Pergilah Chik …

 

Kalimat itu  terngiang – ngiang terus sepanjang penerbangan Jakarta – Ambon, selama 4 jam. Aku diantara mencoba ikhlas dan tidak bisa terima  “kepulangan” Chikadjati salah satu relawan Akademi Berbagi sekaligus teman baikku. Di satu sisi aku harus ikhlas, supaya tidak memberatkan perjalanan “pulang“nya tetapi di hati kecil masih tidak percaya.

“Masa iya kamu meninggal sih Chik?”

Aku mengenal dan bertemu Chikadjati pertama di OBSAT – Obrolan Langsat sebuah event rutin kopdar anak-anak online. Chika langsung menyapa dan aku sudah tidak ingat lagi bagaimana ceritanya kami langsung akrab dan kemudian dia bergabung menjadi volunteer Akademi Berbagi. Pada waktu LLD (Local Leaders Day) pertama tahun 2012 Chika menjadi salah satu panitia yang sibuk mewujudkan event pertemuan volunteers Akademi Berbagi se-Indonesia tersebut. Kemudian dia lanjut menjadi pengurus di Akademi Berbagi Nasional sebagai Koordinator Organisasi & Relawan. Anaknya selalu bersemangat dan serius jika membahas segala sesuatu sehingga menjadi bercandaan diantara kami “Kalau mau serius sama Chika ajah!

Chika beberapa bulan lalu mengalami sakit, dan menjalani pengobatan di Salatiga. Suatu kebetulan, dari dulu Chika pengin berkunjung dan main di kampung halamanku Salatiga. Ternyata dia dirawat beberapa bulan, kemudian mengalami koma beberapa hari hingga menghembuskan nafas terakhirnya di kampung halamanku tercinta.

“Akhirnya kamu berkunjung ke Salatiga, Chik”

Kalau ditanya punya kenangan apa, aku bingung harus cerita yang mana. Karena banyak banget waktu kebersamaan kami, dari jalan-jalan, curhatan, hingga mengelola kegiatan Akademi Berbagi bersama-sama. Dalam satu minggu pasti ada saatnya kami bertemu. Banyak cerita, tawa, tangis dan juga marah yang kita lalui bersama. Kami menyukai aktivitas sosial dan pendidikan, selebihnya seperti layaknya perempuan ibukota kami pun banyak menghabiskan waktu bersama buat sekedar makan atau hanging out.

Pagi itu, aku di bandara menunggu diterbangkan ke Ambon, salah satu temanku dan teman Chika juga yaitu Adit mengirimkan whatsapp “Mbak, Chika meninggal dunia…” Aku shock dan hanya bisa mengirimkan, “Ha???” Masih tidak percaya, aku pun mencari HP yang terbenam di tasku. Ternyata sudah ada SMS dari Ibunda Chika “Assalamualaikum Mbak, maafkan semua kesalahan Chika dia meninggal pagi ini jam 6.10.” Aku masih tidak mau percaya, dan langsung telepon Ibundanya. Suara tangisan tertahan diujung sana, membuat gemetar dan lemas sekujur badanku ….

“Jadi bener ya Chik, kamu pergi?”

Kalau aku ngomongin soal volunteering, teman yang paling bersemangat diajak ngobrol adalah Chika. Bisa dibilang volunteerism itu Chika banget. Dia selalu berapi-api jika ngomongin Akademi Berbagi karena gerakan ini basisnya volunteer. Dia salah satu relawan yang sangat concern dan berusaha agar Akademi Berbagi terus berkembang dan maju. Dedikasinya tidak perlu dipertanyakan lagi, bahkan dia punya mimpi untuk Akademi Berbagi suatu saat menjadi social movement yang bisa mandiri dan jadi acuan gerakan sosial di Indonesia.

Perjalanan Jakarta – Ambon menjadi perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan jiwa raga. Aku marah dan berkali-kali menyesali diri, karena belum sempat menengok Chika di Salatiga. Rencana yang sudah aku susun adalah sepulang dari Ambon aku langsung menengok Chika di Salatiga, entah kenapa aku merasa yakin Chika akan bangun dan sadar dari koma. Aku yakin Chika akan sembuh dan kembali aktif di Akademi Berbagi. Aku yakin itu. Pagi itu semua keyakinanku tergilas habis. Tak bersisa.

Rencana manusia hanyalah rencana, dan keyakinan manusia semu semata. Hari itu aku kembali disadarkan akan kuasa Tuhan.

Kepergian ke Ambon pun aku percepat, untuk kemudian mengejar pesawat ke Malang. Rasanya masih ada ganjalan besar dihati jika belum mengunjungi makam dan bertemu keluarganya. Datang ke pusarannya di pagi yang syahdu melengkapi perasaan hatiku yang kelu. Aku hanya ingin berdoa dan menyampaikan salam dari teman-teman. Aku tidak bertanya lagi, “Serius Chik, kamu pergi?’ Aku juga tidak mau menyesali kepergiannya lagi. Kepergian Chika memang mengejutkan tetapi aku percaya Tuhan punya rencana indah untuknya.

Terimakasih Chik, kerja kerasmu, semangatmu dan keseriusanmu menjadi jejak abadi di Akademi Berbagi. Karena kontribusimu juga maka Akademi Berbagi bisa sebesar ini. Apa yang telah kamu lakukan, akan menjadi cerita yang selalu jadi penyemangat untuk para volunteers Akademi Berbagi.

Sekarang kamu sudah ditempat peristirahatan abadi, bersama Sang Maha Pengasih dan kamu sudah tidak kesakitan lagi. Ohya jangan terlalu serius Chik, kamu harus bersenang-senang  bersama Weby di sana, di rumah Tuhan.

Pergilah Chik …

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

21 Replies to “Pergilah Chik …”

  1. Firasat saya sudah buruk waktu di Salatiga ayah dia cerita soal sakit beruntunnya Chika, tapi seperti mbak, saya juga pengen dia pulih. Sayang akhirnya tak begitu.. :(
    RIP Chikadjati.

  2. Aduh chika.. nggak nyangka secepat itu.. aku baru tahu dari postingan ini. May you rest in peace, dear.. sedih jg :(

  3. Malam sebelum Chika berpulang, aku sempat mikir begini, “Kabar Chika sekarang gimana ya? Apa sudah membaik?”

    Kami memang jarang bertemu, tapi kenal baik ketika antusiasmenya terhadap Operasi Semut. Bahkan terahir ketemu di obsat, sempat ada obrolan buat kerja bareng.

    Selamat jalan, Chika. Tenang kau di sana….

    • Makasiiih Ika … :’)
      Ayo dong kamu nulis pengalamanmu sekolah di sana, siapa tahu bisa bikin temen2 Akber termotivasi :)

  4. Hai,mba Ainun,saya Anas sepupu Chika yg kemarin hadir pada saat tahlilan Chika di Obsat…saya belum sempet say thank you secara personal sama mba Ainun. Tadi sore pas plg kantor,saya refresh contact whatsapp saya…iseng2 saya scroll pengen liat foto2 contact saya..and there you go, foto Chika di salah satu contact…and again saya nangis bombay.Kehilangan Chika pukulan yg cukup hebat di keluarga kami. Tp di sisi lain kepergian Chika membawa dampak positif,krn bisa menyatukan keluarga kami kembali. saya inget bgt strugglingnya cari tiket ke Malang saat itu & komat kamit doa supaya saya ga telat liat Chika terakhir kalinya, dalam hati cuma bisa ngomong,”Mba,tungguin aku ya please…” Saya jelas ngerasa bersalah, karena beberapa taun terakhir ga pernah contact krn kesibukan (terakhir ketemu pas di nikahan saya,dan sebelnya ga sempet ngobrol). Saya cm bisa mantau keadaan Chika waktu sakit via telp & sms sm pakdhe & budhe saya. Saya tau acara kemarin jg dari temen yg kebetulan me-repath…waktu itu saya cm mikir,saya pengen menebus waktu2 ketika kami jauh…ternyata Puji Tuhan,sepupu saya ini memang luar biasa,sampai ada acara tahlilan 40 hari di Jkt (pdhal ud sedih krn ga bisa ikut tahlilan di Malang,karena suami sedang dinas)I’m proud to be her sister forever. But again,thank you so much on behalf of our family ya,mba Ainun dan teman2 akademi berbagi.

    • Hi Anastasia,
      terimakasih sudah hadir di OBSAT
      Salam untuk keluarga besar dan semoga selalu rukun dan kompak.
      Chika sudah tenang di sana dan dia pasti bahagia melihat saudara dan teman-temannya semua mendoakan :’)

    • Hi Anastasia,
      terimakasih sudah datang di OBSAT, salam hormat untuk keluarga besar.
      Semoga seluruh keluarga tetap rukun dan kompak.
      Chika sudah bahagia di sana, dan pasti senang melihat teman-teman dan saudara2nya semua berkumpul dan berdoa untuknya :’)

Tinggalkan Balasan