Toilet sekolah, sudah higienis?

 

(Foto punya @bangsari)

Pada jaman dahulu kala….ejieee…pas Kika TK, dia pernah kena infeksi saluran kencing. Aku kaget dan panik dong, karena Kika kemudian harus dirawat di rumah sakit. Usut punya usut ternyata anakku suka nahan pipis kalo lagi di sekolah. Ketika ditanya kenapa, jawabnya takut ke toilet karena gelap dan licin.

Ini sekolah di perkotaan dan bayarannya gak murah, gimana dengan toilet sekolah yang murah atau gratisan? Toiletnya dirawat dengan baik gak? Bukan berarti sekolah yang murah atau gratisan toiletnya pasti buruk lo..tetapi masih banyak sekolah dengan kondisi yang memprihatinkan. Gak usah jauh-jauh deh. Waktu aku menuliskan soal ini di twitter, ada salah satu follower yang bercerita di sebuah sekolah di Parung tidak ada kamar mandi atau toiletnya, anak-anak kalo buang air besar atau kecil lari ke kebun di belakang sekolah. Ini Parung lo yaa…masih berbatasan dengan ibukota Jakarta, gimana dengan kota-kota lain dan di luar Jawa?

Kesadaran kita akan pentingnya toilet yang higienis masih rendah. Bahkan di mall-mall besar masih ada toiletnya yang jorok. Bukan karena kondisi fisiknya, tetapi tidak dipelihara dengan baik. Karena selama ini kita selalu menganggap kebersihan toilet adalah tanggung jawab cleaning service atau penjaga toilet, dengan alasan sudah dibayar. Padahal seharusnya penanggung jawab toilet adalah semua yang menggunakannya. Setiap pemakai harus memastikan ketika sudah selesai semuanya bersih dan sampah tidak berserak-serak. Kloset sudah diguyur dengan benar. Kalao pemakai tidak punya kesadaran, kasihan si tukang jaga toilet pekerjaannya akan sangat banyak dan seringkali tidak bisa benar-benar bersih.

Balik ke sekolah, pernah gak dihitung berapa lama anak-anak kita di sekolah? Dalam waktu tersebut, berapa kali seharusnya anak ke toilet? Toilet sekolah seringkali dianggap tempatnya hantu, atau tempat mem-bully siswa. Dan seringkali letaknya jauh di belakang atau di pojokan. Hal itu semakin menguatkan bahwa toilet adalah sarangnya kejorokan. Padahal setiap anak punya kebutuhan untuk ke kamar mandi. Maka tidak bisa disalahkan jika si anak lebih memilih menahan pipis kemudian sakit daripada ke toilet sekolah.

Belum lagi, pembedaan toilet. Kalo toilet guru seringkali lebih bersih dan hanya boleh digunakan oleh guru. Seakan-akan hanya guru yang berhak toiletnya bersih. Padahal semua penghuni sekolah berhak mendapatkan toilet yang bersih dan higienis. Tahu kan kalo toilet adalah sarang kuman terbesar? Bagaimana jika tidak dipelihara dengan baik? Dan sudah seharusnya semua komponen sekolah harus diajarkan bahwa kebersihan toilet adalah tanggung jawab bersama : guru, murid dan petugas sekolah.

Toilet adalah bagian penting dari sekolah, dan sudah saatnya kita memperhatikan dengan baik. Dulu waktu aku mencari sekolah untuk anakku, karena trauma dengan sekolah sebelumnya aku selalu memeriksa kondisi toiletnya. Dan jangan sampai toilet jadi ajang anak-anak melakukan bullying. Kalau bukan kita yang mulai peduli, akan sampai kapan kondisi toilet dibiarkan terus jorok dan gak layak?

Langkah kecil sudah dimulai oleh Domestos, dengan mengajak semua orang untuk memiliki kesadaran pentingnya menjaga toilet tetap higienis dengan program 1.000 toilet sekolah higienis dan dilanjutkan dengan program Sekolah Higienis. Kita bisa sekolah-sekolah yang memilik toilet dengan kondisi yang buruk, dengan cara mengirimkan foto, alamat sekolah dan alasannya kenapa perlu ditingkatkan sanitasinya ke: Gerakan Toilet Higienis atau kalau kesulitan bisa kirim via email ke: toilethigienisdomestos@gmail.com

Program ini untuk sementara khusus di Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi. Yuk pada ikutan mumpung ada yang mau bantu meningkatkan toilet sekolah, supaya anak-anak bisa belajar dengan tenang dan yang pasti sehat!

4 Responses

  1. sabaiX
    13 Desember 2012
    • ainun
      16 Desember 2012
      • anisya brynda adha putri abdillah
        6 Mei 2013
        • ainun
          6 Mei 2013

Tinggalkan Balasan