Lebar – an

Bani Chomsun

Bani Chomsun

Udah lebih dari seminggu Lebaran berlalu, tetapi aku ingin menuliskan keseruan  lebaranku bersama keluarga.

Sudah menjadi rutinitas bahkan aturan tidak tertulis yang wajib ditaati: setiap lebaran anak cucu pulang ke kampung halaman. Ibu dan Simbahku tinggal di Salatiga, sehingga Salatiga menjadi tempat tujuan kami mudik. Ibuku memiliki 6 orang anak dan 12 cucu plus 5 orang menantu, dan lebaran kali ini semua pulang tumplek blek di satu rumah. Ramai pastinya!

Ritual lebaran selain makanan adalah sholat Ied di masjid Simbah, lanjut sungkeman di rumah Simbah kemudian tahlilan di makam. Sungkeman di mulai dari Simbah kemudian anak pertama bersama pasangannya terus berjejer sampai cucu dan cicit. Kebayang panjangnya antrian sungkeman sambil jalan jongkok. Setiap tahun hari pertama lebaran jadwalnya selalu begitu tidak pernah berubah. Baru di lebaran kedua dan ketiga ada pertemuan keluarga dari pihak Simbah putri dan Simbah Kakung. Di acara tersebut sudah banyak yang gak kenal karena saking besarnya keluarga, anak turunnya simbahnya Simbah. Tetapi kami tetap rajin datang, karena seperti sudah menjadi kewajiban tidak tertulis.

Karena bapakku dari Mojokerto, kami sekeluarga menyempatkan diri juga mudik ke kampung halaman Bapak di desa Kupang Jetis Mojokerto. Walaupun kakek nenek semua sudah almarhum, tetapi masih ada satu bulik, adik kandung Bapakku. Tinggal beliau satu-satunya yang masih hidup dan tinggal di sana. Tidak selalu setiap lebaran kami datang. Terakhir 2 tahun lalu. Lebaran kedua, usai pertemuan keluarga, malam hari dengan mengendarai 3 mobil kami berangkat ke Mojokerto. Biasanya jarak tempuh sekitar 5-6 jam, tapi negeri ini semakin makmur banyak yang memiliki mobil tetapi jalan tidak bertambah. Alhasil jarak tempuh mudik kami kali ini 10 jam!

Setiap mudik ke kampung halaman Bapakku, selalu ada 2 tujuan utama, desa Kupang Mojokerto tempat tinggal orangtua kandung Bapak dan desa Krian Sidoarjo tempat tinggal kakek nenek angkat yang menyekolahkan Bapak. Dulu keluarga Bapak miskin banget, beliau pindah-pindah pengasuhan hingga akhirnya di Mbah Krian yang menyekolahkan Bapak hingga sarjana.

Sampai Mojokerto sudah jam 7 pagi, dan kami langsung sarapan dengan menu andalan jika kami datang: tempe penyet. Dulu simbahku selalu membuatkan tempe penyet dengan resepnya: pake kacang tanah disangrai, tempenya dikukus, pake gorengan ikan asin yang diulek bareng cabe, terasi, garam dan kacang sangrai. Rasa sambelnya jadi krenyes-krenyes sedep. Apalagi bikinnya selalu di cobek dari tanah liat yang lebar dengan ulekan dari kayu. Dapurnya masih menggunakan tanah liat dan kayu bakar. Makin sedep aja. Sekarang tradisi itu dilanjutkan oleh bulikku, walau tidak sesedap simbah putri yang bikin, karena dapurnya sudah modern tetapi tetap enak. Setelah silaturrahim, ngobrol-ngobrol dan berkunjung ke beberapa saudara di sekitarnya, usai dhuhur kami melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo.

Semenjak Simbah di Krian sudah meninggal rumah itu kosong, anak satu-satunya yaitu saudara angkat Bapakku pindah di Sidoarjo kota. Jadinya kami pun berkunjung ke sana. Dulu kalau di Krian kami selalu disediakan tahu goreng gede kopong tengahnya dimakan dengan petis dan sambel kecap rawit, uenak banget. Belinya langsung dari pabrik di belakang rumah Simbah jadi masih anget kepul-kepul. Sayang sekarang tidak ada yang di situ, menu yang tetap ada rujak cingur atau rawon. Dan konon katanya semakin sedikit pabrik tahu di Krian yang masih eksis. Duh jadi kebayang-bayang tahu petisnya.

Malamnya, kami langsung kembali lagi ke Salatiga dengan seluruh rombongan. Dan kembali dihadang macet. Apa gak capek? Capek banget! Tapi kegembiraan bisa jalan bareng-bareng sama keluarga bertemu banyak sanak saudara membuat kami tidak pernah kapok.

Sampai hari ini Simbah (Ibu dari Ibuku) yang menjadi sumbu bagi semua anak cucu mantu untuk selalu mudik. Beberapa kali terlintas di kepala jika Simbah tidak ada, apakah semua anak mantu cucu tetap berbondong-bondong pulang ke Salatiga? Entahlah, waktu bisa mengubah banyak hal. Khusus untuk anak-anak ibuku, kami selalu berkumpul di luar acara lebaran, sehingga kami tetap dekat satu dengan yang lain. Walaupun hubungan kami tidak selalu harmonis, pasti ada perselisihan dan salah paham tetapi ikatan batin yang di bangun bapak ibuku dengan semua anaknya sangat kuat sehingga kami selalu bersatu dan saling menjaga sampai sekarang ketika kami masing-masing sudah berkeluarga.

Lebaran selalu menyatukan, dan lebar (buyar) semua rasa marah, benci, dan dendam diganti dengan lautan maaf. Untuk keluarga, semoga selalu ada segudang stock maaf karena kami lahir dari rahim yang sama. Doa ku semoga  kami selalu menyatu dalam sebuah keluarga yang selalu menjaga silaturrahim tanpa perlu lebar (buyar).

 

 

 

1

4 Responses

  1. rendra
    8 Agustus 2014
    • ainun
      8 Agustus 2014
  2. pinkina
    8 Agustus 2014
    • ainun
      8 Agustus 2014

Tinggalkan Balasan