Social Media

Kamu, Ambasador Kantormu (1)


hugo-beijing2

Dalam sebuah training atau talkshow yang membahas social media, seringkali saya mendapat pertanyaan ini :

Sebagai karyawan, perlukah saya mencantumkan kantor saya di bio social media yang saya miliki?

Ada orang yang mencantumkan secara lengkap, atas kesadaran sendiri, karena bagaimana pun juga tempat bekerja adalah bagian dari identitas. Ada yang mencantumkan karena bagian dari aturan perusahaan tempat dia bekerja. Ada yang tidak mencantumkan sama sekali, dengan argumen social media (socmed) sifatnya pribadi bukan kanal profesional.

Di social media, saya selalu menyarankan, penting untuk menggunakan nama dan bio yang jelas dan jujur. Jujur bukan  berarti mencantumkan semua data diri ya. Artinya, kita menjadi manusia bertanggung jawab di social media. Bagaimana pun, akun socmed sudah menjadi identitas penggunanya. Mau menggunakan nama asli atau pseudonim, akun socmed adalah “wajah” kita di online.

Lalu apakah perlu mencantumkan tempat kerja di bio? Dalam banyak hal, tanpa menyebutkan tempat kerja, orang-orang bisa mengetahui. Karena di socmed ada teman sekantor, keluarga, tetangga, teman sekolah, bahkan mungkin bos kita. Jadi tanpa dicantumkan pun, publik online atau biasa disebut onliner (yang tahu) sudah mengasosiasikan kita dengan kantor. Misalkan ada permasalahan di perusahaan A, dan saya bekerja di situ. Teman-teman atau kenalan sangat mungkin mention akun socmed saya untuk merujuk permasalahan di perusahaan A. Lepas dari posisi kita memang paham dan punya “kuasa” atas permasalahan, onliner tidak peduli. Pokoknya saya kantornya di perusahaan A jadi saya “ikut bertanggung jawab” atas permasalahan tersebut.

Pertanyaannya bukan lagi perlu atau tidak mencantumkan tempat kerja di bio socmed, tetapi seberapa jauh onliner mengenal kita beserta tempat kerjanya. Kalau ternyata mereka tahu, maka apa yang terjadi di perusahaan tempat kita bekerja, akan selalu diasosiasikan dengan kita. Begitu juga dengan postingan kita. Walaupun di bio socmed ditulis “postingan bersifat pribadi, tidak mewakili institusi/perusahaan”, onliner tetap tidak peduli. Kamu ya tempat kerjamu.

Daripada mumet mikir, perlu tidaknya mencantumkan, lebih baik mulai berpikir bahwa saya, kamu, kita adalah ambasador kantor kita di socmed. Apa yang kita posting akan selalu diasosiasikan dengan kantor, begitu pun sebaliknya. Maka dari itu, kita perlu berhati-hati. Jangan mengumbar urusan kantor. Batasi mana yang perlu dibagi mana yang tidak. Seringkali kita tidak sadar memposting “suasana rapat“, padahal dalam rapat ada pembahasan krusial dan confidential. Atau mengeluhkan gaji telat semata mau curhat. Ternyata hal  itu bisa dianggap mencemarkan nama baik perusahaan. Dan masih banyak yang lainnya.

Selain urusan “dapur kantor” sebenarnya ada hal-hal yang layak bagi ke publik. Misal perusahaan meluncurkan produk baru, sebagai karyawan kita bisa membantu mempromosikannya. Toh kalau perusahaan maju, kita juga diuntungkan. Atau kantor memberikan fasilitas baru tempat olahraga bagi karyawan. Hal ini bisa menjadi cerita positif yang bisa dibagi ke publik. Cerita prestasi karyawan juga bisa meningkatkan citra perusahaan. Intinya banyak hal yang bisa diceritakan untuk meningkatkan image positif perusahaan tanpa mengumbar “rahasia“nya.

Tidak ada yang salah dengan memberikan citra positif perusahaan di socmed melalui akun pribadi. Toh kantor adalah tempat kita mencari nafkah dan rumah kedua yang patut kita jaga bersama. Sudah sepatutnya kita bangga. Kalau karyawanya saja tidak bangga dengan kantornya, bagaimana dengan pihak luar? Jadi wajar bila akun socmed karyawan adalah ambasador online bagi kantornya. Tetapi jika kita merasa tidak ada hal positif dari kantor yang perlu dibagi di socmed dan banyaknya hanya keluhan saja, yang patut dipertanyakan adalah diri kita sendiri, kenapa masih kerja di sini?


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan