Saya Beruntung

IMG_6122_FC (533x800)

Minggu lalu ketika long weekend bertemu dengan keluarga muda yang sedang liburan. Di pesawat, di hotel dan di tempat-tempat wisata banyak melihat anak-anak dan bayi yang hiruk pikuk.

Dari semua pemandangan yang saya liat, tidak hentinya saya bersyukur. Di pesawat, ada anak yang teriak-teriak sepanjang perjalanan, berdiri di kursi, menendang meja di depannya dan kadang merosot di lantai. Gak Mau pake sabuk pengaman dan marah-marah jika dipaksa untuk memakai sabuk. Ibunya di sebelah berusaha sabar dan gak ikut ngamuk, membujuk anaknya supaya mau duduk dan tidak teriak-teriak.

Di sebuah tempat wisata, seorang anak sedang mengamuk. Ibunya dipukulin, dan teriak-teriak tanpa jelas maksudnya apa. Dan satu hal yang membuat saya terbengong dan nyaris pengin mukul anak tersebut adalah dia meludahi ibunya berkali-kali. Duh Gustiii…saya berusaha menahan diri untuk tidak bicara atau menampar mulut sang anak. Saya sadar diri, buat Ibunya sudah cukup berat untuk menahan diri dan berusaha menaklukan anaknya, kalau ketambahan komentar saya pasti makin gusar hatinya. Saya terdiam dan tidak mau melihat lagi.

Belum lagi, malam-malam ada anak yang tidak bisa tidur, minta gendong ibunya terus jalan-jalan muterin hotel. Padahal mungkin seharian Ibunya sudah capek ngasuh dan menemani anaknya bermain. Tetapi anaknya  tidak bisa segera tidur dan minta digendong serta diayun-ayun.

Tuhan Maha Tahu dan Maha pengasih, saya umatNya yang tidak punya kesabaran level ibu-ibu di atas, maka saya dianugerahi anak yang manis. Saya hampir tidak pernah begadang semenjak putri saya masih bayi, saya tidak pernah gendong semalaman karena anak rewel. Saya juga jarang menemui anak saya tantrum. Semenjak kecil sudah (harus) ikut ibunya bekerja kemana-mana dan bahkan keluar kota. Putri saya bisa duduk manis selama di pesawat, kalaupun rewel cuma sebentar. Hingga sekarang usianya 10 tahun, saya bisa mengajak bicara dan dia bisa dilarang tanpa ngamuk. Paling banter kami adu argumentasi kenapa itu tidak boleh. Saya juga tidak pernah mengalami dipukuli anak, apalagi diludahi. Kalau sampai itu terjadi, sangat mungkin tangan saya sudah melayang ke mulutnya. Iya saya tidak punya kesabaran yang besar.

Saya beruntung, hingga hari ini putri saya tidak pernah menguji kesabaran tingkat dewa.

Terimakasih Ya Allah, Terimakasih Kika

1

12 Responses

  1. Yeni Setiawan
    5 Februari 2014
    • ainun
      5 Februari 2014
  2. Ranum
    5 Februari 2014
    • ainun
      5 Februari 2014
  3. Swastika Nohara
    5 Februari 2014
  4. Nita Sellya
    5 Februari 2014
    • ainun
      5 Februari 2014
  5. sita sidharta
    5 Februari 2014
  6. Indra Y Yosodihardjo
    5 Februari 2014
    • ainun
      5 Februari 2014
  7. Rijal
    6 Februari 2014
    • ainun
      6 Februari 2014

Tinggalkan Balasan