Kumpul Keluarga

Siang itu di hari minggu sedang leyeh-leyeh ketiduran di sofa depan tv, salah satu cara liburan yang menyenangkan, dapat bbm : “lagi di mana? Diajak kakak makan di PIM yuk.” Bergegas bangun dan mengajak Kika untuk siap-siap berganti baju dan segera meluncur mencari taksi yang bisa membawa kami ke PIM.

Kakakku seringkali begitu, gak ada rencana dan bukan merayakan apa-apa mengajak semua adik-adik berserta anak dan ponakan jalan-jalan atau makan-makan. Apalagi kalau Ibu datang berkunjung ke Jakarta, secara serentak semua anak-anaknya yang di Jakarta datang dari segala penjuru berkumpul menemui Ibu. Biasanya begitu sampa Jakarta Ibu menuju rumah anak tertua. Setelah menginap sehari dua hari Ibu akan keliling ke rumah anak-anaknya yang di Jakarta  dan sekitarnya, supaya adil katanya :)

Kumpul keluarga jadi kewajiban tidak tertulis yang kami lakukan dengan sadar dan senang hati. Kami enam bersaudara dan sudah berkeluarga semua selalu menyempatkan untuk bertemu walaupun kadang hanya sekedar ngobrol di rumah saja. Dalam setahun lebih dari sekali kami berkumpul secara lengkap, dan salah satu kakakku dulu ada yang tinggal di luar negeri pun selalu menyempatkan untuk pulang. Kami masing-masing sudah berkeluarga dan mempunyai pandangan yang berbeda-beda dalam menyikapi hidup tetapi kami selalu kompak untuk meluangkan waktu berkumpul. Dan sudah menjadi kebutuhan juga.

Aku tidak selalu sepaham dengan saudara-saudaraku, bahkan beberapa kali kami berbeda pendapat atau berselisih, tetapi ikatan kami sangatlah kuat sehingga tidak pernah terjadi perpecahan yang serius. Beberapa teman saya heran atas kedekatan kami, dan mereka ada yang terganggu dengan hubungan yang terlalu dekat dengan keluarga. Karena menurutnya jadi kurang punya privasi dan seringkali keluarga maunya ikut campur urusan pribadi kita. Acara kumpul keluarga seringkali jadi momen yang tidak menyenangkan dan kalau bisa dihindari. Pertanyaan-pertanyaan klasik seperti kapan nikah, kapan punya anak, dan gosip-gosip internal membuat bete. Kalau di keluarga besar, hal-hal tersebut memang seringkali terjadi tetapi Ibuku mengajarkan untuk tidak peduli dan anggap bahwa pertanyaan-pertanyaan itu bentuk perhatian mereka dan tidak tahu mesti bicara apa untuk menunjukkan perhatiannya.

Bersyukur aku lahir di keluarga Chomsun yang satu dengan yang lain saling mendukung dan tanpa mencampuri urusan pribadi. Karena kami semua sudah berkeluarga sudah tentu mempunyai cara pandang yang berbeda dalam menyelesaikan masalah, dan kami tidak saling memaksakan pendapatnya. Ibu yang selama ini menjadi perekat dan sumbu di keluarga kami. Beliau yang mengajarkan kepada kami bahwa saudara-lah sandaran yang paling tanpa pamrih dan mereka akan selalu ada untuk mengulurkan tangannya ketika yang lain jatuh. Karena sakit salah satu adalah sakit kita semua. Begitu juga bahagia satu orang adalah kebahagiaan satu keluarga. Kepada keluarga kita bisa mencurahkan semuanya tanpa merasa khawatir akan disalahkan atau menjadi bahan pergunjingan, karena kami selalu saling menjaga.

Berkali-kali mengalami “jatuh” semakin menyadarkanku, keluargalah yang selalu mengulurkan tangan pertamanya, dan mereka akan selalu mendukung dan menggenggamku sampai berdiri tegak dan kembali berjalan. Mereka akan selalu ada untukku. Dengan caranya masing-masing saudaraku menunjukkan kasih sayangnya.

Terimakasih Tuhan saya lahir di keluarga ini, dan saya bahagia menyandang nama Chomsun di belakangnya :’)

2 Responses

  1. Bangsari
    30 November 2012
    • ainun
      30 November 2012

Tinggalkan Balasan