Refleksi
Posted By ainun

Long weekend saya baik-baik saja


gili trawangan 7

Entah sejak kapan, seperti sebuah keharusan agar disebut masyarakat kekinian, jalan-jalan atau traveling menjadi kebutuhan pokok, setelah papan-sandang-pangan-gadget-wifi. Semua orang berlomba-lomba memposting perjalanannya, baik lokal maupun interlokal internasional. Postingannya pun beragam, dari makanan, hotel, OOTD atau baju piknik hingga boarding pass.

Sekarang pun sudah jamak terdengar, kalau ada orang yang melakukan tindakan gak bener atau galau gak kelar-kelar, langsung dapat tuduhan “kurang piknik”. Entah sejak kapan juga kurang piknik menyebabkan berbagai gejala penyakit termasuk kejiwaan. Begitulah piknik di era sekarang, menjadi sangat krusial. Bukan hanya berdampak pada kebahagiaan tetapi juga kesehatan jasmani. Konon yang sering piknik, fisik jarang sakit-sakitan dan wajah berseri berkilauan.

Saya, sebagai masyarakat kekinin, tentu saja mengamini dan  (berusaha) mengikuti faham di atas. Setiap long weekend atau libur anak sekolah, ikut panik mencari tiket, mencari tujuan liburan dan menghitung tabungan. Kalau kurang, ngecek jatah limit kartu kredit, sudah mentok belum. Apa jadinya long weekend tanpa piknik. Bisa garing dan dicap manusia purba nih!

Begitulah piknik demi piknik dijalankan. Walaupun piknik saya mentok-mentok mudik ke kampung halaman. Eh, jangan salah. Liburan di kampung juga termasuk budaya kekinian. Membawa anak liburan ke desa, dekat dengan alam. Main di sawah, nyebur ke kali, liat kunang-kunang jadi cerita yang eksotis, kan. Walaupun kata anak saya sudah biasa liat sawah, kerbau, kunang-kunang. Ya iyalah sejak bayi tiap liburan pasti pulang ke kampung halaman hahaha…

Beberapa minggu lalu, ada tanggal merah berderet, yang artinya long weekend, cuuuy! Waah..harus piknik nih! Gak bisa tidak. Beberapa kali browsing tiket dan hotel, tetapi gak pernah tuntas. Lagi asyik browsing, eh..dipanggil meeting. Browsing lagi, eh..ada deadline kerjaan dadakan. Sampai rumah, niat mau browsing tinggal angan, karena keburu dihajar kantuk dan terkapar kelelahan. Belum lagi urusan jadwal anak. Dia punya banyak rencana sama teman-temannya, yang gak jelas juga mau ngapain dan kapan.

Duh biyung piye iki? Long weekend semakin dekat, sedangkan tiket pesawat dan hotel belum ada yang berhasil di-booking. Masak iya long weekendcengok” di rumah aja. Apa kata dunia? Bagaimana materi postingan social media saya? Sementara di facebook dan path mulai lalu lalang foto tiket, itinerary, hingga hotel dan pantai yang akan dikunjungi. Saya masih kebingungan, gak tau mau kemana.

Dua hari sebelum long weekend, saya ngobrol berdua dengan anak untuk membahas liburan mau kemana. Singapore? Bali? Belitung? Kampung halaman di Salatiga? Tidak ada kesepakatan mau kemana. Hingga kemudian anak saya berkata, “Sekali-kali lah Buk, kita liburan di rumah. Ibuk sibuk, aku sibuk, jadi liburan ini bisa istirahat. Di rumah gak ngapa-ngapain kan enak juga. Nanti kalau bosen kita makan di restoran atau ke mall mana gitu”.

Malam itu, ketika anak sudah terlelap usai ngobrol, saya pun merenung sendirian. Iya ya, kenapa saya merasa “harus” piknik di long weekend. Emang kenapa kalau gak piknik? Apa iya kemudian jadi gak waras atau tiba-tiba jadi manusia purbakala? Saya pun memutuskan untuk mengikuti anak, liburan di rumah saja. Selain ngirit, ini sudah pasti, juga mengistirahatkan badan dan pikiran. Main berdua sama anak, bakal tidur sampai siang atau nonton tv dan baca buku tanpa perlu mandi seharian.

Long weekend pun tiba. Postingan teman-teman “check in di Soekarno Hatta”- “Bismillah memulai roadtrip”- “check in di Gambir” sudah berhamburan sejak subuh. Sempat terbesit rasa iri karena tidak bisa melakukan posting sejenis. Duh, bakal gak ada postingan yang layak tampil nih di social media.

Sesuai dengan obrolan, kami pun liburan dengan goler-goler di rumah. Sore baru jalan ke resto mencari makan. Besoknya lagi ikutan yoga dan lanjut jalan-jalan ke mall sama anak dan ponakan. Masih ada satu hari lagi liburan dan sepenuhnya dihabiskan di rumah tanpa pergi ke mana pun. Benar-benar 3 hari bersantai, cuma pergi ke mall dan lebih banyak diam di rumah.

Ternyata saya baik-baik saja. Hidup saya masih normal, tidak ada gangguan kejiwaan. Malah lebih sehat karena bisa ikutan yoga. Saya pun tetap happy, begitu juga si anak. Gak ada yang kurang, oh..mungkin postingan social media aja sih kurang kekinian. Tapi selebihnya, kami baik, sehat dan gembira. Jadi long weekend harus piknik keluar kota itu mitos sodara-sodara! Dan cash flow saya terselamatkan. Puji syukur.

 

 

 


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan