Menaklukan Jakarta

Kalau sudah memasuki musim hujan begini apa yang kalian khawatirkan wahai penduduk Jakarta?

Kalau saya selalu kepikiran anak saya, yang pulang dan pergi sekolah naik ojek motor berlangganan namanya Limo Bike. Saya kuatir anak kehujanan atau kejebak banjir. Sudah menjadi tradisi, ketika musim hujan tiba Jakarta akan banjir, kemudian disusul macet parah sampai nyaris lumpuh dan dilanjutkan mati listrik karena entah gardu terendam atau travo meledak atau kabel putus ketimpa pohon rubuh.

Siang itu, saya dan teman sekantor Ranum sedang dikejar-kejar deadline pekerjaan. Cuaca sudah mendung, dan kemudian menjadi hujan. Kami sama-sama pengin makan di luar sambil bekerja menyelesaikan deadline. Kantor terasa sepi dan entah kenapa agak mellow kurang bersemangat. Kami pengin ganti suasana sekaligus supaya otak lebih terang. Kemudian karena sahut2an di twitter juga dengan Lucia Nancy, akhirnya kami bertiga janjian makan di Sushi Umaku Durentiga. Dalam perjalanan Tikabanget menanyakan saya makan di mana via twitter, akhirnya saya ajak sekalian kumpul di situ.

Kami makan dan sibuk terbenam pekerjaan, hingga udah dua jam Tikabanget tidak sampai juga, akhirnya dari twitter saya baru tahu dia terjebak macet di Kemang. Tak berapa lama salah satu teman kita juga, Didut menyusul dan tiba di Sushi Umaku. Hingga kami semua selesai makan, Tikabanget baru sampai dengan muka kelelahan dan kelaparan. Saya mulai was-was dengan kepulangan anak saya. Berharap semoga dia tidak kehujanan dan tidak terjebak macet. Petugas yang jemput pun sudah kontak, dan bilang nanti kalau hujan mereka akan berhenti berteduh saja. Udah dong, udah cukup tenang dan lanjut bekerja.

Jam 5.15 sore ada telepon masuk dari sekolah anak. Mereka memberitahu Kika belum dijemput juga. Saya kaget banget! Karena saya pikir jam segitu si anak harusnya sudah sampai rumah. Saya mencoba menelepon berkali-kali ke rider- nya penjemputnya tetapi HP mati. Kemudian saya pun menelpon kantor Limo Bike, jawaban mereka sama tidak bisa menelepon rider-nya dan tidak bisa mengirimkan rider pengganti. Saya mulai panik. Hujan, sore, Jumat adalah kombinasi yang sempurna susah taksi. Tapi saya gak punya pilihan lain. Saya tinggalkan laptop dan barang2 saya si Umaku, titip sama teman-teman di situ dan lari ke jalan mencoba mencari taksi. Ada dua taksi kosong di depan, tetapi mereka menolak mengantar karena malas macet dan banjir. Setelah setengah jam lebih, akhirnya dapat juga taksi dan kami pun menuju sekolah si anak. Sempat bingung mau lewat mana, karena di mana-mana banjir dan macet. Akhirnya saya memilih lewat Mampang terus belok Tendean masuk ke Bangka. Sekolah anak saya di jalan Bangka yang memang dikeliling wilayah yang kebanjiran walaupun sekolahnya sih aman tidak kebanjiran. Sampai Pasar Mampang macet total, hampir tidak bergerak selama lebih dari 20 menit. Tiba-tiba sang sopir bilang bensinnya mau habis. Wah..makin paniklah saya. Akhirnya setelah kebingungan beberapa saat, sang sopir memohon maaf gak bisa nganter lagi, dengan halus saya diminta turun aja. Ya sudahlah ya..kehabisan bensin malah repot semuanya.

Turun dari taksi dalam kondisi hujan masih lumayan deras, saya sudah putus asa pasti susah nyari taksi lagi, dan sekolah anak sudah tutup. Kalau kemaleman saya kuatir dia gak ada temannya dan pastinya kelaparan. Saya pun berjalan kaki menuju Bangka, sambil berharap ketemu apalah entah bajaj atau ojek. Ternyata sampai pertigaan Tendean – Bangka banjir sudah selutut. Saya sempat ragu, menerobos banjir, atau jalan memutar tetapi bakal lebih jauh lagi. Akhirnya saya putuskan, Bismillah menerobos banjir aja. Celana basah sudah gak dipikir, pikiran saya cuma gimana caranya cepat ketemu anak biar dia juga gak panik. Kalau sudah lihat muka ibunya biasanya sudah tenang.

Saya berjalan pelan-pelan menerobos banjir, rasa dingin mulai merayati kaki hingga lutut. Ooh..begini to rasanya kebanjiran. saya pun bersyukur selama ini tidak pernah tinggal di rumah yang kena banjir. Pas di tengah-tengah, tiba-tiba kayak ada kembang api di salah satu tiang listrik dan suara rentetan ledakan. Refleks saya melihat ke atas dan bunga api sudah memancar dari puncak tiang. Dengan cepat saya ingat, badan saya kerendem air, dan air adalah penghantar listrik. Hanya sepersekian detik saya pun memutuskan lari sekencang-kencangnya walaupun susah untuk cepat karena air makin tinggi. Sambil terus baca sholawat saya berlari, jangan sampai saya kesetrum. Ya Tuhan, selamatkan saya…

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di tempat yang sudah tidak tergenang banjir, saya pun melihat kabel-kabel listrik terjuntai ke bawah. Masih deg-degan saya lari terus. Sudah gak kepikiran lagi untuk panik atau nangis, pokoknya harus secepatnya sampai ke sekolah anak. Tiba-tiba seputar Bangka pun gelap, sepertinya listrik padam di wilayah itu. Saya gak ingat sudah sejauh mana jalan kakinya, bahkan gak kerasa capek. Hujan masih terus mengguyur. Baju, celana dan tas semua basah.

Ketika hampir mendekati sekolah, ada bajaj lewat dan saya pun naik bajaj. Sampai sekolah bajaj saya minta menunggu, saya mau jemput terus langsung jalan lagi. Mumpung ada bajaj. Apalagi sekolah juga udah sepi banget dan gelap. Anak saya pun langsung memeluk ketika melihat ibunya, dan kami berdua segera beberes bawaannya untuk kemudian pulang naik bajaj. Sempat terpikir mau lewat mana, dan apakah bajajnya mau mengantar sampai Duren tiga dalam kondisi kayak gini. Akhirnya kami berdua pokoknya naik saja, entah nanti bakal sampai mana, yang penting keluar dari kusutnya Bangka.

Kami pun menyusuri Bangka, kemudian lewat Kemang karena itu jalan yang kepikiran bisa dilalui. Sampai Kemang Utara, saya mencoba mencari ojek saja, siapa tahu bisa lebih cepat dan mudah mencari jalan yang bebas banjir. Rata-rata tukang ojek yang saya temui tidak ada yang mau, malah beberapa buang muka. Memang sih ketika kondisi begitu, narik ojek juga mungkin malah rugi. Akhirnya tetap meneruskan dengan bajaj hingga sampai ujung Kemang Utara. Jalanan mendadak berhenti total, beberapa orang berteriak “Putar balik saja! Putar!” Sang pengemudi bajaj pun menyuruh saya turun, “Ibu jalan kaki saja, banjir saya gak bisa lewat.” Saya pun ¬†pasrah, wong gak mungkin juga memaksa bajaj memutar dan lewat jalan Kemang Timur yang bebas banjir karena dia keukeuh gak mau. Bajaj bukan punya saya toh.

Kami pun memasukan beberapa tas kecil bawaan anak saya ke dalam tas saya dan tas sekolah anak saya, meringkas bawaan menjadi cukup dua tas. Anak saya bawa satu, saya bawa satu. Cukup berat sih buat anak saya, tetapi daripada repot dengan banyak gembolan. Kami pun berjalan sampai di tempat paling ujung yang belum kerendam air. Di stu ada “board surfing” yang digunakan untuk menyeberangkan orang. Agak menakutkan karena itu bukan perahu, jadi kalo duduknya gak seimbang mudah sekali oleng. Saya sempat bertanya kepada anak, mau menerobos banjir atau putar balik mencari taksi atau ojek. Walaupun dalam hati saya juga kebingungan, karena pasti susah mencari alat transportasi tersebut. Anak pun setuju untuk menyeberangi banjir. Saya bertanya-tanya dulu seberapa dalam banjirnya. Bagian tengah katanya bakal sampai pinggang. Duh, terus kalo anakku sampai apa ya? Tapi untung anak saya bongsor untuk seusianya.

Ternyata board surfing yang disebut perahu itu cuma satu, dan baru saja jalan menyeberangkan orang. Titik banjirnya cukup panjang, dan bakal lama menunggu perahu itu balik. Kemudian ada anak muda yange menawarkan mengantar menyeberangi banjir. Saya memang harus diantar, karena tidak tahu ada lubang di mana, jembatan di mana, kali di mana. Semua cuma tampak luapan air coklat beserta sampah. Akhirnya sambil terus berdoa, kami berdua memutuskan mengarungi banjir. Kami membututi tepat di belakang si penunjuk jalan, sambil terus berdoa jangan sampai listrik konslet, atau ada ular atau air tiba-tiba meluap dari kali. Duh..deg-degan banget. Perjalanan itu terasa panjang banget dan gak sampai-sampai. Semakin ke tengah semakin dalam, hingga kami harus menjinjing tas kami di atas kepala supaya tidak basah kuyup. Dari kaki sampai perut sudah terendam. Udah gak mikir lagi soal penyakit yang bisa timbul di air kotor itu. Di kepala saya cuma, segera keluar dari kekusutan ini. Jalanan pun gelap gulita, dan saya terus menggenggam tangan anak, dan satu tangan lain mengangkat tas, sama persis anak saya juga begitu.

Ketika akhirnya sampai di tempat yang gak tergenang, rasanya….legaaaaaa banget. Duh Gusti, terimakasih kami selamat gak kena apa-apa. Anak saya malaah berujar, “Waah..perjalanan kita menakjubkan ya Buk!” Dia sama sekali gak ketakutan atau menangis, justru tampak tegar dan menikmati. Saya bersyukur diberi anak yang tangguh. Sambil tersenyum kami melanjutkan perjalanan hingga ke jalan raya Mampang. Sampai di Mampang kami menemukan taksi yang mau mengangkut ke Umaku Durentiga untuk mengambil barang-barang.

Jalan yang saya lalui cukup lengang, tetapi sisi jalan lainnya macet tidak bergerak. Rencananya habis ngambil barang di Umaku Durentiga kami mau langsung pulaang, karena semua basah kuyup dan risih dengan air kotor yang menempel. Tetapi melihat kondisi jalan menuju rumah saya yang berhenti total saya pun bimbang. Tiba-tiba si anak bilang kalau lapar, karena katering di sekolah gak dia makan. Dia pikir bisa langsung pulang, ternyata baru jam 8 malam kami bisa sampai Mampang.

Akhirnya kami memutuskan berhenti dulu di Umaku, anak bisa makan di situ. Sampai di Umaku, anak saya bersihkan di kamar mandi. Kebetulan di bawah ada Indomaret, saya pun membeli handuk, sandal dan celana dalam. Untung baju anak saya dobel pake rok dan celana training. Saya pun melepaskan celana trainingnya, membiarkan dia menggunakan rok saja. Memang basah, tetapi gak separah celananya.

Dia pun kemudian memesan beberapa makanan, dan dengan lahap menyantap semuanya hingga licin tandas. Kami pun meninggalkan Umaku Durentiga, dan ternyata jalanan masih macet. Sekitar jam 10 lebih akhirnya kami sampai juga di rumah.

Alhamdulillaah Yaa Allah…..hari itu benar-benar perjalanan luar biasa. Jakarta memang kota penuh ujian, apalagi buat orangtua tunggal seperti saya. Saya belajar banyak dari kota ini, dan dari kekusutan Jakarta banyak hal yang membuat saya merenungi diri. Tidak ada tempat buat mengeluh di Jakarta, jalani saja dan saya masih tetap lebih beruntung dari mereka yang rumahnya kerendam banjir. Saya hanya diminta untuk sejenak merasakan, apa yang dirasakan orang-orang Jakarta yang kebanjiran.

Pagi ini, saya makin SAH menjadi warga Jakarta. Dan saya pun ingat perkataan teman, “Kalau kamu bisa menaklukan Jakarta maka kamu bisa hidup di kota mana pun di dunia ini.”

Terimakasih, Jakarta!

NB :¬†Pagi ini ngobrol dengan beberapa teman, dan mereka bilang ” Kog gak telpon aku? Kog gak begini..kog gak begitu… ” Malam itu saya gak bisa mikir apa-apa, pikiran saya cuma gimana caranya bisa menjemput anak secepatnya dan membawa pulang. Terimakasih teman-teman, semoga lain kali saya ingat untuk menelpon kalian. Terimakasih :”)

34 Responses

  1. Neny
    9 November 2013
    • ainun
      9 November 2013
  2. dobelden
    9 November 2013
    • ainun
      9 November 2013
  3. endik
    9 November 2013
    • ainun
      9 November 2013
  4. Bambang P.Sekti
    9 November 2013
    • ainun
      9 November 2013
  5. Bambang P.Sekti
    9 November 2013
  6. christin
    9 November 2013
    • ainun
      9 November 2013
  7. Vita wahid
    9 November 2013
    • ainun
      9 November 2013
  8. Atiek
    9 November 2013
    • ainun
      10 November 2013
  9. Hendra W Saputro
    9 November 2013
    • ainun
      10 November 2013
  10. didut
    11 November 2013
    • ainun
      12 November 2013
  11. Indra Y Yosodihardjo
    11 November 2013
    • ainun
      12 November 2013
  12. Yahya Kurniawan
    11 November 2013
    • ainun
      12 November 2013
  13. Yudistira
    11 November 2013
    • ainun
      12 November 2013
  14. Try Samouth
    11 November 2013
    • ainun
      12 November 2013
  15. waterbomm
    11 November 2013
    • ainun
      12 November 2013
  16. Cecilia
    11 November 2013
    • ainun
      12 November 2013
  17. Rayar
    11 November 2013
    • ainun
      12 November 2013
  18. Wahyudi Adhiutomo
    9 Februari 2015

Tinggalkan Balasan