Ibuk, selamat ulang tahun

15 Desember 2013

Selamat ulang tahun Ibuk, doaku selalu untukmu. Sehat, selamat dan bahagia dunia akherat.

Di suatu subuh

 

Pagi itu saya menelpon Ibuk untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Dari ujung telepon, terdengan suara orang mengaji, dan banyak. Ibuk: “iya aku bikin sema’an Quran”  Sema’an adalah membaca Quran bersama-sama dengan cara salah satu mengaji yang lain menyimak, dan dilakukan secara bergiliran hingga khatam (selesai). Begitulah cara Ibuku merayakan ulang tahun.

Ketika kami berbicara di telepon, Ibuk meminta didoakan supaya diberikan umur dan hidup yang bermanfaat untuk orang lain.

Hidupku sekarang itu bonus yang diberikan oleh Allah untuk aku gunakan bagi orang lain. Sia-sialah aku jika tidak ada manfaatnya. Doakan aku ya punya sisa umur yang memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain

Kalau berbicara soal ketangguhan perempuan, dari beliau lah saya belajar. Apa yang terjadi pada diri saya belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang beliau alami. Di usia masih sangat muda, belum genap 40 tahun beliau ditinggal mati suaminya dengan 6 orang anak yang semuanya masih sekolah. Dulu kami keluarga yang cukup berada di kampung, hingga kemudian Bapak jatuh sakit dan memerlukan biaya banyak. Ibuk sibuk mengurus pengobatan Bapak sehingga bisnisnya terbengkalai. Meninggalnya Bapak bukan hanya bisnis keluarga bangkrut tapi juga meninggalkan hutang yang sangat besar.

Saya selalu ingat saat itu, bagaimana rasanya jadi orang yang kaya dan mampu tiba-tiba harus kehilangan semua harta dan memulai dari nol bahkan minus. Sulitnya luar biasa. Lebih mudah orang miskin jadi kaya bukan? Walaupun kadang kelakuannya jadi “aneh-aneh“. Kami sekeluarga mengalami itu. Dari semua ada dan gampang, tiba-tiba tidak punya apa-apa dan  Ibuk harus memulai usaha dari nol bikin warung nasi. Setiap subuh belanja naik angkot, kemudian masak dan menunggu warung hingga malam. Usai tutup warung dan membereskan dagangan, beliau jalan kaki menuju rumah. Bayangkan, dulu kami hampir tidak pernah jalan kaki karena kami punya 7 mobil dan beberapa sopir. Kami betul-betul merasakan arti dari hidup seperti roda yang berputar, sejenak di atas kemudian terpelanting ke bawah.

Bertahun-tahun Ibuk berjualan dan bekerja menjadi apa saja. Selain berjualan nasi, dan katering untuk pabrik, sebagai kontraktor bangunan pun pernah beliau lakoni di mana profesi itu didominasi oleh laki-laki kala itu. Tapi tidak pernah sekali pun saya mendengar Ibuk mengeluh atau bilang malu atas apa yang dijalani. Bahkan saya belum pernah melihat beliau menangis, hanya satu kali ketika Bapak meninggal dunia.

Selain menghidupi dan menyekolahkan 6 orang anaknya, beliau juga harus melunasi hutang-hutang dari bisnis sebelumnya. Di tahun 80an dan punya hutang ratusan juta itu gede banget. Saya gak ngerti dan gak habis pikir bagaimana Ibuk melunasi itu semua dengan berjualan nasi dan bekerja serabutan yang hasilnya tidak seberapa dengan masih ada 6 anak. Prinsip Ibuk saya semua anak harus sekolah hingga sarjana. Ibuk sama sekali tidak memikirkan kepentingannya, semua hidupnya untuk anak-anaknya. Walaupun usia masih muda, tidak ada keinginan untuk menikah lagi. Benar-benar anak yang menjadi prioritas utamanya.

Saya selalu menyebut Ibuk adalah keajaiban. 6 anaknya lulus sarjana semua, hutangnya semua lunas, dan beliau bisa naik haji beberapa kali serta bisa berjalan-jalan keluar negeri. Perempuan dari kota kecil di kaki Merbabu, hanya tamatan SMA tetapi ketangguhannya luar biasa. Tidak ada kata menyerah.

Apa yang kamu yang kamu takutkan? Kita punya Allah yang Maha Kaya Maha Baik dan punya segala. Mintalah, dengan sungguh-sungguh kepadaNYA dan Beliau akan memberikan yang terbaik untuk kita. Apa yang Beliau tidak punya? Tidak ada. Jangan takut, karena Allah selalu ada untuk kita. Berusahalah sekuat tenaga kemudian berserahlah kepadaNYA.

Itu nasehat Ibuk, ketika saya terpuruk habis dengan kehidupan. Beliau duduk di samping saya yang sedang menangis berkepanjangan sambil mengenggam tangan saya.

Ibuk masih punya rasa takut, tetapi beliau menyerahkan rasa takutnya kepada Allah. Setiap hari selalu bangun jam 2 pagi  sholat dan berdoa hingga subuh. Setiap hari dari dulu hingga hari ini. Dan saya yakin seterusnya begitu. Mulai pagi hari semua urusan duniawi beliau kerjakan, tetapi begitu jam 2 dini hari hingga subuh semua waktunya untuk Tuhan  dan tidak bisa diganggu gugat.

Saya beruntung mengalami hidup bersama Ibuk. Pernah berada di atas kemudian jatuh hingga di titik paling bawah, memberikan pelajaran yang sangat bermakna. Saya belajar tentang kerendahan hati dan keikhlasan. Saya belajar tentang kebijaksanaan hidup dan selalu sadar bahwa tidak ada yang bisa kita sombongkan.  Dan saya belajar tentang bagaimana bangun dari keterpurukan untuk kemudian meraih kehidupan yang lebih baik. Bukankah inti dari kesuksesan adalah bukan tidak pernah jatuh, tetapi bagaimana bisa bangun dari kejatuhan dan membangun hidup yang lebih baik, bukan?

Ibuk adalah keajaiban.

Selamat ulang tahun Ibuk, dan Terimakasih

 

 

10 Responses

  1. cK
    16 Desember 2013
    • ainun
      16 Desember 2013
  2. Billy Koesoemadinata
    16 Desember 2013
    • ainun
      16 Desember 2013
  3. oelpha
    16 Desember 2013
  4. Ceritaeka
    16 Desember 2013
  5. aftri
    16 Desember 2013
  6. Indra Y Yosodihardjo
    17 Desember 2013
  7. ari kj
    18 Desember 2013
  8. didut
    13 Januari 2014

Tinggalkan Balasan