#pergikeAmrik : Sebuah Perjalanan Kehidupan

Alhamdulillah..

Terimakasih Tuhan, atas berkahMU yang tidak aku sangka-sangka. Pergi ke Amerika, terutama New York adalah salah satu impianku gara-gara nonton film Autumn in New York. Rasanya kota itu seperti menarik diriku dan wajib kudatangi sebelum mati. Padahal kalau dipikir dari mana uangnya? Entahlah, yang penting mimpi dulu aja :)

Suatu siang, tiba-tiba ditelepon teman dari US Embassy Jakarta, Dian. Dia tanya bulan Juli ada kegiatan gak. Masih bingung dengan pertanyaan itu, aku jawab ada sih jadi pembicara di International Youth Conference. Dian tanya : ” Mau gak ke Amerika?” Aku terbengong, bingung gak tahu mau jawab apa. Pergi ke Amerika dalam waktu sebulan? Kaget dan bingung aku jawab ke Dian, nanti dikabari deh, bisa pergi atau enggak. Kalau yang lain kegirangan dengar berita dapat undangan pergi ke Amerika, aku malah stress. Yang ada di kepalaku, bagaimana aku bisa meninggalkan Matahati, putriku dalam waktu yang cukup lama? Mimpiku pergi ke Amerika itu bersama Matahati, mennyusuri kota New York dan menikmati setiap sudut berdua. Kalau sendiri, entar dulu. Jadwal keberangkatanku bertepatan dengan liburan anakku, dan aku sudah berjanji akan mengantarnya liburan. Selain itu, aku kan bekerja fulltime dan baru enam bulan, apa boleh aku pergi selama itu? Belum masalah lain-lain yang harus dibereskan. Pemberitahuan yang cukup mendadak dan sempat membuat kebingunganku memuncak. Di satu sisi ini kesempatan yang sangat berharga, di sisi lain aku bingung meninggalkan anakku dan segala kewajibanku dalam waktu yang cukup lama.

Ketika bingung, Ibu lah tempat aku bertanya dan meminta pendapat. Ketika kutelepon, beliau langsung tanpa ba-bi-bi-bu : “Pergilah! Anakmu titipkan aku saja.”

Akhirnya, aku menghadap Boss di kantor dan menyampaikan kabar tersebut dan syukur Alhamdulillah mereka mengijinkan aku pergi. Keputusannya: berangkat! Hati masih kebat-kebit dan mewek kalau ingat bakal ninggalin anak dalam waktu yang lama. Sebelum pergi, aku kirim anakku liburan di rumah Eyang di Salatiga. Pagi-pagi sebelum subuh, kutinggalkan anakku dengan beruraian airmata, dan Matahati pun menangis. “Ah, nak..maafkan kali ini Ibu pergi sendirian. Semoga lain kali kita bisa pergi bersama-sama ke Amerika.

Tepat tanggal 29 Juni, jam 8 malam aku sudah duduk manis di bandara Soekarno- Hatta Jakarta bersama rombongan : Simbok Venus, Evi Zain, Sofiar dan Feri setelah sebelumnya pagi sampai siang ada briefing di US Embassy. Deg-degan dan sedih yang mendalam campur aduk gak karuan. Berbagai peraturan dan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika memasuki Amerika membuat hati ini semakin kebat-kebit. Benarkah Amerika seseram itu? Mari kita lihat.

Pesawat pertama yang membawa kami adalah Garuda Indonesia jurusan Jakarta – Narita Jepang dengan waktu temput kurang lebih 6 jam. Selanjutnya di Narita transit kurang lebih 5 jam, keriting deh pokoknya. Sempat di Narita kebingungan mencari pintu check in untuk connecting flight dan tersasar ke imigrasi bagi penumpang yang mau masuk ke Jepang. Petuga imigrasi pun kebingungan kenapa kami tidak punya visa Jepang. Berkali-kali diterangkan bahwa kami hanya transit tetapi tetap saja mbundet hahaa.. Akhirnya ketemu dengan mbak-mbak cantik petugas kesehatan yang mengantarkan kami ke pintu conecting flight yang ternyata nyempil gak kelihatan. Gustiiii…bandara segede gambreng, pintunya nyempil gitu. Ternyata karena masih pagi, pintu yang utama belum buka.

Sempet keleleran di bandara Narita, dan gak ada pemadangan yang cukup bagus untuk dilihat (maksudnya: shopping hehee), toko-tokonya sedikit dan mahal. Penerbangan selanjutnya dengan menggunakan pesawat Delta milik Amerika dengan rute Narita – Detroit dengan waktu tempuh kurang lebih 11 jam. Duaaarr! Duduk di kursi ekonomi yang gak cukup ramah untuk orang berkaki panjang, silakan bayangkan sendiri hahahaa… Dan ternyata masih sehat dan baik-baik saja kog sampai Detroit, hanya makanannya karena yang reservasi minta kita dikasih makanan halal jadinya vegetarian sepanjang perjalanan dan kari! Huhuuu…i hate kari, you know? Ini gegara tinggal di Singapore selama hampir sebulan, tiap makanan halal adanya kari jadilah aku bermusuhan dengannya hingga sekarang. Indomie kari ayam pun aku tak doyan, Jendral! *Salahkan Singapore :D*

Amerika!

 

Akhirnya kami pun mendarat di tanah harapan banyak orang untuk menjadi imigran baik gelap maupun terang. Sempet deg-degan waktu di bagian pemeriksaan imigrasi, karena info yang aku peroleh pemeriksaannya sangat ketat dan barang-barang diperiksa dengan teliti. Sampai-sampai bawa Indomie pun aku tak berani. Usai pemeriksaan visa dan passport, jantungku nyaris copot karena aku masuk dalam random check untuk diperiksa bagasinya dua kali. Duh Gusti…semoga lolos dan gak ada pemeriksaan kedua. Konon katanya kalau masuk dalam pemeriksaan kedua bakal lama interview-nya dan bisa-bisa ditinggal rombongan. Bagaiman jadinya aku, kalau ketinggalan rombongan? Bahasa Inggris pas-pasan, dan belum pernah masuk Amerika pula!

Alhamdulillah ternyata semua lancar-lancar saja, bahkan petugas bandaranya ramah dan sangat membantu. Jauh dari bayangan yang menakutkan. Apalagi namaku sangat Arab, yang konon katanya susah masuk ke negera Pam Sam. Ternyata lolos. Mungkin aku dikira Arab-Cina ya, karena semua melafalkan namaku dengan : Com – Sun hahaa..

Detroit yang sepi. Bandaranya yang besar dan megah tidak sebanding dengan keriuhannya. Begitu kami memasuki gate untuk penerbangan lokal nampak lengan. Ini bandara atau kuburan? Lebay sih, tapi beneran sepi. Jauh dari bayanganku sebuah bandara yang sibuk dan penuh sesak kayak terminal satu Soekarno-Hatta. Ketika aku ngetwit soal sepinya Detroit, ternyata banyak yang nyaut. Akibat krisis ekonomi, pabrik-pabrik mobil dan otomotif di Detroit bangkrut, dan orang-orang pun meninggalkan kota yang megah itu. Dan aku begitu takjubnya. Bisa ya sebuah kota bangkrut dan orang berbondong-bondong pergi meninggalkan kota ini mengadu nasib di negara bagian lain. Semudah itu ya? Kemudian perjalananku keliling Amerika memberikan jawaban atas hal itu.

Setelah di Detroit berhenti kurang lebih 3 jam, kami melanjutkan penerbangan masih menggunakan pesawat Delta menuju Washington DC dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam kalu gak salah. Soal perubahan waktu, udah gak karu-karuan. Siang terus sepanjang masa, gak pernah ketemu malam! Badan udah luluh lantak gak karuan.

Kota pertama : Washington DC.

Dari sini semua program dimulai, dan untuk pertama kali kami bertemu pendamping kami, interpreter yang akan menemani seluruh perjalanan meeting ke 6 negara bagian.  Sebelum sudah dikasih tahu mengenai jati diri sang interpreter, dan dalam bayanganku mereka sudah sangat senior (gak berani bilang tua takut dimarahi :D ). Ternyata masih cukup muda, tetapi tampilan mereka sangat formal sesuai bayanganku. Bakal asyik gak ya jalan sama mereka selama 21 hari? Let’s see..

Pak Hengy Chiok dan Ibu Sih Nunu, nama kedua interpreter pendamping kami. Setelah ditanya mengenai  kabar dan bagaimana perjalanannya, kami menuju mobil jemputan yang sudah menunggu. Sampai di Washington matahari masih bersinar dengan gahar walau waktu menunjukkan pukul 6 sore. Iya aku tiba ketika summer di mana matahari lagi hobi banget nangkring hingga jam 9-10 malam. Panas? Tentunya! Double Tree hotel adalah tempat kami menginap dan untuk pertamakalinya bertemu kasur setelah perjalanan panjang. Tetapi kita ini memang rombongan tangguh. Bukannya istirahat, malah jalan kaki keluyuran cari makan dan perlengkapan. Ohya di Anerika kalau masih 1-10 blok biasanya jalan kaki. Gempor neeek! Buat aku yang jarang jalan kaki di Jakarta cukup membuat betis ngilu dan lutut kemudian bermasalah sehingga timbullah cerita lutut yang somplak.

Washington DC bukan kota yang sibuk, nampak lebih tenang walaupun sesekali ada kemacetan. Kota dengan design kotak-kotak dan bangunan yang tidak tinggi, mungkin tidak ada yang melebihi tingginya monumen Washington nampak formal dan sedikit kaku. Ya mungkin karena ini pusat pemerintahan. Rangkaian meeting pun dimulai, tetapi aku tidak akan cerita soal isi meeting secara detil, sumpah nanti basi.  Ohya sebelum meeting, ada satu hari yaitu Minggu kita jalan-jalan ke makam Jhon F Kennedy, Monumen Marthin  Luther King, Lincoln Memorial dan White House tentunya! Banyak bangunan indah, taman yang luas, sungai yang bersih.  Tetapi karena panas, kami tidak bisa berlama-lama duduk di taman pada siang hari, meleleh nih.

Meeting, meeting dan meeting. Serangkaian meeting panjang bertemu banyak orang banyak lembaga dan yang pasti kami meeting dengan beberapa orang dari US Departement of State, kantor Ms Hillary Clinton. Ya, saya ada di kantor beliau, sayang beliau di lantai 7 dan aku cuma di lantai 2 atau 3, jadi gak ketemu. Yang menyenangkan adalah bertemu Pak Charlie Kellet, orang yang bertanggung jawab atas program ini. Ohya program kami namanya International Visitor Leadership Program (IVLP) dan Pak Charlie ini orang yang menentukan kami lolos ikut program ini atau tidak setelah diseleksi oleh US Embassy Jakarta. Orangnya ramah sekali, dan lucu, Dia memberikan pin pada kami dengan bergurau dia bilang: “hati-hati itu chip yang bisa menyadap semua omonganmu bahkan bisa mencuci otakmu”. Hahaaa…sebegitu parno-nya kita bahwa kalau ikut program IVLP bakal jadi antek Amerika juga terdengar sampai US Departement.

Sempat sih aku mendengar komentar sumbang itu, bahwa aku bakal jadi antek Amerika. Hmmm….Kalau aku pribadi sebenarnya begini : selama ada kesempatan dan itu bermanfaat, aku jalani asal tidak ada permintaan atau perintah khusus aku harus begini dan begitu yang tidak sesuai dengan prinsip dan nilai yang aku pegang. Dan aku tetap boleh bersuara apa adanya, kenapa tidak. Ketika diskusi dengan staf Ms. Clinton aku pun menanyakan tentang kebijakan di Freeprot dan Exxon Mobile karena pada saat aku di sana kerusuhan di Papua baru saja terjadi. Dan aku mengungkapkan pendapatku bahwa : program pendidikan terutama di sekitar perusahaan atau tambang Amerika itu sangat penting. Kerusuhan tetap akan terjadi selama tidak ada kesetaraan dalam berkomunikasi dan kesetaraan bisa dicapai jika pendidikan cukup memadai. Sebuah kerjasama harus dibangun dengan kesetaraan dan menguntungkan kedua belah pihak. Selama ini menurutku Amerika lebih banyak membantu untuk issue HAM, teroris, kesetaraan Gender dan kurang dalam hal pendidikan. Jawaban mereka cukup diplomatis, dan aku bisa paham karena siapalah aku ini hahaa..Yang penting sudah aku sampaikan suara hatiku.

