Dear Pandji

Dear Pandji,

surat ini secara khusus aku tujukan kepada Pandji Pragiwaksono. Iya @pandji yang jadi panutan anak muda. Siapa sih anak muda yang tidak kenal @pandji ? Waktu itu aku liat, @pandji datang ke Pekanbaru mengisi acara komunitas di sana yaitu @pekanwak. Mereka gembira banget akhirnya bisa bertemu langsung dengan sang idola. Aku harap mereka bukan hanya ingin foto bareng, tetapi juga mau melakukan sesuatu untuk kotanya, seperti yang selalu kamu serukan ” Berani Mengubah.”

Dear Pandji,

Sepertinya mereka terinspirasi dirimu, sehingga hari ini ketika Pekanbaru dihajar asap berkepanjangan, mereka bergerak melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kotanya. Di media, Gubernur nya sudah menyerahkan urusan asap ini kepada Tuhan, padahal ketika membakar hutan untuk lahan sawit, jangan-jangan lupa permisi sama Tuhan. Pemerintah yang punya kekuasaan, dan dibayar oleh pajak rakyatnya berkewajiban untuk melindungi warganya, justru sudah pasrah kepada Tuhan. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang tiap hari harus menghirup asap beracun? Sudah berapa korban berjatuhan menunggu Tuhan turun tangan menyelesaikan “kenakalan” manusia?

 

Dear Pandji,

aku tahu banyak anak muda yang mengikutimu. Kalau sekarang aku minta bantuanmu, apakah berkenan? Bantu suara-suara kecil di Pekanbaru agar menggema di social media. Dukung gerakan perubahan yang mereka lakukan, untuk mendapatkan hak yang paling dasar sebagai umat manusia : udara yang sehat. Aku tau pengikutmu banyak, siapa tahu karena ajakanmu mereka juga mau dan tergerak untuk membantu menyuarakan bencana yang sedang terjadi di Riau. Ini bukan soal Pekanbaru atau Sumatera, ini soal manusia yang terancam nyawanya karena harus menghirup asap yang berbahaya. Aku menyaksikan sendiri teman-teman dari Pekanbaru ketika mereka datang di acara workshop nasional Akademi Berbagi di Salatiga dengan susah payah. Ketidakjelasan waktu diterbangkan pesawatnya membuat mereka berjam-jam duduk di bandara dengan harap-harap cemas akankah mereka sampai di lokasi? Begitu juga ketika kembali. Lagi-lagi mereka harus menunggu di bandara dengan segala ketidakpastiannya, akankah mereka bisa pulang ke rumahnya. Bahkan hari ini yang aku dengar, bandara ditutup selama 3 hari. Mereka tidak bisa kemana-mana lagi. Harus menerima kotanya berasap, tanpa bisa meminta bantuan dari pemerintahnya.

 

Dear Pandji,

jika berkenan dukunglah langkah kecil mereka, menyuarakan #melawanasap #saveRiau untuk mendapat secuil perhatian bahwa kondisi ini sudah sangat memprihatinkan. Ajak siapa pun untuk menyebarkan gerakan ini, bikin posting singkat di twitter, facebook, blog, youtube, instagram, apapun itu untuk bersama-sama #melawanasap. Atau bikin foto bersama gunakan masker, pakai hastag #melawanasap untuk membuka mata kepada semua orang, Pekanbaru dalam bahaya, dan kita tidak bisa diam saja.

Terimakasih Pandji, semoga Tuhan membalas kebaikanmu, dan apa yang kamu lakukan terus menginspirasi anak-anak muda untuk mau bergerak dan peduli.

Salam,

Ainun

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

About ainun

A mom with a beautiful daughter living in DKI Jakarta Indonesia, in GOD i trust. Inisiator and volunteer Akademi Berbagi, Social Media activist and I want to become a socialpreneur.

3 Replies to “Dear Pandji”

  1. Pingback: The Power of Social Media | My Life, My Story

  2. Pingback: Selesai melawan asap, 4,7 hektar hutan? | peninta.com

  3. Pingback: Tuning Dalam Hening | Peninta Dot Com | Blogging and Writing Something

Tinggalkan Balasan