Sibuk, apa itu sibuk?

Sibuk, apa itu sibuk?

Dalam beberapa hari ini saya bertemu dengan beberapa orang dan menyebut kata sibuk dalam berbagai angle. Saya pun kemudian merenung. Dalam setiap interview atau diskusi, pertanyaan yang sering muncul untuk saya juga perkara sibuk, yaitu bagaimana membagi waktu diantara mengurus anak dan rumah, mencari nafkah, mengelola Akademi Berbagi, dan bersosialisasi dengan teman padahal Jakarta secara perjalanan dan waktu tidak ramah. Kalau jawaban untuk pencitraan adalah saya harus pintar-pintar membagi waktu dan bekerja secara smart. Kalau jawaban jujurnya apa? Saya jalani aja, semampu saya dan ternyata bisa kog. Mengikuti aja irama aktivitas, kalau ada yang lebih urgent dan penting  dikerjakan duluan, kalau ada yang bisa nanti ya nanti saja, atau kalau gak bisa dikerjakan ya sudah. Menjalani sepenuh hati tanpa mikir soal alokasi waktu dan kata sibuk.

Toh sampai hari ini semua masih bisa berjalan, walau ada bagian yang kedodoran atau saya jatuh sakit kecapekan tetapi semua masih bisa dikerjakan. Sakit adalah cara saya melihat bahwa harus berhenti sejenak. Hingga hari ini aktivitas saya masih seperti itu. Kadangkala saya menghindari beberapa kegiatan yang saya rasa gak perlu, kadangkala saya bela-belain walaupun sekedar nongkrong bersama sahabat karena itu penting untuk kesehatan jiwa.

Kemaren waktu di acara Local Leaders Meeting, yaitu pertemuan para koordinator (Kepsek) Akademi Berbagi dari kota-kota di seluruh Indonesia, jawaban atas pertanyaan kenapa relawan tidak aktif sebagian besar menjawab sibuk. Saya langsung speechless, gak bisa ngomong. Kalau udah dijawab sibuk itu langsung merasa terkunci. La wong sibuk, mau gimana lagi. Kadang saya penasaran se-sibuk apa sih mereka? Jalanan macet gak? Butuh waktu 2 jam untuk menuju lokasi pekerjaan gak? Punya anak dan harus cari nafkah gak? Ngurus Akademi Berbagi se-Indonesia gak? Bekerja di agency dengan deadline mencekik gak? Pertanyaan yang hanya berputar di kepala karena saya gak boleh menuduh.

Saya berusaha memaklumi kesibukan para relawan, karena toh saya tidak di posisi mereka. Tetapi kemudian permakluman saya mendapat perlawanan ketika saya bertemu 2 sahabat A dan G. A ini sama seperti saya, single parent dengan anak satu, memimpin sebuah agency iklan dengan 3 posisi sekaligus, mengelola bisnis rumah peristirahatan di kota lain, menjadi tulang punggung beberapa keluarga, bukan cuma keluarganya sendiri, mengawasi adik-adiknya dari pergaulan Jakarta yang mengkhawatirkan, bersosialisasi dengan teman dan sekarang masih ditambah harus les setiap weekend karena persiapan dia untuk tinggal di negara lain. Saya bengong se-bengong-bengongnya ketika mendengarkan aktivitas dan tanggungjawabnya. Kog bisa? Dan masih bisa nongkrong dan ngobrol sama teman-teman seperti saya dengan wajahnya tetap ceria.

Lain lagi dengan teman saya G. Dia menuliskan status path begini : “Masih percaya dengan mereka yang berkata sibuk? Coba deh cek sibuk nya ngapain? Jangan-jangan kultwit yang membuat dia sibuk.” Saya pun ngobrol bersamanya, dan membahas soal kata sibuk. Sebenarnya sibuk itu apa? Manusia diberi waktu sama 24 jam, tetapi kenapa yang sini bisa mengerjakan banyak hal bahkan punya karya hebat di berbagai tempat, yang sana selalu wara-wiri di timeline bikin kultwit ratusan setiap dikontak bilangnya sibuk.  Seorang teman belakangan ini menjadi sangat sibuk dan susah ditemui, bahkan kalau di whatsapp delay nya bisa 2 hari. Ketika saya tanya persisnya ngapain, wong dia sudah tidak kerja lagi, ternyata sibuknya adalah : antar jemput anak, arisan, salsa, kumpul geng A, jalan-jalan keluar kota dengan geng B, ikut seminar di sana-sini, belanja dan mencoba tempat gaul baru. Oke memang sibuk sih.

Pada akhirnya sibuk bukan lagi sebuah kata tunggal, harus ada penjelasan di belakangnya. Sibuk ngapain? Sibuk  juga bisa jadi kata untuk menghindar dari tanggung jawab atau kegiatan yang tidak disukai. Saya ingat dalam pelajaran NLP, orang malas itu karena triger/pemicu untuk melakukan sesuatunya tidak ada. Jadi kemauan pada hal tertentu hilang. Bisa karena ada kesenangan lain atau kehilangan semangat atau pemicu atas sesuatu. Hingga hari ini saya masih bisa kerjakan semua aktivitas pekerjaan tanpa lupa untuk bersenang-senang. Bahkan saya masih bisa memilih untuk seharian diam di rumah gak kemana-mana misalnya. Saya masih bisa jalan ke mall dengan anak atau nongkrong sama sahabat. Hidup saya baik-baik saja kok. Apakah saya merasa sibuk? Kadangkala iya tapi kadangkala tidak.

Apa mungkin karena saya sudah cukup tua sehingga lebih bisa mengatur waktu dan prioritas? Apa kalau anak muda karena semangatnya masih tinggi untuk ikut sana-sini jadi kurang pintar mengatur waktu sehingga kedodoran? Lagi-lagi ini dipatahkan dengan pertemuan saya dengan sekumpulan anak muda. Mereka aktif di kampus, punya kegiatan yang basisnya nasional, bahkan menjadi juru bicara di level PBB, dan masih bisa bergaul dengan teman-teman. Jangan salah, kuliah mereka bisa diselesaikan dengan cepat dan nilai bagus, bahkan mendapat beasiswa di universitas ternama di luar negeri. Itu pun dia selesaikan dengan cepat dan langsung membangun bisnis sendiri dengan tetap mengelola organisasi sosial yang tersebar di berbagai kota. Mukanya tetap ceria dan kalau bertemu masih suka ngomong, “ayo mbak mau bikin apalagi kita bantu.” Buset anak-anak ini gak ada matinya.

Masih mau berdalih sibuk? Itu soal pilihan saja kog. Obama waktunya sama 24 jam tapi dia bisa mengurus negaranya bahkan negara lain saking selow nya. Sibuk bisa jadi alasan, tapi sibuk juga bisa jadi penghambat kemajuan. Jatah waktu tidak pernah ada perubahan, tetap 24 jam tinggal kita mau menggunakan untuk apa. Jangan sampai menyesal ketika umur sudah tua dan gak punya karya apa-apa. Waktu tidak pernah bisa dibeli dengan harga berapa pun dan usaha bagaimana pun. Waktu bisa menjadikan kita manusia berguna atau sebaliknya.

Selamat pagi!

4 Responses

  1. Dewi
    17 Maret 2015
  2. nunik99
    17 Maret 2015
  3. jefry
    24 Maret 2015
    • ainun
      24 Maret 2015

Tinggalkan Balasan