Lugas

Kalao lagi liburan di rumah Ibu Salatiga aku jadi punya kesempatan nonton tv. Pagi itu acaranya pengajian Mamah Dedeh, dan untuk pertama kalinya aku memperhatikan dengan detil gaya bicara dan mimik muka. Sangat jauh dari gaya ustazd atau ustazdah yang bersuara merdu, kata-kata motivasi yang menghibur dan sedikit sentuhan drama yang banyak diminati. Mamah Dedeh nampak lebih lugas, langsung ke pokok persoalan, salah bilang salah dan terkadang nampak marah. Bukankah kita biasanya lebih menyukai yang mendayu-dayu, kata-kata yang lembut penuh dengan pujian dan sesekali membanyol untuk hiburan? Mamah Dedeh jauh dari itu. judul acaranya sih “Curhat dong Mah” tapi lebih sering dimarahi hahaaa… Tapi kenapa Mamah Dedeh laku ya?

Di kesempatan lain, aku bertemu dengan Bapak Jokowi -Gubernur DKI dan mendengarkan pidatonya secara langsung. Alih-alih bikin pidato yang penuh puja-puji kepada yang punya hajat ataupun para tamu penting yang hadir, beliau malah memaparkan “kenyataan Jakarta” tanpa tedeng aling-aling. Gak ada basa-basi, atau pidato normatif penuh puja-puji tapi malah membeberkan fakta miris Jakarta dan apa yang harus dilakukan. Langsung pada pokok permasalahan, dan gak ada jargon-jargon politik. Lugas.

Akhir-akhir ini, dalam pandanganku tokoh atau pemimpin yang lugas semakin diminati. Masih ingat 10 tahun lalu, kita memilih Presiden yang ganteng, pintar, tutur bahasa yang halus serta “dikuya-kuya“. Kita pun iba dan jatuh hati dengan figur yang seperti itu dan memberikan dukungan penuh secara sukarela. Kemudian tokoh lain pun mengikutinya agar mendapatkan simpati dan dukungan. Nampaklah di tv parade para tokoh atau pemimpin yang seragam: secara fisik cakep, memelas, dan tutur bahasa yang lembut penuh kata-kata bijak. Bagaimana para tersangka korupsi mengubah penampilannya menjadi religius fisik juga bagian untuk mengambil hati publik. Simbol, lambang dan profil fisik dengan mudah mengundang simpati. Apalagi dilengkapi dengan tutur kata halus dan merdu, banyak ustad kemudian menjadi idola karena suaranya yang mendayu.

Sepertinya era itu sebentar lagi berlalu. Teriakan Ahok, gesitnya Bu Risma turun langsung ke jalan mengatur lalu lintas yang jauh dari lemah-lembut menjadi idola baru. Atau jawaban slengekan Jokowi dan terbukti memang benar, serta teriakan Mamah Dedeh sepertinya akan menjadi gaya baru yang diminati.

Mungkinkah masyarakat sudah semakin sadar bahwa simbol tidaklah penting? ¬†Atau mereka sudah bosan dengan yang ganteng/cantik dengan tutur kata merdu serta nampak melas¬†penuh airmata. Mungkin masyarakat sudah capek menerka dan berharap. Karena pada akhirnya hajat hidup adalah yang utama. Lupakan drama penuh airmata dan merasa “dikuya-kuya“.

Katakan dengan jelas dan lantang dan bekerjalah.

Itu mungkin bakal jadi tren pemimpin masa kini dan ke depan.

 

 

10 Responses

  1. didut
    17 Oktober 2013
  2. Swastika
    17 Oktober 2013
  3. roy
    17 Oktober 2013
    • ainun
      17 Oktober 2013
  4. pinkina
    17 Oktober 2013
  5. pitik
    17 Oktober 2013
  6. Ranum
    17 Oktober 2013
  7. umenumen
    17 Oktober 2013
  8. giewahyudi
    17 Oktober 2013

Tinggalkan Balasan