berPolitik di Social Media

Slide1

Social media membuat semua sangat terbuka dan dengan mudah menyebarkan informasi hanya dengan satu klik jari. Social media bukan hanya sekedar alat tetapi menjadi sebuah perilaku baru yang harus dihadapi dengan cerdas! Menjelang pemilihan Presiden Social media baik twitter maupun Facebook terasa semakin “panas“. Perseteruan antar teman dan saudara tidak terelekkan lagi. Semua berlomba-lomba “menjual” calon pilihannya bahkan kadangkala dengan menginjak calon lainnya. Fitnah pun bertebaran, tanpa sedikit pun kita merasa bersalah karena ikut menyebarkan.

Beberapa orang pun sudah mengeluh dengan keadaan ini dan berharap pemilihan Capres segera berlalu. No more drama. Eh..tunggu dulu, benarkah ini drama? Pemilihan Presiden suka tidak suka adalah peristiwa penting yang sesungguhnya menentukan hajat hidup kita. Sederhananya begini : mereka yang terpilih nanti ikut menentukan nasib pendidikan anak-anak kita, mereka yang terpilih bisa mempengaruhi keadaan apakah kita bisa aman dan nyaman belajar dan bekerja. Ketidakpedulian kita seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang opportunis yang tidak peduli dengan kehidupan warga negara ini. Masih mau tidak peduli? Ini bukan drama, ini penentu hidup kita semua.

Karena sekarang era piranti pintar maka manusianya juga harus lebih pintar. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan bagaimana kita berlaku di facebook maupun twitter terutama yang terkait dengan kampanye politik.

1. Jangan langsung percaya apa yang tertulis baik di Facebook ataupun twitter, walaupun yang menulis orang yang kita kenal atau tokoh. Cek ricek telusuri kebenarannya sebelum meyakini.

2. Baca, baca, baca dulu dengan baik. Jangan buru-buru komen atau langsung menyebarkan tanpa memahami isi. Ingat judul berita selalu dibuat provokatif supaya kita reaktif dan segera menyebarkan.

3. Jangan langsung percaya pada sebuah gambar atau nama tokoh yang membuat statement, teknologi membuat semua bisa diedit secara sempurna sehingga tampak nyata. Sangat mudah menyatut nama orang di era social media.

4. Kalau gak yakin dengan isi apalagi bernada provokasi jangan di share atau RT. Hati-hati kita bisa ikut menyebarkan fitnah.

5. Konten yang ada ayat-ayat suci dari kitab agama apapun belum tentu benar. Agama yang paling mudah “dijual” untuk kepentingan politik

6. Kalau memang kita tahu konten itu salah, luruskan dengan cara yang baik disertai data yang cukup. Gak usah marah-marah, karena emosi di social media tidak pernah menyelesaikan masalah justru jadi tontonan orang seluruh dunia.

7. Jangan terpancing dengan kata-kata kotor, makian, dan hal-hal yang provokatif. Di social media emosi mudah tersulut dan itu sebenarnya yang mereka inginkan biar terjadi keributan. Sengaja memancing perseturuan, dan menjadi pusat perhatian. Ingat jejak kita di online akan terekam selamanya. Malu ih dilihat orang banyak, apalagi oleh anak-anak kita kelak.

8. Apa yang tertulis di social media dibaca seluruh dunia, malu kan kalau negara kita selalu ditulis dengan hal-hal buruk. Tanpa sadar kita ikut menjelekkan negeri kita sendiri.

9. Fitnah lebih mudah dilakukan di social media, tinggal catut nama, foto, edit seakan itu benar adanya. Jangan kita ikut-ikutan menjadi penyebar fitnah.

10. Jaga pikiran, jaga mulut dan sekarang ditambah jaga jempol!

11. Ingat: jarak jempol ke keypad lebih dekat daripada jarak otak ke keypad! Suka pada lupa ketika klik gak pake mikir.

12. Apa yang kita tulis, kita share, kita RT akan menjadi cermin jejak digital kita, jaga rekam jejak digital kita dengan baik.

13. Jangan mengorbankan pertemanan dan persaudaraan, karena kita semua orang Indonesia yang sama-sama ingin negeri ini baik.

 

Akhirnya, selamat berkampanye dan membela calonnya dengan cerdas. Dalam sejarah tidak ada kampanye negatif akan menghasilkan dampak positif. Hukum matematika tetap berjalan. Penuhi dengan hal-hal positif sebanyak-banyaknya.

 

Salam,

Ainun Chomsun

*tulisan ini juga diposting di https://www.facebook.com/notes/ainun-chomsun/pasar-politik-hati-hati-dengan-jarimu/10152838604196679

2 Responses

  1. dayanti
    8 Juli 2014

Tinggalkan Balasan