2 Mei : Belajar Hingga Akhir Hayat

 

Beberapa jam lagi tanggal 2 Mei akan tiba. Semua yang pernah sekolah pasti tahu atau mungkin sudah lupa bahwa 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Penetapan ini terkait dengan sepak terjang Ki Hadjar Dewantara yang punya aksi nyata di bidang pendidikan. Dan tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran beliau (kalau tidak salah).

Bagaimana cara merayakan Hari Pendidikan Nasional? Diantara carut marut Ujian Negara, pro kontra kurikulum 2013, dan mahal biaya pendidikan formal, apa yang patut dirayakan?

Sebagai pendiri Akademi Berbagi (Akber), yaitu gerakan sosial dibidang pembelajaran, saya ditanya akan membuat sesuatu atau pernyataan khusus apa? Terus terang saya kebingungan. Diantara sekian tumpukan masalah dalam dunia pendidikan, apa yang harus saya kerjakan atau nyatakan duluan?

Tiba-tiba saya teringat beberapa hari lalu ada pertanyaan dari relawan Akber, “Sebenarnya apa fungsi Akber pusat buat Akber-Akber di daerah.” Saya tau banyak yang tidak setuju “term” pusat dan daerah, ini hanya menyalin pertanyaan saja supaya mudah dipahami. Tidak ada maksud membagi pusat dan daerah.

Pertanyaan itu pernah ditanyakan beberapa relawan lain, dulu. Saya terdiam. Bukan karena saya bingung mau jawab apa, tetapi saya bingung masih ada pertanyaan itu. Tetapi kemudian saya sadar, pemahaman kita tidak semua sama. Selalu ada perbedaan dalam menerjemahkan sesuatu, apalagi ini gerakan sukarela yang tidak ada hirarki yang tegas serta aturan yang baku.

Dulu, ketika awal saya membangun Akber, tidak direncanakan menjadi besar dan ada di berbagai kota. Berawal dari Jakarta, karena saya tinggal dan bekerja di sini. Karena kegiatan Akber selalu diposting di social media, banyak yang membaca dan ingin membuat kegiatan serupa. Tentu saja saya menyambut baik dan sangat senang dengan keinginan teman-teman di berbagai wilayah. Point penting dari Akber yang semua harus tahu adalah, kami tidak pernah meminta suatu kota untuk membuat Akber, kesadaran dan kemauan datang dari mereka masing-masing. Dan hal itulah yang menjadi kekuatan kita. Kemauan dan kesadaran pentingnya kegiatan belajar yang mudah di semua wilayah.

Karena kemudian banyak kota-kota lain yang meminta mendirikan Akber, kemudian kami pun membantu tahapan demi tahapan membangun Akber. Apa yang sudah kami kerjakan di Jakarta bisa diduplikasi di wilayah lain, dan tentu saja dengan berbagai modifikasi tergantung kondisinya. Sedikit demi sedikit kegiatan ini pun semakin besar. Akber kemudian menjadi sebuah brand yang dipercaya oleh banyak orang. Hal yang paling penting dan tidak mudah dalam membangun gerakan adalah membangun reputasi dan kepercayaan. Apalagi di dunia online, kepercayaan adalah faktor utama. Tidak semua niat baik mendapatkan respon yang baik. Perlu usaha yang baik, di jalan yang baik dan konsisten menyuarakan kebaikan itu apapun yang terjadi. Mudah? Tentu saja tidak. Butuh waktu, tenaga dan pikiran.

Reputasi dan nama Akber sudah cukup baik, dan kami mendapatkan kepercayaan dari masyarakat terutama yang ada di online. Buat teman-teman relawan yang ikut membangun di awal pasti merasakan jatuh bangunnya. Ketika kepercayaan sudah didapat, segala sesuatu menjadi lebih mudah. Walaupun kita tetap tidak boleh lengah. Selalu ada tanjakan terjal dan tikungan untuk menjadikan gerakan itu besar.

Apakah semua yang peduli dengan pendidikan harus bergabung dengan Akber? Tentu saja tidak. Ada beberapa teman saya yang terinspirasi oleh Akber kemudian membuat gerakan sendiri dengan brand sendiri. Saya tetap senang. Kenapa? Karena “value” Akber yaitu belajar , berjejaring dan bermanfaat untuk sesama, dipahami dan menjadi inspirasi untuk bergerak dan berbuat sesuatu. Jadi jiwa Akber ada dalam gerakan tersebut. Tidak penting kalau hanya sekedar nama, jauh lebih penting menjalankan nilai-nilai Akber di masyarakat. Walaupun saya tahu, teman tersebut harus berjuang extra keras, seperti saya diawal untuk membangun nama dan reputasinya. Memang tidak mudah karena perlu komitmen dan konsistensi. PR besar Negeri ini, bukan?

Bagaimana dengan mereka yang bergabung di Akber? Saya juga sangat senang. Karena punya banyak orang yang mau bergerak bersama-sama dalam satu payung keluarga. Tidak ada satu orang yang lebih berjasa daripada orang lain. Semua sama. Karena kita dalam satu keluarga. Kita lebih mudah menjalankannya karena jaringan besar yang dimiliki. Satu dengan yang lain saling mendukung dan membantu. Semua merasakan hal yang sama, bahwa tidak ada satu pun kesuksesan yang dibangun oleh satu orang. Saya sendiri meyakini, orang-orang yang berhasil di jaman sekarang ini adalah orang-orang yang memiliki jaringan besar.

Apakah masih perlu dipertanyakan bantuan satu pihak terhadap pihak lain? Apakah masih perlu dipertanyakan peran satu pihak terhadap pihak lain? Akber membebaskan setiap kota menginisiasi kegiatan belajarnya. Karena kami percaya setiap kota ada orang-orang hebat yang bisa menjalankan kelas dan mau berbagi ilmu secara cuma-cuma. Masyarakat setempat yang paling tahu kebutuhan kotanya. Kami warga Jakarta tahu apa? Sudah bukan jamannya lagi kami yang di Jakarta mengatur-atur yang di wilayah lain dan berlagak sok paling tahu. Bahwa kami mempunyai pembelajaran lebih dulu, iya! Maka dari itu, kami membantu membangun infrastukturnya, sedangkan yang mengisi adalah kalian-kalian penghuni kota tersebut.

Buat Akademi Berbagi, jumlah kota bukanlah tujuan. Yang terpenting adalah semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya dan memberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk semua orang agar lebih maju. Kalau kemudian ada salah satu kota yang mau keluar dan mendirikan kegiatan sendiri, kami pun tidak masalah. Karena kami percaya “value” itu telah tertanam di dalam jiwa relawan-relawan itu, sehingga apapun nama dan jenis kegiatannya akan membawa manfaat untuk sesama.

Pelajaran penting dari Akber adalah, teruslah belajar, berjejaring dan ambil kesempatan yang ada. Di setiap pertemuan guru dan murid, ada pembelajaran dan kesempatan yang bisa diambil sehingga kita menjadi manusia terdidik yang bermartabat.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, belajar bukan hanya di sekolah, belajar tidak terkait dengan usia apalagi jabatan dan letak geografis. Belajar adalah kewajiban seluruh umat manusia dari lahir hingga ajal tiba.

Jakarta, 2 Mei 2013.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

4 Replies to “2 Mei : Belajar Hingga Akhir Hayat”

  1. Selamat Hari Pendidikan Nasional, Mbak Ai. Di depan, Akber sudah menjadi contoh. Di tengah, Akber sudah menguatkan. Di belakang, Akber sudah mendorong sepenuh hati. Selamat atas pencapaian itu.

  2. boleh ya saya minta doanya untuk mendirikan pendidikan formal? semoga tidak keluar kata2 pendidikan formal itu mahal di lembaga pendidikan yang saya inisiasi hehe.

    untuk daerah cianjur, tidak bisa segencar dan secekatan daerah lain, karena mungkin culture yang berbeda, dimana ketika kita mempromosikan akber dgn kata-kata gratis malah dijawab :”kenapa gratis? berbayar aja”

    Selamat HarDikNas semuwaa….

  3. Berawal dari iseng2 ikutan kuis dari akun twitter @Samsung_ID, saya mengenal anda dan kegiatan anda sehingga saya tertarik untuk bergabung dengan AKBER. gimana ya caranya? saya belum paham. saya berasal dari Tulungagung Jawa Timur. saya sangat suka dan ingin mendukung gerakan sosial yang sedang anda bangun, apalagi bergerak di bidang pembelajaran. bertepatan dengan peringatan hari pendidikan nasional dan juga mungkin dalam rangka ikut kuis dari samsung ( hehehe ) saya pengen menyampaikan atau sharing dan juga minta saran dari anda terkait pandangan saya mengenai dunia pendidikan.
    Benar sekali yang anda tulis dalam artikel kali ini, kalau kita lihat dunia pendidikan di Indonesia memang masih bertumpuk2 masalah yang belum diselesaikan. Apalagi bersumber dari pendidikan itu juga, sebenarnya menjadi salah satu hal yang bisa disalahkan terkait kebobrokan birokrasi dengan segala aksinya yang di pertontonkan oleh media. Untuk memperbaikinya tentu juga tidak mudah mengingat virus itu sudah menyebar di seluruh tingkatan tertinggi sampai terendah dari sistem pranata negara.
    Saya ingin berbagi pandangan mengenai perbaikan pendidikan yang menurut saya benar2 “memanusiakan” manusia. Kalau masalah sistem saya percaya AKBER ini sudah tertata oleh tangan yang tepat. Objek/sasarannya pun sudah pasti anda bijak. Hanya saja ber”hati”2 oleh ulah oknum2 yang nantinya akan numpang popularitas ketika AKBER ini makin besar.
    Sejak kuliah di Univ. Brawijaya Malang saya membanting setir dari tadinya aktif di kegiatan BEM pusat yang saya rasa hanya untuk upgrade kemampuan diri saja untuk kembali ke desa saya mengaktifkan kegiatan sosial melalui karangtaruna yang memiliki dampak perubahan langsung dan banyak orang. Saya mencoba mewadahi bentuk pembelajaran holistik tanpa perlu sebuah gelar/pengakuan terkait 5 aspek penting dalam “hidup bahagia” yaitu bebas finansial, kesehatan, keamanan, agama dan kebutuhan kasih sayang (keluarga & ikatan sahabat). Saya mencoba menggabungkan beberapa disiplin ilmu yaitu psycology, hypnoteraphy, NLP, mind power, agama islam serta beberapa cabang ilmu pengembangan diri lain di tambah beberapa ilmu kearifan budaya lokal (dalam hal ini : khasanah Jawa) yang pada akhirnya bertemu pada titik yang saya sebut pembelajaran dengan berbasis “Hati”. Intinya adalah kembali menjadi default factory setting atau fitrah manusia yaitu makhluk yang sempurna. Mungkin akan lebih mirip model pendidikan di Finlandia, namun disana cuma sampai dimensi emosi belum sampai tataran hati/jiwa. Kalau di Indonesia prinsipnya sejalan dengan pelatihan dari Katahati institute.
    Saya menemukan role untuk mendasari semua pembelajaran entah itu terkait materi akademis, etika budaya, moralitas ataupun bisnis. Ini adalah tools untuk memulai mengembangkan diri menuju kemandirian pribadi yang pada akhirnya bisa bermanfaat untuk orang lain. Dengan hati, seorang yg makin berilmu akan benar2 seperti pepatah ilmu padi makin berisi makin merunduk. Dengan hati apapun disiplin ilmunya akan ketemu manfaat dan keterkaitannya satu sama lain. Saya ingin sekali menggali potensi kita yang dahsyat ini mengingat kita adalah pewaris dari suatu peradaban yang sangat maju di zamannya yaitu “bangsa atlantis” yang sudah dibuktikan kebenarannya berada di Indonesia. Kita harus merdeka dari penjajahan yang masih membelenggu bangsa kita (doktrin2 lewat media dan trend pergaulan). Kita gunakan kemajuan teknologi untuk mengungkap fitrah kesempurnaan manusia hasil ciptaan yang Maha Sempurna.
    Saya ingin berkontribusi di AKBER untuk saling bertukar pikiran mengenai konsep pembangunan SDM yang tentunya dipelopori orang2 terpilih yang tak punya tendensi apapun, tapi tulus dari “hati”. Mari kita samakan bahasa, samakan pemahaman dan menyamakan visi misi ke depan. Harapan saya semoga anda berkenan menanggapi saya yang masih bodoh dan awam ini. Terima kasih.. masalah teknisnya pembelajaran berbasis hati bisa dibicarakan dalam kesempatan selanjutnya.

Tinggalkan Balasan