Guyub

Guyub

guyub 1

Guyub itu istilah Jawa yang sudah sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Arti dari kata guyub, walaupun menurutku tidak tepat benar, adalah:

rukun, berkelompok, berkumpul

Aku lahir dari keluarga besar. Ibuku 10 bersaudara dan aku sendiri 6 bersaudara. Masing-masing dari kami sudah beranak-pinak dan menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Simbahku (ibu dari ibu) hingga hari ini masih sehat dan menjadi kekuatan pemersatu. Setiap lebaran, semua anak dari Simbah beserta mantu, cucu, cicit hadir di rumahnya. Paling yang absen cuma satu dua. Kebayang kan seperti apa penuhnya rumah Simbah. Dapur pun bakal sibuk seperti hajatan. Bagaimana tidak, setiap hari memasak untuk kurang lebih 100 manusia.

Begitu juga keluargaku sendiri yang satu ayah ibu. Aku menyebutnya keluarga Chomsun (nama almarhum Bapak). Ibu sudah menjanda cukup lama dengan 6 orang anak yang sudah berkembang menjadi  23 orang terdiri dari anak – mantu – cucu. Bukan hanya lebaran, dalam setahun 2 sampai 3 kali kami berkumpul. Kalau gak di Salatiga (rumah Ibu) di Jakarta (rumah kakak tertua). Kebiasaan yang dibangun Simbah menular pada keluarga kami. Rasanya ada yang kurang jika kami tidak berkumpul cukup lama.

Anakku, sebagai generasi cucu di keluarga Chomsun mulai terbiasa dengan kebiasaan kumpul keluarga. Dari bayi, dia selalu aku bawa bertemu saudara-saudaranya. Sekarang dia sudah akrab dengan sepupu, om, tante, pakde, bude. Bahkan di Jakarta pun, secara rutin aku dan anakku berkunjung ke rumah saudara. Hampir setiap minggu, anakku datang dan menginap di rumah pakde budenya. Dan setahun bisa 3 sampai 4 kali mudik ke rumah Eyangnya di Salatiga.

Kenapa rutinitas ini aku bangun?

Sekarang jaman serba teknologi, di mana kita bisa saling terhubung tanpa perlu bertemu secara langsung. Tinggal klik HP di tangan kita bisa “bertemu” dan “bersapa” tanpa batasan. Baik saudara jauh maupun dekat. Tetapi namanya teknologi, interaksi nya pun tidak menghadirkan rasa yang kuat. Sehingga ikatan yang timbul pun nyaris tidak ada. Anakku lahir ceprot sudah melihat berbagai gadget canggih dan dengan mudah dia beradaptasi dengan teknologi. Kemampuan belajar menggunakannya sangat baik dan cepat, karena anak-anak memang pembelajar yang canggih. Dia bisa bertegur sapa dan berbagi cerita dengan saudaranya di mana pun. Tetapi ikatan teknologi tidak sekuat seperti ikatan dalam pertemuan langsung.

Kembali ke istilah guyub, anak aku biasakan merasakan guyub bersama keluarga. Interaksi yang dekat, tanpa batas sehingga bisa mengenal satu dengan yang lain. Sesekali berantem, musuhan, tapi gak berapa lama baikan lagi. Ikatan persaudaraan dibangun dengan pertemuan yang rutin. Tanpa pertemuan, keluarga hanya sekedar pengetahuan bahwa iya dia saudara saya, lalu kenapa? Dengan berkumpul, walaupun cuma duduk ngobrol makan di rumah pakde, karena rutin lama-lama anak terbiasa dan menjadikannya kebutuhan. Kadangkala memang bosan hanya kumpul-kumpul gak jelas makanya sesekali kami ke mall, piknik bersama ke Bali atau ke kota lain yang menarik. Bisa juga sekedar check in di salah satu hotel di tengah kota, berenang dan nonton tv, yang penting berkumpul. Diantara kesibukan kami masing-masing, pertemuan keluarga selalu diusahakan. Kalau cuma menunggu waktu luang, pasti tidak akan terjadi.

Persaudaraan harus dibangun dengan pertemuan rutin. Kebersamaan harus menjadi ritual supaya anak terbiasa dan memiliki ikatan dengan keluarganya. Anak pun tahu bagaimana rasayanya guyub. Dari situ, anak belajar tentang bagaimana bersosialisasi, menjaga hubungan keluarga dan mengingatkan akan pentingnya persaudaraan. Ketika sesuatu hal terjadi, kita bisa saling mendukung dan mengasah empati. Hal itu bisa jadi modal ketika dia berteman dan bergaul. Kalau teman adalah saudara yang kita pilih berdasarkan kemauan sendiri, maka saudara sudah hadir karena pertalian darah yang harus dijaga silaturrahim-nya.

Kelak ketika anak saya tumbuh dewasa, dan mungkin terbang jauh meninggalkan keluarga, dia tetap memiliki ikatan kuat dengan saudaranya. Menjaga hubungan baik dan saling mendukung. Keluarga menjadi bagian penting dalam hidupnya. Bukan untuk membelenggu, tetapi memberikan ikatan batin tempat dia kembali dan menemukan dirinya.

One Response

  1. oktavia permatasari
    26 April 2015

Tinggalkan Balasan