Oke mari kita teruskan soal perjalanan kehidupan ini, karena banyak hal yang lebih menarik dibahas tentang orang-orang Amerika yang sangat beragam. Ada yang cinta mati dengan Obama ada yang sebel setengah mati sama Obama, ada yang peduli dengan pemerintahan dan banyak lagi yang tidak peduli. Buat mereka ngomongin politik itu menyebalkan. Ahaa! Sama dong dengan kita :) Terpisah jauh dari orang-orang yang selama ini berinteraksi denganku, dan mulai bertemu dengan banyak orang baru yang sangat berbeda seperti lompatan menuju dunia lain dan jadi ajang untuk berefleksi dan berkontemplasi. Pelajaran yang sungguh sangat berharga adalah : banyak sekali ilmu yang berserak-serak, banyak orang pintar dan hebat, banyak orang yang sangat berbeda dengan kita, dan aku belajar tentang sebuah kerendahan hati. Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang perempuan dari kaki gunung Merbabu yang ternganga melihat dunia. Padahal aku baru melihat Amerika, belum Eropa, Australia..Duh Tuhan Maha Besar Engkau dengan segala ciptaanMU. *sujud*

 

Satu lagi yang sangat menarik di Washington adalah, ikut merayakan hari kemerdekaannya, tepat 4 Juli aku berada disana. Diundang makan oleh keluarga Ken Solomonson dan teman-temannya, melihat parade kota yang sekaligus jadi ajang kampanye NGO dan Dewan Kota, melihat kembang api, yang ternyata tidak seheboh kembang api di Singapore tetapi ditunggu ribuan warga Washington DC. Di Amerika, hari kemerdekaan adalah hari keluarga. Makan bersama, BBQ di halaman, main di taman  bersama keluarga dan teman-teman dekat adalah ritual yang banyak terlihat. Mungkin kalau di Indonesia mirip dengan perayaan Hari Lebaran.

Usai Washington DC, rute perjalanan kami adalah: New York – Philadelphia – Louisville – Dallas dan diakhiri di Seattle.

New York!

Ahaa..! Ini adalah alasan terbesarku untuk datang ke Amerika, aku bermimpi suatu saat harus menginjakkan kaki di kota ini dan I DID IT! New York menjadi awal perjalanan yang emosional. Aku bertemu dengan salah satu teman blogger Fitri Mohan yang selama ini hanya berkomunikasi secara virtual tetapi sudah merasa dekat, dan ternyata suaminya mas Coen Pontoh tidak jauh-jauh lingkaran pertemanannya. Sepanjang jalan-jalan di Times Square kita membicarakan..politik di Indonesia! Sadisss hahaaa….New York benar-benar kota hiburan dan bisnis dengan beragam makhluknya. Mau cari apa aja ada, dan 24 jam hidup terus. Hiruk pikuk dan bising, tetapi penuh dengan pejalan kaki. Di New York saking banyaknya pejalan kaki, mereka seperti menjadi arus utama dari lalu lintas di kota itu. Menyenangkan dan seperti biasa, perempuan desa ini kembali ternganga. New York adalah kota yang disebut oleh almarhum Weby, sahabatku dalam twitternya: ” New York adalah kota yang wajib aku kunjungi sebelum mati.” Dan akhirnya aku di sini, Web…menunaikan mimpiku dan mimpimu. :’)

Selain patung liberty dan nonton broadway Mamammia, yang sangat ingin aku datangi adalah Central Park!. Duduk tenang menikmati sebuah keheningan dibalik kebisingan kota New York adalah paradoks yang indah. Tidur-tiduran, jalan-jalan di taman, foto-foto dan merasakan setiap tarikan nafas dengan lambat merupakan keindahan tersendiri. Aku pun kembali mengurai mimpi, suatu saat aku kembali ke sini bersama Matahati, putriku.

New York penuh dengan gedung tinggi sehingga matahari pun hampir tidak bisa menyentuh jalanan. Seperti sebuah lorong-lorong panjang, dengan taksi kuning bertebaran. Suara klakson, sirine, teriakan orang-orang memenuhi telinga sepanjang masa, dan Central Park adalah oase-nya. Kota yang dinamis persis seperti dalam film-film Hollywood.

Seperti yang aku bilang tadi, dari New York segala hal yang berbau emosi dimulai. Sebuah mimpi yang tercapai dan perjalanan meninggalkannya yang penuh drama. Kami terjebak di lorong bawah tanah selama satu jam lebih karena kereta api yang akan membawa kami ke Philadelphia mogok! Mulailah aku sesak nafas dan pusing kepala. Yup! “Duh Gusti, aku gak mau mati di terowongan New York, anakku siapa yang ngurus”. Mulailah diantara sesak nafas, airmata pun banjir tak terkira. Cukup merepotkan teman-teman dan interpreter, bahkan Mba Nunu sempet salto dari eskalator karena mengurus koperku. Maaf ya mbak… Tetapi karena hal itu aku menjadi dekat dengan mereka. Selama ini hubungan yang formal dengan interpreter pun perlahan mulai mencair dan kelak kemudian kami menjadi sangat dekat dan mewek ketika berpisah di Seattle. Hiks.

Sampai di Philadelphia, ada 2 orang yang tertatih-tatih jalannya. Mbak Nunu yang terkilir kakinya karena salto tadi, dan aku dengan lutut yang mulai bermasalah. Tetapi lagi-lagi, pincang tidak menghentikan kami untuk jalan-jalan dan shopping hahaa…Itu obat je :p Di Philadelphia sebuah kota yang jauh dari bising, penuh dengan bangunan kuno dan orang-orang yang lebih rileks dan hangat. Konon banyak imigran dari Indonesia yang memilih Philadelphia sebagai tempat tinggalnya. Cuaca tidak terlalu panas seperti di New York atau DC, dan toko-toko pun tutup sejak jam 6 sore. Benar-benar kota dengan ritme yang lambat. Tetapi jangan salah, ternyata ada yang lebih lambat lagi dan sepi yaitu kota berikutnya Louisville!

Louisville kota Superman yang sepi itu adalah tujuan berikut setelah Philadelphia. Di sana berita duka itu aku terima. Airmata tumpah bersama dengan hujan yang mendadak turun dengan derasnya. “Selamat jalan Webi, mimpi kita telah kutunaikan, mengunjungi kota New York. Berisirahatlah dengan tenang”.

Louisville lebih sepi dan hampir tidak ada “apa-apa” selain Hard rock Cafe dan museum Muhammad Ali. Banyak rumah, bangunan dan perkantoran yang dibiarkan kosong imbas dari krisis ekonomi di Amerika. Dan rumah-rumah kosong itu menjadi problem yang cukup serius di kota itu, banyak kejahatan dan pembuatan drugs di rumah-rumah kosong sehingga membahayakan anak-anak yang turun dari bus sekolah. Dewan kota yang kami temui pun cukup concern soal itu. Ajaib ya! Di negara besar ini, ternyata rumah kosong bisa jadi masalah besar. Dan yang membuat aku tercengang adalah di Amerika pun banyak gelandangan dan pengemis. Kalo kita duduk-duduk di taman atau di halaman hotel, setiap menit ada gelandangan dan pengemis yang minta uang. Jadi Amerika itu ya sama saja dengan kita, masih ada problem soal gelandangan, kemiskinan, drugs, diskriminasi dan kejahatan.  Tetapi di sana kesadaran orang untuk bersama-sama dengan pemerintahannya menyelesaikan persoalan kotanya itu ada. Budaya volunteering sangat kuat dan peraturan yang dijalankan dengan baik menjadi kunci menyelesaikan segala problem. Pemerintah tidak semena-mena dan cukup transparan dalam mengelola perpajakan, dan warganya pun dengan senang hati mengikuti setiap aturan yang ada. Di semua negara bagian kesadaran untuk bekerja sebagai volunteer sangat tinggi, bahkan voluteering masuk dalam kurikulum mulai dari sekolah dasar. Antara NGO, pemrintah dan community masyarakatnya bersinergi untuk mengelola wilayahnya.

Semakin banyak kota yang aku kunjungi semakin membuatku percaya bahwa pendidikan itu sangat penting. Di Amerika semua bisa tertata dengan baik, karena tingkat pendidikannya sebagian masyarakat cukup baik dan kesenjangan ekonomi tidak begitu besar seperti di Indonesia. Masyarakat sadar dan paham bagaimana mereka mengatur kehidupannya, dan taat pada aturan negara karena negara juga transparan terhadap segala hal termasuk dalam pengelolaan pajaknya. Semua pajak yang dibayarkan akan kembali ke rakyatnya, sehingga masyarakat pun tenang-tenang saja ketika semua dipajak-in. Amerika sangat menghargai perbedaan, semua yang datang baik imigran legal maupun gelap berusaha dilayani dengan baik, mereka tidak boleh menolak imigran gelap untuk datang berobat atau ke shelter meminta makanan. Itu kehebatan Amerika. Keterbukaan dan menghargai perbedaan justru menyatukan. Konon sudah tidak jelas lagi siapa penduduk pribumi, karena banyaknya ras berada di sana. Bahkan di Ellis Island New York ada Museum Imigran, kita bisa melacak jejak nenek moyang kita dari mana dan kapan datang ke Amerika. Mereka punya sistem dokumentasi dan pencatatan sejarah yang bagus dan di Indonesia tidak punya.

Setelah Louisville kami terbang menuju kota Dallas, Texas. Kota yang terkenal dengan koboi-nya dan salah satu yang tidak terkena imbas krisis ekonomi. Di Dallas terkenal dengan : semuanya besar. Jalanan besar, rumah besar dan..porsi makan yang besar!. Saking besarnya satu wilayah ke wilayah lain jarak tempuhnya cukup jauh dan tidak banyak titik-titik kerumunan bangunan. Di Dallas aku menyaksikan mobil-mobil mewah apa aja berseliweran. Benar-benar kota orang kaya. Mungkin karena besar jadi nampak sepi, tidak banyak orang berjalan kaki dan tidak banyak angkutan umum. Sepertinya sebagian besar menggunakan mobil pribadi seperti di Louisville. Hal ini cukup menguntungkanku karena gak perlu jalan kaki banyak-banyak sehingga tidak merepotkan Pak Hengky yang selalu harus membantuku berjalan setiap usai duduk lama atau kedinginan sehingga lutut ngilu gak karuan.

Setiap malam kami masih susah tidur, walaupun sudah seminggu lebih di Amerika sehingga seringkali kami nongkrong bersama interpreter. Ngobrol ngalor-ngidul menghabiskan malam yang masih terang benderang. Permbicangan yang ringan hingga akhirnya kepada urusan yang lebih personal. Dalam setiap perjalanan selalu ada keributan kecil antar rombongan, dan itu hal yang wajar. Kami dari latar belakang yang berbeda dan belum saling kenal sebelumnya kecuali aku dam Simbok Venus yang sudah berteman sebelumnya. Sang Interpreter lah kemudian menjadi ajang curahan hati. Padahal mereka sendiri capek seharian bekerja mendamping kami dari satu meeting ke meeting lain, mengatur perjalanan dan pertemuan yang padat merayap. Semoga amal Pak Hengky dan Mba Nunu dibalas setimpal sama Tuhan :)  Tetapi  ada hal-hal yang menyenangkan bersama sang interpreter, yaitu jalan-jalan makan dan shopping bersama. Teteeeup! Dan seringkali kami ditraktir lo..padahal kan udah dipesenin sama US Embassy Jakarta gak boleh gangguin interpreter di luar jam meeting. Maaf yaa…:)

Pak Hengky dan Mba Nunu, dua orang asli Indonesia yang seringkali mengucapkan kerinduannya pada negeri ini dengan sepenuh hati. Mereka sudah cukup lama tinggal dan bekerja di Amerika, tetapi rasa cintanya kepada Indonesia sungguh terasa. Pak Hengky akan sangat berapi-api menceritakan masa kecilnya di Makassar, dan hafal semua makanan enak di sana. Suatu kali aku bercanda kepadanya: “Pak kalau ke Indonesia, pulang atau berkunjung?” Dan Pak Hengky langsung menyaut dengan suara tegas: “Pulang!” Di hati kecilnya Indonesia adalah tempat yang ingin dia tinggali, tetapi logika tidak memungkinkan karena pekerjaan, karir dan keluarganya di Amerika. Aku membayangkan sebuah rasa yang cukup sulit untuk diurai, dan salut untuk mba Nunu dan Pak Hengky yang tetap menginginkan Indonesia di hatinya.  Pesan tersirat dari mereka yang selalu aku ingat adalah untuk selalu menceritakan Indonesia dengan baik karena banyak sekali orang Amerika tidak kenal Indonesia. Bukan untuk menutupi keburukan tetapi Indonesia masih banyak hal baik untuk diceritakan. Mereka berdua berusaha keras membantu kami untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari kunjungan ini, dan mereka cukup sedih jika kita kurang mendapatkan pembelajaran dari setiap kunjungan. Harapan sederhana mereka yang aku tangkap adalah : belajarlah banyak-banyak tentang Amerika dan gunakan untuk kebaikan Indonesia.

Terkadang kewarganegaraan hanyalah urusan buku kecil seukuran passport, dan hanya administratif belaka karena cinta tanah air itu ada di hati memenuhi rongga dada dan isi kepala.

Seattle!

Salah satu kota yang membuat aku jatuh cinta. Kalau New York adalah kota impian, Seattle adalah kota yang melelehkan hati. Cuaca dingin berangin, berbatasan langsung dengan lautan, dan terasa lebih manusiawi. Aku bisa mengerti jika banyak kisah romantis di sana, karena kota itu benar-benar membius rasa di setiap sudutnya. Berlayar mengelilingi lautan, mengunjungi pasar tradisional, dan ngopi di kafe Starbucks yang pertama adalah bagian perjalanan yang menyenangkan. Kotanya berkontur naik turun dengan gedung-gedung tinggi  menghadap lautan melengkapi sebuah landskap kota yang menarik. Hotel tempat aku menginap dekat dengan pusat kota, di mana aku bisa berjalan kaki shopping melengkapi oleh-oleh untuk dibawa pulang. Sempurna. Mungkin ini salah satu kota yang bakal aku kunjungi lagi dengan Matahati.

Seattle adalah kota terakhir. Di sini kami akan berpisah dengan Mbak Nunu dan pak Hengky yang sudah menemani selama 21 hari. Emosional, pasti! Dan suasana kota pun mendukung. Sebuah persahabatan yang terjalin begitu menyenangkan dan semoga kita bisa tetap saling berhubungan. Terimakasih Pak Hengky atas “bahu-nya”  yang selalu tersedia untukku, terima Mba Nunu  yang selalu sabar menerima setiap keluh kesah dan terimakasih kalian berdua yang selalu menceriakan malam. Dan terimakasih atas dukungan kalian, sehingga aku bisa belajar banyak dan bercerita tentang Indonesia kepada mereka.

Pelajaran penting dari perjalanan ini adalah : Amerika sama dengan Indonesia, punya segudang persoalan. Yang membedakan adalah mereka punya kesadaran untuk membangun dan mengelola wilayahnya bersama-sama. Peraturan dijalankan untuk kebaikan bersama, dan setiap warga menikmati keuntungan atas pengelolaan secara bersama pula. Masyarakat boleh bersuara dan didengar jika hak mereka terlindas, dan masyarakat pun menghargai setiap kerja pemerintahnya. Budaya untuk saling menghargai dan bekerjasama tanpa mengejar keuntungan pribadi semata itu yang menjadi kunci negara itu berjalan dengan baik. Dan yang pasti pendidikan menjadi issue penting di semua negara bagian, karena mereka sadar pendidikanlah yang bisa memberikan kehidupan yang lebih baik.

Sebuah sistem bisa dibangun dengan baik jika orang-orangnya paham dan menjalankan sistem tersebut dan percaya bahwa itu untuk kebaikan bersama.

Bagaimana dengan di negara kita? Apapun aku tetap cinta Indonesia, dan berharap selalu ada perubahan menuju kebaikan.

Selamat tinggal Amerika.

Pesawat Delta sesaat sebelum take off. Photo by Pak Hengky Chiok

Pesawat Delta kemudian membawa kami pulang ke kampung halaman. Seattle menuju Narita, dari Narita kami singgah di Singapore dan selanjutnya dari Singapore kami berganti pesawat Sigapore Airlines menuju IN-DO-NE-SI-A!

 

 

 

1

26 Responses

  1. dobelden
    29 Juli 2012
  2. Sita
    29 Juli 2012
  3. bakti utami tiut
    29 Juli 2012
  4. Aar
    29 Juli 2012
  5. pinkina
    29 Juli 2012
  6. zam
    29 Juli 2012
  7. venus
    29 Juli 2012
  8. wina
    29 Juli 2012
  9. blanthikayu
    30 Juli 2012
  10. indobrad
    30 Juli 2012
  11. dilla
    30 Juli 2012
  12. hedi
    30 Juli 2012
  13. yunita
    30 Juli 2012
  14. dinikopi
    30 Juli 2012
  15. Fitri Mohan
    30 Juli 2012
  16. mbokde
    30 Juli 2012
  17. mbokde
    30 Juli 2012
    • ainun
      31 Juli 2012
  18. Yosafati GUlo
    6 Agustus 2012
  19. Arief
    11 September 2012
  20. nonawina
    11 September 2012
  21. ady
    13 Oktober 2012
    • ainun
      14 Oktober 2012
  22. Indra Prananda
    5 Mei 2013
  23. Yulius Ardian Febrianto
    3 Oktober 2013

Tinggalkan Balasan