Social Media
Posted By ainun

Twitter, hendak kemana?


unnamed

Saya sedang mencoba ngeblog pakai HP nih. Semoga tulisannya mudah dipahami, karena nulis blog pake HP lumayan susah buat merangkai pikiran jadi kalimat.

Oke, kita mulai saja. Kali ini mau membahas twitter. Gara-gara kemaren ngobrol dengan dua teman berbeda, dan keduanya secara tidak sengaja diskusi soal twitter.

Berawal dari dua pertanyaan dari dua obrolan:

1. Buzzer di twitter masih laku gak sih?

2. Twitter menurun ya, kog kayaknya udah gak rame lagi.

Dua pertanyaan diajukan hanya berdasarkan pengamatan sekilas dua teman yang memperhatikan timeline masing-masing, Dan keduanya bisa jadi sangat berbeda siapa yang difollow. Dua hal tersebut kemudian jadi bahan diskusi. Apakah betul buzzer sudah tidak laku lagi? Bagi yang belum tahu, buzzer adalah orang atau akun twitter yang melakukan sosialisasi sebuah brand/produk/tokoh supaya dikenal bahkan dibicarakan di twitter, bisa dibayar bisa juga gratisan.

Saya tidak punya data kongkrit atas hal itu, tetapi saya akan berbagi cerita berdasarkan pengalaman saya bekerja sebagai social media strategist. Dibanding 1 atau 2 tahun lalu, kebutuhan akan buzzer dikampanye brand memang menurun, terutama untuk buzzer high profile (follower banyak, influencing tinggi, harga mahal). Tetapi tidak hilang sama sekali. Justru muncul buzzer baru dengan harga lebih murah, jumlah follower tidak terlalu banyak (moderate buzzer).

Beberapa brand yang saya pegang seringkali lebih moderate buzzer karena harga lebih murah sehingga bisa menggunakan lebih banyak buzzer. Karena tujuannya adalah menimbulkan “buzz” atau keriuhan di timeline sehingga banyak orang melihat. Dikicaukan oleh banyak orang secara serentak bisa lebih bunyi atau “ngebuzz” daripada sedikit orang dengan follower banyak. Amplifikasi “suara” bisa lebih luas.

Dulu sempat diramalkan oleh beberapa ahli social media, dengan munculnya twitter ads, bisnis buzzer bakal mati. Ternyata tidak. Karena ads di twitter lebih mirip iklan baris atau running text, dampak ke pembacanya lebih rendah daripada membaca twit dari buzzer. Karena secara nature, kita lebih mudah dipengaruhi oleh manusia apalagi kalau kita mengenalnya. Twitter ads lebih untuk awarness atau mengenalkan/mengumumkan kepada khalayak lama tanpa interaksi. Buzzer lebih untuk mempengaruhi, mengedukasi atau mengajak. Salah satu hukum marketing berbunyi, keputusan orang untuk membeli sebuah produk/jasa karena referensi teman dan saudara. Begitulah fungsi buzzer di online.

Walaupun beberapa orang tidak suka dengan aktivitas buzzer, tetapi masih banyak juga yang membaca dan terpengaruh. Jadi fungsi buzzer sampai saat ini masih dibutuhkan, apalagi kita bisa bertanya dan dijawab langsung sehingga lebih interaktif.

Lalu apakah twitter memang benar-benar menurun? Hasil pengamatan seorang teman, dulu selebtwit bisa di RT (retwit) ribuan kali dalam hitungan kurang dari setengah jam, bahkan saya pernah mengalami gara-gara di RT salah satu seleb twitter saya dihujani mention sampai 3 hari. Sekarang satu twit dari seleb hanya di RT ratusan bahkan kurang. Apakah memang twitter mulai ditinggalkan?

Menurut saya, twitter bukan ditinggalkan, tetapi kembali ke selera asal eh fungsi awal sebagai tool amplifikasi, atau saya menyebutnya toa, yaitu penyebar information secara luas ke berbagai lini. Saya ingat, dulu awal membuat twitter adalah untuk menyebarkan isi blog, baik blog sendiri maupun teman. Beberapa teman blogger termasuk saya, nama akun twitter nya adalah nama blog. Twitter menjalankan fungsi toa yaitu menyebarkan suara supaya didengar banyak orang.

Tapi dasar kita doyan ngobrol, apapun platform social media sepanjang bisa interaksi maka digunakan untuk ngobrol bahkan janjian juga bercandaan. Melihat twitter seperti sekumpulan orang di cafe ngobrol saut-sautan dan saling ngomong tumpang tindih, berganti topik sesuka hati kemudian tertawa bersama. Pemandangan seperti itu mulai tidak nampak di timeline, bahkan saya beberapa kali membaca twit teman yang menuliskan: “kangen twitter yang dulu bisa ngobrol dan bercandaan. Sekarang terlalu serius dan membosankan.”

Jadi apakah twitter menurun penggunanya? Bukan menurun penggunanya tetapi menurun interaksinya. RT dan reply mulai jarang digunakan. Orang lebih banyak hanya membaca timeline. Bagaimana pun juga kabar tercepat bisa diperoleh di twitter. Hampir semua media online menyebarkan berita via twitter, jadi pembaca bisa memilih mau membaca artikel mana yang disukai tanpa harus mencari di portalnya. Kalau menarik beritanya di klik link-nya, kalau gak menarik lewatin aja. Begitu juga info yang lain, soal issue politik terkini, brand apa yang lagi dibicarakan, produk baru apa yang seru, gossip artis yang lagi hot atau film yang banyak dinyinyirin, semua bisa dibaca di twitter.

Jadi apakah twitter akan mati? Selama kita masih butuh “toa” untuk informasi apapun dan belum ada platform pengganti yang lebih menarik sepertinya twitter masih bertahan dan para buzzer tetap dibutuhkan untuk menjadi ambassador online atau endorser yang membicarakan brand kita.

Ohya tren satu tahun terakhir ini, mulai banyak lagi yang mencari blogger daripada buzzer. Kebanyakan blogger juga buzzer, karena mereka lah para pembuat konten sehingga eksis di timeline dan biasanya punya follower signifikan. Satu kali “tepuk” dapat blogger sekaligus buzzer. Apalagi blogger kontennya bisa lebih panjang, bisa dinaikkan berulang-ulang di timeline jika dibutuhkan. Tinggal posting link sebar di semua kanal social media deh!

Sekarang anak online pada ngobrol di mana? Semakin banyak pilihan platform, interaksinya pun mudah berpindah, tinggal mana yang lagi hits. Untuk ngobrol, platform chatting online memang paling mendominasi seperti line, whatsapp dan telegram. Saat ini path jadi social media paling interaktif karena lebih personal. Beberapa ada yang kembali ke Facebook, karena Facebook terus bebenah untuk menarik kembali massa-nya dan banyak fitur baru disediakan.

Tapi hukum timeline ku timeline ku, timeline mu timeline mu tetap berlaku. Jadi, apa cerita yang ada di timeline mu?


A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

View Comments

Tinggalkan Balasan