bukan sekedar (mencari) UANG

Handry Satriago. Photo by Ted Kho

Handry Satriago – CEO GE. Photo by Ted Kho

Dalam dunia kerja, mungkin ini era di mana perubahan cukup signifikan. Gelombang anak muda untuk menjadi entrepreneur dan freelancer semakin besar. Dunia online yang berkembang pesat, membuat beberapa kantor memberi kebebasan kepada karyawannya untuk bekerja di mana saja sepanjang bisa terkoneksi dengan internet. Mereka hanya bertemu untuk meeting, pitching, tender dan hal lain yang memang hanya bisa diselesaikan secara tatap muka.

Perubahan pola komunikasi bisnis memberikan perubahan tanggung jawab juga. Keleluasaan bekerja secara waktu, di mana tidak terikat office hour baik untuk entrepreneur, freelancer maupun remote working sesungguhnya memberikan tambahan tanggung jawab. Yaitu kita harus pintar dan disiplin mengatur waktu, memilih pekerjaan mana yang urgent – penting, urgent – gak penting, gak urgent – penting, dan gak urgent – gak penting. Kemampuan untuk memilah sangat diperlukan dan itu perlu kebijaksanaan dan wawasan yang cukup.

Entrepreneur. Untuk berkarir sebagai entrepreneur membutuhkan kemampuan dan ketekunan. Bukan berarti karena usaha sendiri, suka-suka mengatur waktunya. Justru pengalaman saya bergaul dengan pengusaha sukses, mereka hampir gak punya waktu untuk diri sendiri, apalagi di awal membangun bisnisnya. Jika memulai bisnis di usia muda, maka godaan terbesarnya adalah keinginan untuk bersenang-senang, mudah bosan dan suka mencoba hal baru. Kemampuan untuk fokus dan tekun pada bidangnya menjadi sangat penting. Sering kita dengar pengusaha muda yang gagal sedikit langsung menyerah, mencoba banyak hal baru tanpa merasa harus menyelesaikan dengan baik. Atau ketika bisa mencicipi uang hasil bisnisnya, kemudian mudah puas dan merasa berhak untuk “menghamburkan“. Ketika ada goncangan dalam bisnisnya, cashflow pun berantakan.

Freelancer. Tidak berbeda jauh dengan entrepreneur, menjadi freelancer dibutuhkan disiplin dan kemampuan untuk bekerja tanpa diawasi dan menghasilkan karya terbaik. Disiplin dalam membagi waktu dan memenuhi deadline menjadi kunci utama. Seringkali anak baru lulus langsung ingin menjadi freelancer karena banyak yang membutuhkan skill-nya, tanpa memahami bagaimana bekerja dalam “team work” dan bertanggung jawab pada atasan serta organisasi. Hal ini mengakibatkan kemampuan untuk men-deliver pekerjaan menjadi lemah. Untuk menjadi freelancer butuh jam terbang yang mumpuni supaya kita “didengar” dan bisa “menjual“. Persaingan yang semakin ketat membuat kita perlu terus menerus mengasah kemampuan diri. Jika di kantor ada training atau workshop, sebagai freelancer kita harus membayar sendiri biaya training yang dibutuhkan.

Dari berbagai pilihan jalan untuk membangun karir atau pun usaha, bekerja di sebuah institusi atau perusahaan adalah salah satu cara yang tepat untuk mengasah ketrampilan dan membekali diri. Kenapa harus bekerja? Karena di situ kita belajar bagaimana bekerja dalam sebuah tim, memahami bagaimana delivery pekerjaan, menjaga hubungan dengan atasan, bawahan dan teman sejawat serta yang pasti mengasah skill secara langsung. Bekal yang sangat penting untuk membangun bisnis maupun bekerja sebagai freelancer supaya bisa berjalan lancar dan berumur panjang.

Kecepatan dan kemudahaan berkomunikasi, mengakibatkan kita pun mudah berpindah perhatian bahkan pekerjaan. Jaman sekarang bekerja satu tahun sudah dianggap lama.Kalau memang satu tahun sudah cukup paham alur bisnis dan kemampuan silakan saja untuk kemudian keluar dan berpindah kantor. Tetapi membangun jejak itu penting. Paham kedalaman suatu bidang sehingga kita makin mumpuni menjadi bekal untuk karir atau bisnis selanjutnya. Kalau hanya tahu permukaan saja, 5 sampai 10 tahun lagi kita hanya di situ-situ saja. Seorang pemimpin ditempa oleh pengalaman dan pemahaman kedalaman sehingga ketika berdiri di puncak dia tahu bagaimana menjalankan usaha dengan benar.

Track record. Bekerja di mana pun bukan sekedar mendapatkan gaji besar. Bekerja adalah aktualisasi diri untuk memberikan karya terbaik, soal uang akan mengikuti. Tanggung jawab dan komitmen akan diuji dalam dunia kerja. Bagaimana kita mengerjakan pekerjaan supaya bisa menghasilkan yang terbaik, proses bisnis bisa berjalan lancar dan menjaga hubungan dengan semua pihak adalah investasi untuk diri sendiri bukan untuk perusahaan. Rekam jejak kita akan berbicara lantang mengalahkan CV yang kita sebar di Linkedin. Ketika bekerja, sejujurnya kita membangun kemampuan dan reputasi diri, lepas dari perusahaan atau bos nya menyebalkan, jejak karir adalah milik kita, dan kita yang bisa menentukan akan seperti apa.

Networking. Dalam bekerja selain mengasah skill dan kemampuan bekerja dalam team work, adalah membangun networking. Kita pasti berhubungan dengan banyak orang, baik itu bos, teman sejawat, OB, klien maupun vendor. Kelak networking ini akan banyak membantu di mana pun kita berada. Karena kita tidak pernah tahu, nanti akan bekerjasama dengan siapa dan membutuhkan apa. Networking di era informasi memiliki peranan sigifikan. Mempunyai hubungan baik dengan banyak orang akan sangat membantu. Networking harus dibangun, diperihara dan dijaga. Bukan hanya saat membutuhkan saja.

Cerita yang akhir-akhir ini sering terdengar adalah tentang karyawan baru 3 bulan keluar karena bosan atau berantem dengan atasan, karyawan diam-diam bekerja di kantor lain mentang-mentang di kantornya bisa kerja dari mana saja, atau mereka yang seenaknya memperlakukan vendor atau teman sejawat karena merasa dibutuhkan. Masih banyak cerita lain tentang rendahnya menjaga komitmen dan reputasi. Reputasi bukan dibangun dengan cerita indah di social media, tetapi dengan jejak karya kita. Jangan lupa, semakin tinggi posisi maka rekomendasi dari orang yang pernah bekerjasama semakin penting. Yang hanya mengandalkan pencitraan akan mudah hancur karena social media dan networking.

Persaingan semakin ketat. Orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam serta rekam jejak bagus akan memenangkan pertarungan baik sebagai karyawan, entreprenuer maupun freelancer. Mumpung masih ada waktu, mari membuat rekam jejak dan membangun keahlian dengan benar. Kelak kita akan menuai hasilnya. Karena di jaman apapun ketangguhan dan ketekunan selalu memenangkan pertempuran.

 

Bangun ceritamu dengan kerja, biarkan karyamu yang bicara.

3 Responses

  1. widwidodo
    29 Oktober 2014
    • ainun
      29 Oktober 2014
  2. Andriansah
    29 Oktober 2014

Tinggalkan Balasan