Refleksi

Kerja Hebat itu Bernama Sky Ave 2016


Sky Ave 2015

Sky Ave 2015

Malam itu aku berdiri termangu di lapangan Aldiron Pancoran. Gelap gulita dan becek penuh lumpur. Masih tampak anak-anak dan orangtua lalu lalang. Beberapa berkelompok menundukkan kepala sambil berpegangan tangan. Yang lain saling berpelukan. Di pojokan, di belakang panggung, di pinggir lapangan masih nampak beberapa anak yang sesenggukan.

Aku terdiam tak bisa berkata-kata. Seharusnya ini menjadi malam gembira yang ditunggu abg Jakarta. Di tempat aku berdiri, di atas lapangan yang berlumpur seharusnya penuh jejak kaki yang melompat kegirangan bernyanyi bersama idola. Sekarang yang tersisa hanya panggung kosong, tenda yang porak poranda, arena permainan, photo booth yang sepi dan gelap.

Sungguh aku tak bisa membayangkan, apa rasanya penyelenggara melihat semua ini. Hajatan yang dipersiapkan berbulan-bulan. Menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan dana. Sebuah event kebanggaan SMA Labschool Kebayoran (Labsky) yang secara rutin diselenggarakan setiap tahunnya dan ditunggu banyak remaja Jakarta bernama SKY AVENUE (skyave). Kini hanya tinggal lapangan yang sepi, gelap dan muka-muka muram. Rasanya aku ingin memeluk mereka, para panitia penyelanggara. Walaupun aku tidak punya cukup kata untuk menghibur.

Hujan yang hanya 30 menit ternyata meluluhlantakkan kerja keras anak-anak muda. Menghempaskan mimpi untuk bergembira bersama puluhan ribu teman-temanya. Anakku pun. Dia membeli tiket jauh-jauh hari, 3 atau 4 bulan sebelum acara supaya dapat harga murah dan tidak kehabisan. Ibunya pun dibelikan tiket menggunakan uang saku. “Ibuk harus nonton Skyave ya, seperti tahun lalu. Ini kan acara kebanggaan labsky!” Begitulah pesan anakku. Tak hanya ibunya, teman-teman SD nya pun diajakin. Betapa bangganya dia dengan Skyave.

Ketika mendengar Skyave dihentikan setelah berjalan 3 jam karena hujan badai membuat peralatan dan tenda-tenda porak poranda, anakku pun menangis. Padahal dia sudah di dekat lokasi menunggu teman-temannya ngumpul untuk memasuki area acara. Bukan hanya kecewa batal menonton acara yang ditunggu berbulan-bulan, tetapi juga merasa kasihan dengan kakak-kakak panitia. “Ibuk, acara itu udah dibayar semua ya? Mereka rugi ya? Siapa yang mengganti semuanya?” tanya anakku bertubi-tubi yang aku pun tak punya jawabnya.

Skyave, event kebanggan SMA Labsky. Yang selalu ditunggu setiap tahunnya. Seluruh persiapan sudah dirancang dengan rapih. Melihat step by step informasi yang diposting di social media, aku sungguh kagum. Event sebesar ini, berhasil menjual habis 15.000 tiket, dengan tingkat kerumitan yang tinggi semua dikerjakan oleh anak SMA. Luar biasa!

Persiapannya mungkin sekitar 6 bulan. Disela-sela tugas belajarnya, para panitia bekerja keras  sehingga Skyave bisa terlaksana dengan keren dan memuaskan remaja ibukota. Walaupun bukan event organizer profesional, pekerjaan mereka sangat rapih. Lay out venue, keamanan, kenyamanan, tempat sholat, tempat makan, flow pengunjung, hingga parkiran semua diatur dengan jelas dan rapi. Informasinya pun lengkap dan bisa dilihat di kanal social media mereka. Deretan pengisi acaranya pun tidak tanggung-tanggung. Barisan artis-artis terkemuka. Gak cuma artis, tetapi juga ada games center, photo booth dan berbagai fasilitas keriaan yang sangat mengerti kebutuhan anak milenial.

Tidak habis decak kagumku hingga hari ini. Sebagai orang yang biasa menyelenggarakan event, mengundang massa 15.000 itu tidak gampang. Kalau aku sudah pasti pake EO professional dan segambreng bala bantuan. Ini bukan event main-main. Dan semua dikerjakan oleh anak-anak sekolah yang didukung para orangtua terutama ibu-ibu. Mereka bekerja dengan profesional walaupun tanpa bayaran.

Meskipun akhirnya acaranya dihentikan demi keamanan bersama, dan sudah pasti ini keputusan yang sangat berat, tidak mengurangi kekagumanku. Salut dan hormat untuk SMA Labsky yang sudah 10 tahun sukses menyelenggarakan event besar ini. Ini bukan sekedar pensi (pentas seni), tetapi tempat belajar dan menempa anak-anak SMA agar siap di kehidupan nyata. Pelajaran dan pembelajaran yang sangat berharga, karena nilai akademik saja tidak cukup. Mereka belajar leadership, team work, berorganisasi serta mengambil keputusan beserta resikonya.

Malam itu mereka mendapat pembelajaran tambahan, untuk menjadi anak-anak yang tangguh dan berani menghadapi keputusan berat. Berbesar hati menerima kegagalan dan belajar menyelesaikan semuanya dengan penuh tanggung jawab. Salut SMA Labsky! aku bangga dengan kalian.

Note : Press release resmi mengenai acara Sky Ave bisa dibaca di sini : RELEASE SKY AVE 2016


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan