(meng) hilang di jaman Social Media

Dari kemaren sore hingga pagi ini di social media (twitter – Facebook – Path) rame dengan hilangnya seorang perempuan berusia dewasa setelah melakukan meeting dengan klien. Berbagai spekulasi muncul, dari teori kejahatan di taksi hingga issue terkait pekerjaan si Ibu. Dan akhirnya, dini hari sang Ibu ditemukan di hotel memang sedang ingin “menghilang” karena ada masalah.

Kasus orang hilang yang pada akhirnya diketahui menghilang sudah sering terjadi dan selalu ramai dibicarakan di social media jika ada influencer (orang yang berpengaruh atau memiliki follower banyak) ikut posting. Reaksi publik online bermacam-macam, ada yang bersyukur karena akhirnya ketemu, tetapi tidak sedikit juga yang nyinyir dan menyesal karena sudah ikut menyebarkan berita “hilang”.

Sesungguhnya bagaimana seharusnya bereaksi di social media dengan kasus-kasus seperti ini? Ada yang berpendapat untuk cek ricek dan verifikasi sebelum menyebarkan, ada yang tidak mau ikut menyebarkan, ada juga yang berpendapat ya gak papa bantu menyebarkan toh niatnya baik untuk membantu.

Lepas dari semua pendapat, ini era di mana kecepatan informasi melebihi kecepatan otak untuk mencerna. semua orang dengan berbagai opini dan isi kepala bebas untuk menumpahkan. Kasus orang hilang, bisa dengan cepat menyebar karena kita memang suka membantu di samping kita juga suka kehebohan. Rata-rata orang bantu menyebarkan tanpa verifikasi karena kenal dengan si pembawa berita atau hanya ikut saja karena lagi rame. Kebanyakan orang ingin bertindak sebagai “pahlawan” karena pada dasarnya manusia suka menolong. Soal kemudian ternyata berita itu salah, dengan cepat pula kita “marah‘ atau “mengomel” karena merasa dimanfaatkan. Padahal yang salah ya kita sendiri karena tidak memverifikasi toh?

Di era social media, kebiasaan mengikut “arus” informasi memang sulit untuk dibendung. Kebanyakan orang ingin “eksis” dan menjadi yang paling tahu atas semua. Itu naluriah manusia. Kedewasaan dan kematangan yang bisa mengendalikan sampai batas mana ikut “arus” atau memenuhi rasa “ingin tahu.” Apa yang sudah dilempar di social media tidak bisa ditarik lagi, dan respon publik onliner sudah bukan dalam kendali kita lagi.

Orang sangat beragam dan mempunyai pola pikir berbeda. Tingkat pendidikan, latar belakang keluarga serta etika moral yang dipahami mendasari cara berinteraksi di social media. Tidak semua paham dan beradab dalam menuangkan postingan. Social media layaknya pasar, ada penjual, pembeli, orang pinter, pemarah, yang punya niat baik maupun jahat semua berkumpul jadi satu. Kita harus sadar betul akan hal itu.

Yang justru penting untuk kita adalah : jangan mudah tersulut emosi. Kemampuan mengendalikan diri menjadi sangat penting. Jarak jari ke keypad lebih dekat daripada jarak kepala ke keypad. Banyak postingan membuat kita “gatal” ingin menegur atau meluruskan. Tapi karena bentuk komunikasi yang terbuka dan keroyokan agak susah “meluruskan” segala sesuatunya. Yang ada justru makin runyam. Pikirkan dampak “kerusakan“nya. Jika bakal lebih lebar dan merembet kemana-mana, diam lebih baik. Toh satu jam lagi timeline sudah sibuk dengan hal lain. Tetapi jika menyangkut kredibilitas atau reputasi yang menyangkut bisnis, karir atau dampaknya signifikan dan harus diluruskan, lakukan dengan cara yang elegan. Siapkan konten jawaban secara offline, baca dulu dengan baik baru diposting. Petakan issue melebar kemana, dekati orang-orang kunci yang bisa membantu memulihkan reputasi. Menyelesaikan secara offline terkadang lebih baik. Ajak ketemu orang-orang yang menjadi kunci issue dan masih bisa diajak diskusi. Jangan posting selagi emosi. Dan think before posting!

Belajar dari hal di atas, maka kita memang harus extra hati-hati untuk melakukan posting di social media. Cek ricek dan verifikasi berulang harus dilakukan. Karena dampak dari postingan tersebut seringkali bukan hanya mengenai sang oknum tetapi bisa menyebar ke wilayah lain misalnya bisnis dan pertemanan. Orang-orang yang punya follower banyak kemudian menanggung beban yang lebih berat, karena dianggap influencer maka tidak boleh melakukan kesalahan. Salah sedikit saja maka berbondong-bondong orang akan menyerang. Memang tidak mudah menjadi “seleb” karena publik selalu menyoroti walaupun hanya seleb di twitter. Kalau saya pribadi, lepas dari segala hiruk pikuk komentar, apa yang menurut saya harus cepat diselamatkan harus segera dilakukan. Soal nyawa tidak bisa ditawar.

Ohya pelajaran penting yang saya dapatkan dari kasus ini: menghilang atau menyendiri di era social media lebih sulit begitu kata @newsplatter.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

8 Balasan pada “(meng) hilang di jaman Social Media”

  1. Menghilang dan hilang dari perspektif pelapor dan terlapor… Sesuai prosedur bahwa harus menginformasikan dan lapor polisi sama broadcast ke media nah jamane online dan mudah.
    Lebih dari itu, rupanya keluarga sbg lingkungan terdekat tidak tahu jika ibu ini sedang ada masalah berat. Semoga cepat selesai saja semuanya

    1. Iya, soal itu sih aku juga gak menyalahkan baik keluarga maupun teman-temannya. Untung selamat toh..kalo kenapa-kenapa malah bahaya. Kali ini lebih cepat lebih baik.

  2. mbok nek meh menghilang pamit disik. halah.
    memang sempat rame kemaren, setelah baca dari detik eladalah ternyata menghilang secara sukarela, di hotel malah..

  3. Yang aku rasain, ada semacam judgement dari sekitar bila kita tidak ikut menyebarkan, terutama bila itu permintaan tolong. Semacam menghakimi: kok gak mau nolong sih?
    Dari broadcast message kemarin, ada satu kalimat (mungkin tambahan) di pengumuman itu yg membuat orang ‘terpaksa’ menyebarkan: Bantu sebar. Bagaimana kalau ini terjadi pada keluarga kita dan tidak ada yang mau menolong?

    Duh.

    1. Iya banget mbaaaak…..huhuhuuu.
      tapi sekarang aku berusaha menguatkan hati, jika gak sreg aku gak bantu sebar karena sudah pernah merasakan dampak ikut menyebar berita yg tidak benar. Kalau pun mau walau ternyata misalnya salah harus yg ikhlas supaya gak dobel gondok hahahaa.

  4. Di era sebelumnya,kalo kita ganti nomer hape pasti (sepertinya seluruh dunia) pada want to know why.
    Waktu saya blom punya akun fesbuk,semuaaa (ciee semua) maksa saya punya. Padahal tiap hari ketemu,buat apa coba? Ya..itulah indahnya kehidupan teknologi :):)

  5. Pengalaman terburuk yang pernah gw rasakan sendiri di twitter adalah menyebarkan berita tentang seorang teman yang diinfokan meninggal. Berita ini muncul dari sobat si teman itu. Tentu saja gw percaya dengan info tersebut. Ternyata beberapa hari kemudian, si teman malah sehat, tidak ada masalah sama sekali.

    Kejadian ini terulang lagi pada seseorang lainnya. Info ia meninggal sempat tersebar. Kali ini gw nggak serta merta menyebarkan, sebelum pasti, karena belajar dari pengalaman sebelumnya. Ternyata benar kan, beberapa hari kemudian malah ketemu dengan anaknya langsung. Ia sendiri bilang kalau ia sehat selama ini.

    Memang sih paling aman adalah memverifikasi info terlebih dahulu. Siapa tahu ini campaign brand. Siapa tahu ini hoax. Untungnya kalau “menghilang/penculikan” yang merupakan trik campaign brand sudah makin mudah terbaca, sehingga tidak mudah tertipu. Namun itu gw, bisa saja orang lain tertipu. Model-model campaign semacam ini ikut berkontribusi menurunkan rasa tidak percaya akan info di social media. Bayangkan, kalau itu terjadi benar, bisa-bisa rasa kepedulian kita sudah terlanjur hilang.

    Terkait dengan kasus semalam, gw ikut menyebarkan berita karena mendapatkan infonya dari sumber yang gw anggap terpercaya. Nothing to lose to help in retweeting. Syukurlah ternyata orangnya baik-baik saja.

    Kalau melihat contoh yang gw share di atas, kita akan selalu dihadapi pada kemungkinan apakah info yang kita sebar itu benar atau nggak. Verifikasi ke sumber memang diperlukan, meski kadang nggak menjamin juga info itu pun benar. Kalau sudah seperti ini, nggak ada yang salah atau benar sih. Tinggal gut feeling kita sendiri aja, dan berharap bahwa saat menyebarkan info itu adalah keputusan yang benar.

    1. Pengalamanmu agak ngeri juga ya Pit, mengabarkan orang meninggal sampai dua kali. Memang kalo kabar meninggal harus cek ricek berkali-kali. Tetapi kalau orang hilang, aku cuma kuatir kalo tidak segera disebar ntar kenapa-napa, kalau disebar jangan-jangan salah. Dilematis.

Tinggalkan Balasan