang, aku sudah merasa sangat bersalah tidak bisa memberikan ASI untuk anakku. Karena aku tahu persis ASI sangat penting dan paling bagus untuk bayi. Memberikan ASI kepada anak hingga berusia 2 tahun adalah mimpiku dari dulu. Rasanya paripurna sebagai ibu. Tentu saja, selain ASI adalah yang terbaik, pastinya lebih irit. Aku gak perlu mengeluarkan uang hingga jutaan untuk membeli susu soya formula.

Jadi sekarang mengerti kan, aku bukanlah ibu yang baik apalagi sempurna. Anakku besar karena susu formula. Tetapi apakah aku gagal sebagai ibu? Aku percaya bahwa setiap ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Setiap ibu punya cara untuk membesarkan anaknya berdasarkan pengetahuan, latar belakang, pengalaman dan nilai yang dianut. Setiap ibu memiliki gaya yang berbeda dalam merawat dan mendidik anaknya. Kita tidak bisa memaksakan cara pandang kita untuk orang lain. Begitu pun sebaliknya.

Sesekali mendengarkan orang lain itu perlu tapi jangan sampai menyalahkan diri sendiri. Jangan pernah terpuruk karena omongan orang. Terkadang mereka yang ngomong pun asal njeplak. Perjuangan ibu sepanjang hamil hingga akhir hayat. Setiap tahapan usia anak memberikan tantangan tersendiri. Bahkan sampai anak kita dewasa, menikah dan memberikan cucu. Dulu waktu bayi masalahnya soal cara melahirkan dan pemberian ASI, begitu dewasa kita ribet dalam urusan mantu.

Yang terpenting dari semuanya, jalani proses sebagai ibu dengan gembira. Karena dari orangtua yang gembira, anak-anak bisa tumbuh dengan sehat dan bahagia. Jadi ibu adalah belajar tiada akhir. Bisa dari para ahli, membaca buku atau dari sesama ibu. Tetapi jangan pernah terintimidasi atau terbenam dalam rasa bersalah, jika ada yang berbeda pandangan atau komentar yang menyakitkan.

Setiap ibu adalah manusia biasa yang pasti melakukan kesalahan. Perbaiki setiap kesalahan dan move on. Karena hidup tidak pernah atret ke belakang. Jangan biarkan (mulut) orang lain yang menentukan kebahagiaanmu. Mereka hanya komentar (karena itu paling gampang), tanpa tahu persis apa yang kamu hadapi. Gak semua perlu didengar. Seringkali anjing menggonggong gak cuma kafilah tapi para ibu pun harus berlalu.

Percayalah wahai para Ibu, bagi anakmu kamu adalah ibu terbaik. Peluk erat semua ibu.


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan