Internet (bukan) dunia Maya

Kemaren bertemu dengan teman-teman di berbagai bidang dan posisi untuk membicarakan hal penting tetapi sering dianggap tidak penting yaitu keselamatan anak di internet. Efek dari pertemuan itu, saya pulang dengan hati yang resah dan marah karena menyaksikan kenyataan betapa anak-anak yang telah menjadi korban kejahatan di online atau disebut predator semakin banyak dan tidak pernah dibicarakan secara serius. Saya marah kepada diri sendiri, karena bekerja di dunia internet tapi tidak tahu apa-apa soal itu dan tidak melakukan apa-apa. Selain itu juga marah sama pemerintah, seperti biasa. Hmmm…tetapi sudah lama saya tidak mengharap secara serius dengan pemerintah, jadi yasudahlah marah dan jengkel pada diri sendiri.

Di dalam diskusi tersebut, beberapa kasus anak-anak korban di internet dibuka dan diperlihatkan bagaimana mereka terjerat dan diperdaya oleh predator online. Sesak hati, dan mual melihat capture chatting anak-anak itu dengan penjahat online. Saya semakin shock melihat cara predator itu mendekati korbannya, semakin beragam dan tidak terduga. Misalnya dengan menyamar menjadi profesional tertentu. Maaf saya tidak bisa mengungkapkan secara detil karena beberapa kasus masih confidential. Wajah anak-anak itu terus terbayang hingga saya sampai di rumah. Saya seorang ibu, dan ketika menyaksikan anak-anak yang menjadi korban tersebut hati saya hancur dan semakin cemas terhadap anak saya sendiri. Semalaman saya tidak mau jauh dari anak saya dan membayangkan bagaimana rasa dari Ibu yang anaknya menjadi korban. Hancur lebur.

Salah satu teman membuat simulasi bagaimana “menjerat” anak-anak tersebut di online. Pertama dengan melihat foto anak tersebut, dan dipilih yang wajahnya polos dan mudah diajak ngobrol di online. Tidak sampai 30 menit anak itu bisa terjerat dan semua data pribadi lengkap bahkan data keluarganya diberikan secara sukarela. Dem!! Begitu mudahnya mereka dijerat dan yang kemudian terbayang betapa rentannya mereka menjadi korban kejahatan di online. Bukan hanya kejahatan sexual, ada juga kasus penculikan, pemerasan, penipuan, pembunuhan dan ¬†kasus bullying. Salah satu anak di Amerika bahkan sampai bunuh diri karena di bully di online. Innalillahi :'(

Dari sekian korban, tidak banyak yang melaporkan kasusnya ke polisi. Ada beberapa alasan, pertama mereka tidak mau anaknya semakin depresi, karena beberapa anak menjadi sangat depresi dan tidak mau didekati orang, keluarganya malu atau yang lebih tragis adalah ternyata orangtua ini tidak tahu jika mengadukan kasusnya ini di mana. Bahkan hanya untuk konsultasi saja mereka tidak tahu. Saya sendiri yang bekerja di dunia online juga tidak tahu, adakah lembaga yang bisa menangani kasus-kasus korban kejahatan di internet secara khusus?

Dunia online adalah dunia “baru” yang dengan cepat menyusup dalam kehidupan kita tanpa disadari. Banyak orang masih menganggap dunia online berbeda dengan dunia nyata atau offline. Kita sering menyebut online adalah dunia maya, tidak nyata. Salah satu peserta diskusi menyebutkan, internet dibangun dan disiapkan untuk masyarakat mapan dan mempunyai pengetahuan yang cukup maju sehingga bisa memahami psikologi dan perilaku di dalamnya. Kami dulu harus sekolah untuk belajar tentang internet, anak-anak sekarang tidak perlu belajar dan bisa langsung menyerap sangat cepat. Dunia digital sudah menjadi dunia anak-anak. Saya cukup beruntung ada di dua dunia : analog dan digital, walau di digital agak terbata-bata juga. Saya punya kebijakan analog tentang sebuah proses yang harus dilalui. Sedangkan anak-anak tidak mengalami itu, mereka langsung melompat ke digital yang tidak mengalami sebuah proses setahap demi setahap sehingga tidak memahami misalnya aturan masing-masing tools, psikologi, perilaku, sosialisasi, dan etika di dalamnya. Hal ini cukup membahayakan karena “radar” menjaga diri dan etika menjadi tidak ada. Celakanya banyak orang tua yang juga tidak paham dengan psikologi dan sosialisasi di online, dan masih menganggap dunia online itu maya, sehingga anak semakin tidak terbekali dengan cukup.

Suatu hari salah satu teman saya, bercerita bahwa dia gak begitu repot ngasuh karena anaknya anteng di rumah gak main keluar sehingga dia merasa anaknya aman-aman saja. Ketika saya tanya anaknya ngapain di rumah, dia jawab main laptop yang terhubung internet, dan dia tidak tahu anaknya ngapain saja di depan laptopnya. Kita seringkali merasa aman ketika melihat body anak kita di rumah, jadi tidak ada yang bisa menyakitinya. Padahal kepalanya mengembara ke seluruh dunia dan sangat mungkin dijahati! Saya pun mencoba bertanya apakah dia tidak penasaran anaknya ngapain aja dengan internetnya, jawaban yang sering saya temui adalah: “Duuh, aku gaptek gak ngerti gitu-gituan. Anak-anak yang lebih pinter aku sih udah tua susaaaah!” Posisi ngobrolnya adalah : teman saya pegang gadget yang canggih, lebih dari satu, bahkan lebih canggih dari punya saya yang bekerja di digital.

Saya tidak menyalahkan orangtua atau teman-teman saya itu. Mempelajari dunia baru sangat tidak mudah untuk kami yang basis pengetahuannya adalah analog. Dunia online nampak rumit dan sulit. Saya pun masih terengah-engah mempelajari karena perubahan yang sangat cepat dan banyak hal baru setiap harinya. Dari pengamatan saya secara awan, tidak banyak perempuan terutama Ibu yang paham dunia online. Mereka memang punya gadget tetapi aktivitasnya hanya memindahkan area sosialisasi dan belanja di perangkat digital, tanpa memahami area baru tersebut dengan benar. Apalagi gadget adalah perangkat personal, sehingga masih banyak yang menganggap akun sosial media mereka juga personal, suka-suka saya. Jadi bagaimana mereka akan membekali pengetahuan untuk anaknya?

Jika teman saya @prajnamu menganalogikan dunia internet seperti hutan belantara, di mana kalau mau masuk kita harus punya perangkat dan pengetahuan yang cukup supaya tidak dimangsa binatang buas, maka saya menganalogikannya sebagai sebuah pasar. Di situ ada teman, saudara yang lagi di pasar, ada penjual ada pembeli, ada pula penipu, penjahat dan pencopet. Kalau kita sebagai orangtua harus mengantar menemani anak-anak di pasar, begitu juga di online. Kalau di pasar anak-anak bisa terluka secara fisik, kalau di online mereka bisa terluka secara jiwa dan ini justru lebih berbahaya. Mereka bisa terpengaruh pada hal-hal yang buruk: ¬†sexual abused, kekerasan maupun konsumerisme. Sifat online yang interaktif justru bisa mempengaruhi jiwa anak secara mendalam dan kemudian tersimpan dalam alam bawah sadarnya yang akan terbawa hingga besar. Saya sempat terperangah ketika berbicara dengan anak-anak SMP di sebuah kota dalam diskusi tentang social media. Salah satu aktivitasnya adalah belanja online dan sehari bisa belanja hingga 500 ribu rupiah. Ketika saya tanya bagaimana mereka membayarnya, ternyata menggunakan kartu kredit orangtua nya yang entah mengetahui atau tidak. Ada lagi cerita salah satu anak, yang membuat foto-foto porno dirinya sebagai “hal yang lucu” dan menyebarkannya dengan meminjam BB orangtuanya tanpa pernah ditanya atau diketahui oleh sang pemilik BB.

Kembali kepada soal kejahatan di online, jika ada beberapa puluh kasus anak korban kejahatan di online yang dilaporkan, saya yakin kenyataannya lebih dari itu. Dari diskusi kemaren, dari 4 korban hanya satu yang melapor, itu berarti ada berapa puluh kasus di luar sana yang dibiarkan begitu saja dan penjahat dengan leluasa gentayangan di online? Ada berapa puluh anak yang masa depannya hancur? Dan akan bertambah berapa lagi korban-korban berjatuhan? Kita akan diam saja? Menunggu pemerintah?

Berdasarkan pengalaman saya, mengelola sebuah gerakan berbasis sosial butuh komiten yang cukup besar, hal ini berdasarkan pengalaman saya mengelola Akademi Berbagi. Karena kalau kita mau menjalankan sungguh-sungguh dan konsisten butuh effort secara waktu, pemikiran dan mungkin juga biaya. Selama ini saya hanya fokus di Akademi Berbagi, menjaga komitmen dan konsistensi yang tidak gampang karena saya punya kewajiban utama mengasuh anak dan mencari nafkah. Saya cukup tahu diri dengan kemampuan sehingga tidak mau muluk-muluk ikut ini itu hanya demi eksistensi. Jika saya sudah memilih untuk menjalankan suatu kegiatan maka saya harus bertanggung jawab atas keputusan itu. Ketika saya diajak untuk terlibat dan ikut serta untuk menindaklanjuti diskusi semalam menjadi sebuah aksi nyata saya sempat terdiam lama. Apakah saya bisa menjalankannya dengan segala kesibukan dan keterbatasan saya. Tetapi jika saya tidak ikut, lalu siapa yang mau memulai?

Saya termangu ragu.

Tetapi saya juga semakin teriris pilu melihat semakin banyak anak menjadi korban, dan sedih menyaksikan orangtua yang menganggap online adalah maya.

Saya mungkin masih beruntung bekerja di dunia digital sehingga sedikit paham, bagaimana dengan orangtua lainnya?

Bagaimana nasib anak-anak kelak? Bukan hanya rentan terhadap kejahatan, tetapi juga bisa merusak pola pikir secara permanen jika tidak dibekali “pemahaman bergaul” di online dengan benar.

Saya masih saja bingung.

Kalau ada gerakan nyata untuk menjaga anak-anak sehingga aman di internet, kalian mau ikutan gak?

Saya juga belum tahu mulai dari mana, tetapi saya tahu kita tidak bisa menunggu. Lupakan pemerintah dulu, mungkin kita bisa melakukan hal yang paling awal, misal guideline untuk orangtua dan anak supaya aman di internet, sosialisasi secara terus-menerus sehingga semakin banyak yang paham dunia online, help center atau apalah.

Yang penting, kalian mau ikutan gak?

 

 

16 Responses

  1. sayuran pesan antar
    9 Januari 2014
  2. venus
    9 Januari 2014
  3. Sita
    9 Januari 2014
  4. Swastika Nohara
    9 Januari 2014
  5. Arry Fajriana
    9 Januari 2014
  6. cK
    9 Januari 2014
  7. nunik99
    9 Januari 2014
  8. ainun
    9 Januari 2014
  9. gita
    10 Januari 2014
  10. Dian
    10 Januari 2014
  11. ManusiaSuper
    10 Januari 2014
  12. Afghan Elbanna
    10 Januari 2014
  13. emmy maharani
    15 Januari 2014
    • ainun
      23 Januari 2014
  14. Mia Fitri
    23 Januari 2014
    • ainun
      23 Januari 2014

Tinggalkan Balasan