Karya
Posted By ainun

Menjadi Mandiri, pilihan atau keharusan?

Kita semua tahu bahwa negara ini harus tangguh dan mandiri, tetapi di sisi lain tidak mau membuat perubahan yang akan mengganggu kenyamanan. Kayak bayi, Indonesia dikeloni aja terus dengan impor, subsidi dan segala program kemudahan lainnya. Alhasil numpuk utang, utang, dan utang. Sampai di satu titik, pondasi keuangan negara tidak kuat lagi menyangga. Dan semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki.


Photo by: @nicowijaya

Hari ini aku menerima pemberitahuan bahwa, anak semata wayangku akan mengikuti program Student Exchange ke luar negeri. Antara bahagia, bangga serta kuatir. Dan sepertinya rasa kuatir yang lebih mendominasi. Seperti sebuah film, kepalaku memutar kilas balik perjalananku menjadi ibu. Satu persatu kenangan melintas, dari dia bayi, masuk sekolah preschool, SD hingga perjuangannya masuk ke SMP favorit. Tak terasa, airmata pun menggenang. Waktu seakan berlalu begitu cepat, tahu-tau sudah menggunakan seragam putih biru. Rasanya tidak tega melepas anak pergi, padahal program itu sudah pasti bagus untuk melatih dia mandiri.

Salah satu masa yang menurutku berat menjadi orangtua adalah ketika anak beranjak remaja. Masa di mana dia akan bertemu “kenyataan dunia.” Jatuh cinta, patah hati, kompetisi, eksistensi, pergaulan, drug, dan sejenisnya. Saat di mana anak ingin melawan dunia dan orangtua, karena menemukan jati diri dan eksistensi diri lebih penting dari apapun.

Tugas orangtua kenapa berat, karena di satu sisi ingin terus menjaga anaknya dari tantangan kehidupan: anak tidak boleh patah hati, sakit, terluka atau terkena mara bahaya. Pokoknya anak jangan sampai menghadapi kesulitan.  Tetapi di sisi lain  orangtua harus  tegar untuk menggembleng anaknya sehingga mampu menghadapi rasa sakit, jatuh, patah dan masa sulit yang akan menjadikan pribadi tangguh dan mandiri. Sehingga kelak bisa menghadapi dunia dengan berani. Tapi boro-boro mau menggembleng, melihat anak sakit aja, rasanya ingin memindahkan sakit tersebut ke badan kita, orangtuanya. Iya kan?

Orangtua terkadang tidak mau menerima perubahan, bahwa anaknya sudah besar. Mereka memperlakukan anaknya bak bayi lemah yang harus terus dijaga dan dilindungi. Hingga tanpa sadar anaknya tumbuh dewasa tetapi jiwanya masih kanak-kanak. Tidak menjadi manusia yang mandiri apalagi berani.

Rasaku ini mungkin sama seperti bangsa ini. Kita semua tahu bahwa negara ini harus tangguh dan mandiri, tetapi di sisi lain tidak mau membuat perubahan yang akan mengganggu kenyamanan. Kayak bayi, Indonesia dikeloni aja terus dengan impor, subsidi dan segala program kemudahan lainnya. Alhasil numpuk utang, utang, dan utang. Sampai di satu titik, pondasi keuangan negara tidak kuat lagi menyangga. Dan semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki.  Untuk itu sebelum semua hancur kayak bubur, kita tidak ada pilihan, selain harus berbenah dan membuat perubahan. Tinggal mau atau tidak?

Perubahan pasti terasa menyakitkan (merugikan) walaupun itu untuk sementara waktu. “Sudahlah, kayak gini aja sudah enak“. Atau “enakan jaman dulu“. Dan masih banyak kalimat-kalimat penghiburan lain yang intinya tidak mau menerima kenyataan bahwa perubahan itu satu keharusan.

Indonesia yang konon gemah ripah loh jinawi, dengan kekayaan alam melimpah ruah, tetapi ternyata hampir sebagian besar kebutuhan hidup warganya diimpor dari negara lain. Kita sudah keenakan mendapatkan subsidi dan menjadi bangsa yang tidak mandiri. Sampai kemudian, keuangan negara mengalami goncangan, cadangan devisa menipis, beban subsidi membesar dan negeri ini terlilit masalah besar.

Di saat seperti ini, apakah kita tetap tidak mau “menempa” negeri sendiri supaya menjadi mandiri? Mau sampai kapan? Sampai negeri ini bangkrut? Perubahan sudah tidak bisa dihindarkan. Mau tidak mau kita harus keluar dari “zona nyaman” yang memabukan agar negeri ini terselamatkan. Menata kembali semua sumber daya alam termasuk bahan bakar minyak. Bagaimana caranya supaya tidak tergantung pada impor, dan bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Sukur-sukur ada sisa yang bisa diekspor.

Pertamina pun sudah berbenah menuju bangsa yang mandiri dari segi energi dengan membangun dan mengembangkan kilang dalam negeri. Saat ini kapasitas kilang yang tersedia 850 – 900 ribu barel per hari , sedangkan kebutuhan dalam negeri sendiri 1,6 juta barel per hari. Untuk itu, Pertamina dalam melaksanakan program Nawacita Presiden telah menyusun program pengembangan produksi sekitar 2,2 juta barel per hari yang direncanakan dalam 8 tahun ke depan (2025).

Untuk program jangka panjang, Pertamina membuat program pengembangan kilang minyak RDMP (Refinery Development Master Plan) di Balikpapan, Cilacap, Balongan dan Dumai. Serta program NGRR (New Grass Root Revinery) di Tuban dan Bontang.

Selain untuk memenuhi kebutuhan BBM, pembangunan kilang minyak Pertamina juga akan memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti terbukanya peluang usaha kecil di sekitar lokasi, penyerapan tenaga kerja serta kesempatan untuk masyarakat dalam mengembangkan kapasitas diri bersam program-program pemberdayaan yang dilakukan Pertamina.

Tentu saja ini bukan pekerjaan sebulan dua bulan, dibutuhkan waktu dan kerja keras serta dukungan dari berbagai pihak agar tercapai tujuannya. Sekali lagi perubahan memang tidak mudah, tetapi kalau tidak dilakukan sekarang, kapan lagi. Pertamina sudah berbenah untuk menjadikan negeri ini mandiri. Kita sebagai warga masyarakat hanya perlu mendukung penuh karena toh kita juga yang mendapatkan manfaatnya. Ketika negara ini mandiri, maka rakyat juga yang akan sejahtera.

Ketika negara ini mandiri, maka rakyat juga yang akan sejahtera.


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan