Refleksi
Posted By ainun

Dari Teroris, Harga Tas Hingga Polisi Ganteng


foto nyomot dari cnnindonesia.com, kenapa foto ini...yagitudeh :)

foto nyomot dari cnnindonesia.com, kenapa foto ini…yagitudeh :)

 

Sejak terjadi ledakan di Thamrin, yang konon pelakunya adalah teroris berlabel ISIS, berbagai komentar dan postingan berhamburan di social media. Ada yang mengaku takut dan cemas, ada yang mengutuk, ada yang mentertawakan dan ada yang naksir aparat keamanan.

Saya menahan diri untuk tidak komen apapun, pertama karena memang tidak punya kapasitas dan kemampuan untuk menelaah, sebenarnya ini harus disikapi bagaimana. Kedua, jangan-jangan komentar saya malah bikin makin runyam. Dan ketiga, siapa juga yang mau baca komentarku, gak bikin terkenal. Hih!

Menjadi pengamat berbagai komentar di social media ternyata menarik. Banyak opini yang seringkali saya pun gak kepikiran. Di awal kejadian ledakan banyak postingan tentang ketakutan dan panik. Karena ledakan terjadi di dekat Istana Merdeka, tempat tinggal Presiden dan simbol negara. Bagaimana wilayah ring satu bisa kebobolan? Tak berapa lama orang saling menginformasikan dan menanyakan posisi teman, kerabat dan saudara apakah sudah aman.

Hanya selang satu atau dua jam, hastag #kamitidaktakut pun muncul dan digunakan banyak netizen. Untuk menunjukkan kepada dunia (social media) bahwa orang Indonesia tidak takut dan tidak (merasa) terteror. Hastag ini tidak berjalan sendiri, karena tetap ada yang meributkan, dan memakai statement “saya takut”. Masak iya gak takut dengan ulah teroris di area terbuka. Bersamaan dengan hastag #kamitidaktakut muncul #prayforJakarta. Ini pun tidak berjalan mulus, banyak yang menentang. Konon kalau bikin hastag #prayforJakarta berarti mengamini kondisi Jakarta mengkhawatirkan, sehingga bisa menimbulkan gejolak perekonomian nasional. Nilai saham dan rupiah bisa anjlok! Wow!

Hastag menjadi keributan anak-anak netizen. Mereka mempunyai argumen masing-masing yang diyakini paling benar. Hastag yang lebih positif dan optimistik pun bermunculan, #JakartaBerani #lawan dan #SafetyCheckJKT  untuk membantu memberikan informasi berbagai wilayah di Jakarta. Ini timbul akibat banyak berita yang gak jelas bahwa ledakan bukan hanya di Sarinah tapi ada juga ditempat lain yang ternyata itu berita hoax (palsu).

Apakah kemudian mereda, dan semua kembali kepada aktivitas masing-masing? Tentu tidak! Munculnya foto tukang sate yang sedang berjualan padahal lokasinya hanya berjarak 100 meter dari ledakan dan baku tembak membuat makin rame perbincangan di online. Kalau sebelumnya meributkan hastag, kali ini lebih meluas, perang tulisan di blog. Awalnya orang pada tertawa dengan foto tukang sate, yang kemudian disusul tukang kopi keliling dan tukang manisan mangga yang jualan di lokasi baku tembak. Betapa beraninya orang Indonesia! Mereka gak takut teroris, mereka lebih takut pulang gak bawa uang.

Gak cuma orang Indonesia, media luar pun menyoroti keberaniannya. Bukan hanya pedagang kaki lima yang tetap berjualan dengan tenang, tetapi masyarakat pun berkerumun di sekitar lokasi tanpa kuatir jadi sasaran atau terkena peluru nyasar. Lah wong polisi aja ngumpet di belakang mobil, mereka malah santai nonton di tempat terbuka. Emang orang Jakarta luar biasa!

