Teknologi, Dihindari atau Dimanfaatkan?

Akhirnya video tentang kegiatan sains anak saya selesai dibuat dan sudah tayang di sini. Waktu video itu saya tunjukkan kepada Kika anak saya, dia girang banget. Kika teriak-teriak melihat dirinya dan teman-teman serta Pak Joy guru sains ada di video tersebut.  Bisa ditebak, kemudian link video tersebut disebarkan Kika kepada teman-temannya. Ohya Pak Joy ini adalah salah satu guru favorit Kika, menurutnya cara mengajarnya menyenangkan, banyak bercerita dan membebaskan anak-anak untuk berkreasi dengan melakukan berbagai macam percobaan dan mempraktekan ilmu sains.

Kika usia 9 tahun sudah sangat paham dan memanfaatkan teknologi baik laptop maupun internet. Youtube adalah salah satu kanal yang biasa dia lihat, begitu juga dengan teman-temannya. Mereka dengan sangat mudah berbagi informasi dengan cukup menyebarkan link nya. Selain itu, jika ada tugas dari sekolah atau ada hal-hal yang pengin diketahui, Kika selalu mencarinya di Google. Selain mencari informasi, anak-anak juga main games. Jadi bukan hal yang aneh jika anak-anak menenteng gadget kemana-mana.

Disatu sisi hal tersebut sangat berguna dan bermanfaat untuk anak-anak belajar dan mendapatkan informasi, di sisi lain hal tersebut menakutkan. Informasi mengalir begitu deras, dan banyak konten yang berbahaya untuk anak-anak. Atau banyaknya games di online bisa membuat anak-anak kecanduan. Bagaimana menyikapi hal itu?

Saat ini sudah tidak mungkin lagi menghindarkan anak-anak dari teknologi, kalaupun kita tidak memberikan akses mungkin di luar dia tetap bisa menggunakannya. Sifat anak-anak yang penuh rasa ingin tahu pasti mencari berbagai cara agar bisa mengakses teknologi. Jalan yang menurut saya bisa ditempuh adalah, membekali dan mendampingi anak-anak dalam memanfaatkan teknologi. Kali ini perlu peran orang tua dan guru.

Salah satu contoh adalah pelajaran sains di sekolah anakku SD Kupu-Kupuseperti di video ini:  http://www.youtube.com/watch?v=4-lXo-vGPjU&feature=youtu.be Mereka melakukan berbagai percobaan untuk mempraktekan ilmu sains yang telah dipelajari.  Dalam melakukan percobaan, mereka membutuhkan berbagai informasi peralatan dan perlengkapan yang harus dipersiapkan dan bagaimana membuatnya. Bersama dengan gurunya, murid-murid bisa mencari informasi itu di internet. Dengan hanya membuka laptop dan kemudian browsing dengan didampingi guru. Di sini guru bukan hanya mengajarkan tentang sains, tetapi juga mengarahkan bagaimana mencari informasi di internet sekaligus mengenalkan aturan dan rambu-rambunya. Anak-anak bisa tetap memenuhi rasa ingin tahunya  tanpa membahayakan dirinya. Seperti yang ada di video ini  http://www.youtube.com/watch?v=4-lXo-vGPjU&feature=youtu.be Anak-anak bisa mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi, para guru dan orang tua mendampingi dan mengarahkan.

Waktu belajar di sekolah terbatas, sedang pengetahuan yang ingin dipelajari banyak sekali. Teknologi memungkinkan anak-anak tetap belajar walaupun sudah tidak di sekolah. Mereka bisa berkomunikasi dengan gurunya, dengan menggunakan teknologi. Anak-anak sekarang banyak yang sudah memanfaatkan social media. Kika pun begitu. Saya tidak bisa mencegahnya, tetapi bisa mengawasi dan memberikan pembelajaran. Karena umurnya masih 9 tahun email masih saya pegang, dan notifikasi masuk ke email saya. Beberapa settingan saya buat privat atau dilock. Saya tetap bisa memonitor apa yang dikerjakan Kika di social media. Tetapi tanpa saya duga sebelumnya, ternyata dia juga menggunakan social media untuk mendiskusikan PR, buku yang sedang dibaca dan project sains dengan teman-temannya. Sang guru pun ada di social media tersebut. Suatu kali saya melihat anak saya ngobrol dan bertanya pada guru tentang hal-hal yang tidak dia ketahui mengenai sains, dan mereka membicarakan secara jarak jauh. Dari situ anak saya juga belajar menuliskan apa yang ada dipikirannya dalam bentuk tulisan yang bisa dipahami oleh orang lain melalui social media.

Jaman sekarang justru akan jadi aneh jika menjauhkan teknologi dari pendidikan anak-anak karena mau tidak mau, teknologi sudah menjadi bagian penting kehidupan. Dari pada menjauhi, kenapa tidak kita kenali dan manfaatkan untuk kebaikan. Bukan hanya untuk murid tetapi juga guru. Mereka bisa menambah ilmu dan wawasan di online. Sekarang banyak sekali pembelajaran online dan gratis. Jadi tidak ada alasan lagi bahwa gajinya tidak mencukupi atau tidk punya waktu untuk mengembangkan dirinya. Apa jadinya jika guru-guru tidak memahami ilmu yang berkembang di luar sedangkan murid-muridnya sudah sedemikian fasih menggunakan teknologi?

Pendidikan bukan sebuah kurikulum baku untuk menghasilkan nilai ujian, tetapi sebuah ilmu yang terus berkembang seiring perkembangan jaman. Teknologi bisa menjadi jembatan penting untuk pendidikan.

 

One Response

  1. Billy Koesoemadinata
    3 April 2013

Tinggalkan Balasan