Gaya Hidup Berubah, Sadarkah?

numpang narsis

Sudah berapa lama anda memiliki Handphone? Sadar gak kalau dulu HP cuma buat SMS dan telepon sekarang bisa apa saja bahkan menggantikan pasangan?

Terlalu ekstrim ya? Tetapi bukankah kenyataannya begitu. Ketika saya mengajar tentang social media di beberapa tempat dengan audiens yang berbeda-beda dari anak SMA sampai profesional, saya selalu menanyakan : “Siapa yang bangun tidur langsung mencari HP atau menaruh HP di dekat tempat tidur yang mudah diambil?” 50% lebih peserta mengangkat tangan. Ada yang malu-malu mengakui tetapi banyak juga yang dengan ringan mengangkat tangan.

Saya pun begitu. Ketika bangun tidur yang pertama dicari adalah HP. Alasannya sih lihat jam, karena memang tidak ada jam di kamar, tetapi selebihnya liat-liat social media di HP. Saya menyebut social media, karena di HP tidak hanya ngecek twitter atau facebook tetapi juga Path, Instagram, LinkedIn dan masih banyak lagi.

 

Sekarang dengan memiliki HP atau smartphone dunia terasa dalam genggaman. Kita bisa mengetahui segala informasi di belahan dunia mana pun. Kita bisa terhubung dan berkomunikasi dengan siapa pun di mana pun. Bahkan disadari atau tidak, perlahan tetapi pasti kita semakin mengurangi waktu membaca koran atau majalah maupun melihat TV. Sampai saat ini masih membeli majalah, tetapi suka lupa dibaca. Iya gak? Kenapa bisa begitu? Karena semua infromasi up-to-date sudah ada di twitter. Walaupun tidak semua informasi itu benar.

Perubahan gaya hidup yang perlahan tapi pasti, disadari atau tidak kemudian mempengaruhi pola kita dalam mengambil keputusan. Dulu saya tidak bisa dan merasa tidak akan mungkin belanja di online. Serangan promosi online shopping di berbagai channel social media tidak membuat saya tergerak, walaupun secara pekerjaan saya hampir 10 jam lebih ada di social media. Tetapi ketika satu per satu teman mulai belanja online dan bercerita bagaimana mereka mendapatkan benda yang diidamkan dengan harga miring, saya pun akhirnya menelan ludah sendiri. Ya, saya akui sekarang saya jadi salah satu member tukang belanja online. Dan itu bisa lebih bahaya daripada ke mall. Kenapa? Karena kita tinggal klak klik klak klik, dan barang pun sampai di depan pintu rumah.Visual yang menarik, harga yang lebih murah serta testimoni orang-orang sudah sangat cukup menggoyahkan iman.

Saya pernah melakukan survei kecil-kecilan di facebook. Kegiatan apa yang paling banyak dilakukan di facebook? Ternyata jawabannya 80% lebih adalah shopping online. Ada yang sekedar window shopping atau melihat-lihat saja, tetapi gak jarang juga yang belanja. Dengan berbagai alasan, yang harga murah, pilihan banyak dan langsung sampai rumah tanpa perlu macet-macet dan antri parkir di mall.

Kondisi jalanan macet pun ikut menyumbang kesibukan kita di social media.  Saya pun kembali melakukan survei kecil-kecilan di twitter apa yang mereka lakukan ketika terjebak macet di jalanan. Jawabannya adalah : update di social media, chatting sama temen, menelepon, tidur atau membaca. Paling banyak update informasi di social media dan chatting, kalau pun membaca banyak yang via gadgetnya. Sekarang bukan hal yang aneh  melakukan meeting pekerjaan via online. Saya pun sering  menyelesaikan  pekerjaan di jalanan. Dari sekedar membaca report sampai mengedit anggaran.

Kalau dari tadi ngomongin soal pekerjaan, bagaimana dengan menjadi orang tua? Mari kita tanya kembali, berapa banyak orang tua yang lebih sering berkomunikasi dengan anaknya via telepon daripada bertemu langsung? Buat orang tua bekerja, apalagi harus bekerja office hour tiap hari, HP adalah barang yang penting, bahkan mungkin lebih penting daripada pasangannya. Dengan HP kita bisa mengecek keberadaan anak, menanyakan aktivitasnya, bahkan membantu mengerjakan PR. Beberapa orang tua mulai menggunakan social media untuk berkomunikasi  dan mengawasi kegiatan anaknya. Siapa temannya, apa saja kesibukannya dan berapa lama main games, sekarang bisa dicek melalui social media.

Teknologi memudahkan banyak hal, tetapi di satu sisi mengurangi aktivitas fisik yang sebenarnya masih dibutuhkan. Kita semakin jarang bergerak, jarang berkunjung ke rumah teman dan saudara, dan walaupun jalan-jalan dengan keluarga tetap saja masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Berkurangnya aktivitas fisik mempunyai dampak negatif yang cukup besar kalau kita tidak berhati-hati. Dari semakin banyaknya penyakit yang timbul di usia muda hingga lemahnya kemampuan bersosialisasi anak-anak kita.

Lalu apa yang harus kita lakukan di era social media ini? Kita tidak bisa menghindar dari social media, karena sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Banyak aktivitas dan pekerjaan bisa dilakukan melalui social media. Informasi penting yang patut kita ketahui juga kesempatan dan peluang bisnis pun muncul di sana. Teknologi membuat segala hal berjalan lebih cepat dan membuat kita tidak boleh ketinggalan jika ingin maju. Kita hanya perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa harus larut dalam hiruk pikuknya. Begitu juga anak-anak kita. Sebagai orang tua kita harus menyadari, ada perubahan besar dalam perilakunya. Mereka dibesarkan dengan teknologi dan berteman melalui social media yang sangat berbeda dengan jaman kita kecil dulu. Yang terpenting adalah pahami perubahannya, kenali dunia baru dan bijaksana dalam menggunakannya. Manusia tetaplah manusia yang perlu interaksi dan aktivitas fisik. Menyeimbangkan online dan offline adalah salah satu cara menjadi bijaksana di era social media.

 

Social media adalah alat. Berguna atau berbahaya? Itu tergantung kita

 

One Response

Tinggalkan Balasan