Ketakutan di timeline pun seketika berganti dengan postingan penuh canda tawa. berbagai foto dan meme bertebaran tentang berani (nekat)nya orang Indonesia. Saya pun ikut tertawa tentu saja. Bahkan takjub, betapa cepatnya orang-orang pulih dari shock, kemudian tertawa bersama-sama. Manusia memang penuh kejutan.

Kelucuan timeline belum berakhir. Entah siapa yang mulai, kemudian beredar foto-foto polisi dengan aksinya. Publik kembali bersorak gembira dengan aksi para aparat. Banyak yang memuji keberanian sehingga dalam waktu singkat teroris bisa diringkus. Pujian berhamburan bukan soal aksinya saja, tetapi juga penampilan! Hastag yang kemudian muncul adalah #kaminaksir Gambar aksi polisi ganteng, dan gagah berani menumpas teroris dengan cepat menyebar. Tak lupa sepatu dan tas kekinian yang dipakai polisi pun ikut disorot. Gak cuma soal merknya yang dibahas, tetapi juga soal harga! Wuih…ternyata polisi juga sadar fashion. Barang yang dipake bukan brand sembarangan.

Ketika euforia tertawa mereda, muncul postingan yang berbeda lagi. Kali ini menyoroti bahwa keberanian dan kelucuan orang-orang dianggap membahayakan. Karena teroris bisa membuat strategi baru untuk mengubah serangan terornya dengan memanfaatkan kenaifan masyarakat. Beberapa orang menganggap bahwa masyarakat tidak paham dan “aware” atas betapa berbahayanya teroris. Dan ini sungguh menakutkan.

Ditambah lagi dengan Pak Polisi yang tiba-tiba sangat aktif di social media. Menceritakan aktivitasnya termasuk informasi krusial. Follower dan engagement rate-nya naik dengan pesat, karena banyak orang kepo di negeri ini. Bahkan sudah ada yang mengincar untuk menjadikannya buzzer. Astaga kalian para anak digital, gak bisa liat selebtwit nganggur!

Sepertinya perang opini akan terus berkembang, sebanyak isi kepala manusia yang merasa perlu ditumpahkan di social media. Atau sampai ada isu lain yang lebih heboh dan menarik untuk dikomentari. Lalu apa yang kita dapatkan atas hal ini?

Kalau saya, sebagai orang social media strategist, jadi bahan bacaan dan pembelajaran memahami perilaku anak netizen. Hal yang menurut saya perlu disadari adalah, setiap kepala punya cara pandang masing-masing dalam melihat satu kejadian. Bukan soal benar atau salah. Karena yang mayoritas belum tentu benar dan yang dicap sebagai ahli bisa saja salah. Di online semua sederajat. Tinggal siapa yang bisa membuat postingan paling menarik. Social media membuat semua orang bisa menjadi media massa. Tidak ada lagi opini atau pendapat yang diyakini secara massal. Semua akan terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil dan banyak. Walaupun tidak sedikit yang hanya ikut-ikutan saja mana yang rame atau tidak ikut sama sekali.

Begitu juga soal rasa. Rasa seperti: takut, berani, sedih dan lucu itu subyektif. Tidak bisa disamaratakan. Kalau dulu rasa hanya hanya dibicarakan antar teman atau cukup dirasakan dalam hati, Sekarang bisa dituangkan di ruang publik bernama social media. Sehingga semua orang bisa membaca. Dan lagi-lagi ini bukan soal salah dan benar. Jangan salahkan orang yang ketakutan, tetapi juga gak perlu menyalahkan orang yang tertawa. Toh kita tidak pernah tahu persis, apakah yang takut itu sungguh-sungguh takut, atau yang tertawa itu sungguh-sungguh tertawa. Manusia adalah makhluk paling susah dipahami. Gak pernah ada teori tentang (pikiran) manusia yang benar. Semua hanya dugaan dan teori sosial selalu berpijak dari masa lalu.

 


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan