Nonton Konser ke Negeri Tetangga

Sebuah cerita menjelang akhir tahun 2012.

Sumpah ini adalah keputusan paling absurd dan impulsif yang pernah saya lakukan. Semua ini gara-gara perbincangan di twitter antara saya, @mellpr @imamsubchan dan mas @mintorogo. Diawali dengan twit @kartupos yang mengumumkan STING bakal ke Singapore dan ada paket lengkap: tiket pesawat, hotel dan tiket konser dengan harga promo! Saya seringkali posting lagu-lagu STING di twitter kemudian dikompor-komporin sama geng di atas itu (sesama penggemar STING) untuk nonton langsung dan seseruan bareng. Katanya gak kaffah sebagai galauers STING kalo belum menyaksikan langsung lagu “Fragile” dinyanyikan. Dan entah sedang kesurupan atau apa, bercandaan kita di twitter tentang menghadiri konser di Singapore ditanggapi serius oleh @mellpr dan tau-tau, “Mbak aku udah beliin tiketnya untuk kita berdua.” GLONDANG…!!!! Hahaaa…begitulah cerita awalnya. Dan kami berdua pun akhirnya berangkat ke Singapore tanpa mas-mas dua itu yang cuma rempong di timeline hehehee…

Dengan mental (sok) backpackeran kami pun berangkat dengan menggunakan pesawat Air Asia, ohya seumur-umur saya belum pernah naik, jadi cukup menyenangkan naiknya dari terminal 3 bandara Soeta. Sebelumnya kita ribut soal bawaan, perlu gak bawa tas yang cukup gede mengingat cuma 2 hari satu malam. Teteup ya boook…emak-emak mah rempong dengan bawaan. Kalo saya sih menyadari ukuran yang tidak biasa seringkali sulit mencari baju atau sandal, sehingga selalu bawa cadangan siapa tau di sana ntar keguyur hujan, baju robek kecantol pintu MRT atau sepatu jebol (ini sering terjadi pada diriku. tanyakan pada blogger tua ini.)

Sampai di Changi, Alhamdulillah mendarat dengan selamat, kami celingukan. Terus naik apa ke hotelnya? Hahaaa…saya pikir @mellpr sudah sering ke Singapore sendirian, ternyata kami sama-sama belum pernah keluar Changi tanpa dijemput. Biasanya sudah ada yang menunggu di pintu kedatangan, sudah disiapkan mobilnya kalo perlu kartu MRT untuk jalan-jalan sudah disiapkan, pokoknya beres. Dan pecahlah tawa kami berdua ternyata sama-sama gak mental backpackeran sodara-sodara!

Oke, mulailah kami membaca semua petunjuk dengan seksama, mengumpulkan peta, flyer dan segala macam informasi mengenai Singapore. Langkah pertama mencari cara keluar dari bandara yang gak pakai taksi. Pastinya MRT lah. Ternyata semuanya mudah, sampai kemudian kami di stasiun MRT dan menanyakan jika kami ingin ke Bancoolen harus turun di stasiun mana. Sang petugas menjawab : Bugis. Okesipp! Dan ternyata salaaaaaah…hahahaaa…

Untuk menuju Bugis kami harus turun di interchange dan tukar rute MRT-nya. Pokoknya sampai Bugis amanlah. Drama terjadi ketika keluar dari Bugis dan bertanya kepada petugas untuk ke Bencoolen cukup jalan kaki atau naik bis, dan dia bilang jalan ajah. Dan kami pun keluar pas disambut hujan. Hmmmm…ini hujan hobi banget mengikuti kami hingga ke negeri orang. Sambil berbasah-basahan kami bertanya ke sana ke mari di manakah gerangan Bencoolen. Ternyata banyak yang gak tau, bahkan ada beberapa yang memberi petunjuk yang salah. Kami pun memutuskan mampir ke seven eleven buat beli jas hujan dan mencari makan. Tampak di samping seven eleven ada restoran Thailand yang cukup menggoda. mampirlah kami dan makan. Ternyata makanannya enak, tom yam noodles yang cocok di makan kala hujan. masih ditambah loenpia dan dessert mangga ketan. Kenyang dan shock karena mahal!

Perjalanan kami lanjutkan dan masih berputar-putar untuk menemukan jalan Beencoleen. Akhirnya kita menemukan gedung Beencoolen Centre, waah berarti sudah dekat! Dan mulailah kami bertanya di mana letak Hotel 81. Sepertinya kami memang ditakdirkan untuk banyak bertanya supaya sesat di jalan. Hampir semua yang kita tanya tidak tahu hotel itu di mana. Bolak-balik udah kayak seterikaan akhirnya @mellpr memutuskan untuk menelpon hotel. Untung sudah diisi pulsa dan dibuka roaming internasionalnya. Sampai pulsa habis, penjelasan petugas hotel tidak membantu sama sekali. Kami terpaku di perempatan sambil bingung : lurus, balik, ke kiri atau ke kanan? Akhirnya kita putuskan bertanya kepada anak muda yang lagi nongkrong, dan Thanks God ternyata ada jawaban darinya yang cukup mencerahkan.

Sekarang saya baru tahu kenapa hotel itu susah dicari. Ketutupan bedeng-bedeng pembangunan MRT baru, Jendral! Lumayan juga jalan-jalan kurililingan Singapore sambil hujan-hujan. Kaki keras baju basah dan pegal sekujur badan. sampai di resepsionis hotel, mereka mmberikan kabar gembira: stasiun MRT hanya 2 menit dari situ dan itu bukan Bugis tapi Bras Basah! Cekikikan mentertawakan diri sendiri kami lanjutan sambil menuju ke kamar kami di lantai paling atas 14, dengan lift yang kecil. Agak deg-degan karena saya gak terlalu suka di kamar hotel yang tinggi.

Kamarnya lumayan bersih, dan kami pun memutuskan untuk leyeh-leyeh. @mellpr menyuruh saya menyalakan TV dan saya pun dengan refleks teriak, “remotenya mana?” Di Singapore sebuah kota metropolitan kelas dunia, ternyata TVnya gak pake remote, cukup pake jempol. (ngakak guling-guling). Dan kami pun menikmati ketololan demi ketololan selama di Singapore.

Menjelang jam tujuh malam, duo Emak pun bersiap-siap berangkat menonton konser. Sebelumnya oleh @Kartupos diberitahu untuk membeli tiket MRT sebelum konser, dasar kami sok tau dan menyerahkan nasib kepada hujan (tsaaaah…) kami berangkat nonton konser naik MRT tanpa membeli untuk pulangnya. Sempat deg-degan kalau telat dan mesti desak-desakan. Ajaib! Dari stasiun MRT ke National Stadium tempat konser berlangsung hanya perlu jalan kaki gak sampai 500 meter dan walau hujan rintik-rintik gak becek dan gak perlu antre atau pun desak-desakan! Sampai di Stadium petunjuknya jelas, dan pintu masuknya banyak diatur sesuai tempat duduk. Tertib, lancar, dan bisa duduk manis nonton konser tanpa menunggu berjam-jam kaki pegal. Menyenangkan!

Seumur-umur, saya belum pernah nonton konser sempat under estimate “paling gitu-gitu ajah” kan panggungnya jauh. Tapi yaaa….ternyata sepanjang konser saya ternganga dan takjub menikmati lantunan STING, seolah menyihir seluruh badan untuk tunduk dan mengikuti irama demi irama yang terkadang menghentak, tapi banyak juga yang mendayu haru. Begitu lagu FRAGILE dinyanyikan, baru sekali itu saya merasakan sensasi merinding dan bergetar seluruh badan hingga kaki. Amazing! Menyaksikan langsung sebuah lagu favorit dinyanyikan ternyata memberikan pengalaman yang berbeda dan luar biasa. Hingga konser usai, rasa merinding masih terasa di badan. Kekagumanku makin menjadi-jadi dengan performa STING yang luar biasa, menyanyikan semua nada tinggi dengan rileks tidak nampak terengah-engah atau pun capek. Semua nadanya stabil hingga usai di usianya yang tidak muda lagi. GREAT STING!

Pulang nonton, dengan hati senang karena puas lupa deh soal kartu MRT. Dueeeng…! Bener juga ternyata, antrinya panjang kali jejer-jejer untuk membeli tiket. Hahaaa….ke-sotoy-an kami memang harus dinikmati. Sambil ngantre ( catet ya : antre-nya tertib kog) seperti biasa mata kami beredar mengawasi orang-orang yang antre juga. Bisa ditebak, 80% pengantri adalah penonton STING dari Indonesia dan banyak artis serta model. Dan kami pun kemudian menghibur diri, tuuh artis dan model Indonesia juga antri beli tiket MRT. Kapan lagi kita berdiri bareng-bareng mereka di stasiun hahahaaa….Biasanya hanya melihat dari jauh dan turun dari mobil mewah :p Singapore membuat kami setara!

Setelah menginap satu malam, paginya masih ada waktu setengah hari dan kami gunakan jalan kaki keliling hotel, secara yaa…mall kan baru buka jam 10 bahkan ada yang jam 11. Memang kami tidak direstui untuk membuang duit di Orchard. Awalnya memang tidak mau belanja, kan ceritanya backpacker masak shopping sih? Tapi emak tetaplah emak, usai check out kami pun tergoda menuju pusat belanja 24 jam : Mustafa Shopping centre. @mellpr yang belum pernah ke sana, kemudian kalap. Segalanya tampak murah dan indah hahaha…. Alhasil kami pulang menuju airport dengan tambahan satu koper besar plus isinya :)

Sampai di Changi, ternyata duit dollarnya masih sisa banyak (suiiit…suiiit…) dan belanja dilanjutkan lagi dong! Tetapi karena tidak ada yang menarik, akhirnya kami pun nongkrong di kopitiam. Ohya sepertinya kami berjodoh dengan chef sexy Farah Quinn karena baik terbang ke Singapore maupun balik Jakarta selalu bersamanya. Tapi sumpah kami gak minta foto bareng kog. :p 

Perjalanan yang menghebohkan sekaligus menyenangkan, kata @mellpr sepertinya perlu diulang kembali. Pelajaran penting buat kami adalah : janganlah sok backpacker-an ya booook…….udah gak bakat dan jadinya rempong gak karuan. Hahahaaa…..

Hai Mell, terimakasih atas ke-absurd-an mu karena menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan :’)

 

10 Responses

  1. tenik Hartono
    4 Februari 2013
    • ainun
      4 Februari 2013
  2. venus
    4 Februari 2013
    • ainun
      5 Februari 2013
  3. Oom Yahya
    9 Februari 2013
    • ainun
      10 Februari 2013
  4. jensen99
    11 Februari 2013
  5. Billy Koesoemadinata
    12 Februari 2013
  6. Chika Djati
    28 Februari 2013
  7. pipit
    28 Januari 2014

Tinggalkan Balasan