Perjalanan Hati : Akber Pekanbaru

Setiap perjalanan Akademi Berbagi, untukku adalah perjalanan hati. Dalam arti yang sesungguhnya. Wisata sebuah hati, karena berbagi adalah “makanan hati”.

Saya ingat cerita seorang teman bahwa, “berbagi itu bukan untuk mereka tapi untuk diri sendiri. Kebahagian orang yang hakiki adalah ketika dia bisa membagikan sebagian miliknya untuk sesama.”

Kali ini perjalanan saya adalah berkunjung ke Pekanbaru, berbagi cerita dan pengalaman membangun komunitas di kelas perdana. Sebelumnya, kelas perdana yang saya ikuti adalah: Akber Depok, Akber Tangerang, Akber Bandung, Akber Solo. Tidak semua kelas perdana saya datangi tetapi saya ingin walaupun cuma sekali bisa berkunjung ke semua kota. *berdoa* Sudah cukup lama teman-teman di Pekanbaru ingin membuka kelas, sejak tahun 2011 tetapi entah kenapa alot banget. Mereka kesulitan mencari 3 relawan yang mau menjadi pengurus. Memang setiap kota baru, jika akan membuka kelas Akber harus punya minimal 3 relawan di awal. Supaya menjalankannya tidak terlalu berat dan bisa membangun jejaring lebih cepat. Kerja volunteering bukan kerja individual.

Akhirnya Akber Pekanbaru berdiri juga, kebetulan ada sahabat saya yang pindah ke kota tersebut dan concern banget pengin berbuat “sesuatu”. Klop deh. Dia pun bertemu dengan relawan yang sebelumnya sudah mengajukan diri.

Ini perjalanan pertama saya ke Pekanbaru.

Di kepala saya Pekanbaru identik dengan Caltex yang kemudian berubah jadi Chevron, selain itu saya tidak punya referensi apapun tentang kota tersebut. Ternyata Pekanbaru termasuk salah satu kota yang “makmur” dengan tingkat pendapatan daerah yang tinggi. Tapi entah kenapa terasa “ayep” tidak ada geliat hiruk pikuk orang-orang yang beraktivitas dengan dinamis. Lebih seperti kota yang tenang, nyaman dan semua berjalan mengalir saja. Ada yang salah? ┬áTentu saja tidak. Setiap kota memang punya “perilaku” masing-masing. Tetapi saya paham “kegemasan” sahabat saya yang lahir hingga remaja di Pekanbaru. Kemudian kuliah merantau ke Jawa Timur lanjut bekerja di Jakarta dan akhirnya memutuskan untuk pulang kampung. Adrenalinnya adalah adrenalin Jakarta, sehingga semangatnya meluap-luap tidak tertampung di Pekanbaru.

Pikiran kami sama, seharusnya Pekanbaru sangat bisa untuk lebih maju, dan membuat perubahan yang signifikan karena banyaknya potensi yang bisa digali.

Saya juga sempat jalan-jalan di acara “Car Free Day” dan melihat anak muda yang melakukan berbagai kegiatan. Menurut info dari teman-teman Pekanbaru, anak mudanya sangat cepat mengadopsi hal-hal baru yang terkait trend lifestyle dan hobi pokoknya yang seneng-seneng deh tetapi untuk gerakan-gerakan yang mengajak perubahan atau kegiatan sosial agak kurang dapat sambutan. Hmmmm…. Mari kita lihat.

Hari nya pun tiba, di mana saya berbagi di kelas Akber Pekanbaru dan dihadiri teman-teman dari berbagai komunitas. Untuk ukuran kelas perdana, ramai juga yang datang, dan kelasnya itu looo keren banget! Di perpustakaan daerah dengan arsitektur modern dan fasilitas yang lengkap. Dari anak kecil hingga orangtua bisa memanfaatkannya. Hari itu hari Sabtu, dan perpustakaan cukup banyak pengunjungnya. Pemandangan menarik! Bermain ke perpustakaan dan jadi kebiasaan di kota tersebut, bukankah itu kenyataan yang menarik?

Saya pun berbagi cerita bagaimana saya membangun komunitas dan hal-hal yang terkait dengan social media sebagai tools untuk membangun komunitas sehingga bisa tumbuh dengan cepat dan menyebar di berbagai daerah. Walaupun berkomunitas itu bukan budaya baru. Sejak jaman orang tua kita sudah terbiasa “cangkrukan” berkumpul di poskamling dari sekedar berbagi hobi sampai gotong royong membantu sesama warga. Social media memfasilitasi kebiasaan berkomunitas sehingga tumbuh seperti jamur di musim hujan. Subur.

Konon di Pekanbaru banyak banget komunitasnya. Walaupun kebanyakan komunitas hobi. Sebuah awal yang bagus sih menurut saya. Pelan-pelan mereka bisa diajak untuk melakukan hal-hal yang berguna untuk kotanya.

Saya adalah orang Jakarta yang tidak tahu persis Pekanbaru itu seperti apa, dan gak bisa sok tahu untuk bisa melakukan perubahan positif. Saya hanya bisa berbagi spirit bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan jika kita mau. Di jaman internet, yang batas antar wilayah menjadi kabur semua orang dan semua kota punya kesempatan yang sama untuk maju.

Walaupun baru sekali menginjakkan kaki di Pekanbaru, tetapi melihat potensi yang besar dan gak dimanfaatkan itu rasanya resah juga. Lagi-lagi saya cuma pengunjung, harapan besar saya sematkan pada teman-teman relawan Akber Pekanbaru. Kalian lah yang bisa bikin kotamu keren! Kalian lah yang bisa mengajak teman-teman untuk peduli dan berkontribusi pada kemajuan kotanya. Jangan nurut aja apa kata pemerintah, apalagi pemerintah pusat. Sudah saatnya kotamu menjadi urusanmu. Jangan biarkan orang-orang yang “sok tahu” mengaturnya.

Saya percaya, setiap niat yang kecil, dipelihara dan dijaga dengan komitmen dan konsistensi akan berdampak luar biasa. Bukan kerja yang mudah pastinya. Apalagi ini kerja relawan. Tetapi kalau kita sama-sama yakin bahwa kita bisa maka semuanya akan berjalan dengan baik dan memberikan dampak yang baik juga.

Langkah awal sudah dimulai, saatnya melanjutkan langkah-langkah selanjutnya. Relawan adalah ujung tombak gerakan ini, dan butuh amunisi yang banyak untuk terus melangkah dan kemudian berlari.

Satu hal yang perlu diingat berbagi itu bukan itu dia, atau mereka tetapi untuk saya dan kami. Kebahagiaan terbesar adalah ketika kita menjadi manusia yang bermanfaat untuk sesama. Tidak usah terlalu ribet dulu dengan hasil, hargailah setiap prosesnya, dengan segala tanjakan dan tikungannya. Jalani dengan senang karena “Berbagi selalu bikin Happy”.

 

*Kelas Akber Pekanbaru dilaksanakan Sabtu 28 September 2013*

13 Responses

  1. Athiek
    1 Oktober 2013
    • ainun
      1 Oktober 2013
  2. sesri
    1 Oktober 2013
    • ainun
      1 Oktober 2013
  3. liamarta
    2 Oktober 2013
  4. Neyna Naya
    2 Oktober 2013
    • ainun
      3 Oktober 2013
  5. bernard roeng
    7 Oktober 2013
    • ainun
      7 Oktober 2013
  6. mantri
    8 Oktober 2013
    • ainun
      9 Oktober 2013
  7. anindya andari
    12 Desember 2013
    • ainun
      16 Desember 2013

Tinggalkan Balasan