Bukik Bertanya : Murid Kehidupan, Belajar dari Setiap Tikungan

 

Aku seorang ibu yang bekerja untuk menghidupi keluarga, tepatnya single mother, tinggal di Jakarta sebuah kota paling hiruk pikuk di Indonesia. Beberapa orang menjuluki ibukota yang kejam tetapi banyak orang yang tetap tinggal dan bertahan di dalamnya. Namaku Ainun Niswati Chomsun, aku lebih suka menuliskan Ainun Chomsun lebih singkat dan memberikan kebanggakan karena ada nama Bapakku dibelakangnya. Orang-orang yang cukup dekat denganku seperti keluarga dan teman-teman dekat memanggilku Nunik. Konon kata almarhum Bapakku, karena nama panggilan Ainun agak susah untuk lidah Jawa maka dipanggilah Nunik. Aku pernah bertanya kepada Ibu dan Bapak kenapa diberi nama itu, tetapi aku tidak pernah mendapat jawaban yang pasti atau aku lupa penjelasannya, entahlah. Tetapi aku diberitahu arti namaku kata per katanya. Ainun itu dari bahasa Arab yang artinya mata, sedangkan Niswati dari bahasa Arab juga “Niswah” yang artinya perempuan. Kalau Chomsun, seperti yang tadi sudah aku ceritakan itu nama Bapakku. Kalau disatukan arti namaku adalah mata perempuan. Mungkin karena waktu bayi mataku begitu indahnya, hahaa….yang pasti ketajaman mata ku sekarang berkurang termakan usia.

Aku adalah anak kelima dari enam bersaudara, kakak perempuanku dua, kakak lelakiku dua dan adik perempuanku satu. Bapak meninggal ketika umurku masih 10 tahun, dan belum ada satu pun kakakku yang selesai sekolahnya. Aku cuma punya sedikit waktu bersama Bapak, karena beliau sibuk mengajar dan menjadi pengusaha kayu. Keluargaku cukup berada kala itu, dan rumahku banyak sekali orang. Selain orang tua dan saudara kandung, banyak saudara dari Bapak yang ikut tinggal bersama kami. Bapak orangnya murah hati, suka menolong terutama kepada saudara-saudaranya. Kehidupan kecilnya yang sangat mengenaskan membuatnya menjadi pekerja keras. Begitu juga yang diajarkan kepada anak-anaknya. Bapak mewajibkan setiap anak mandiri tidak peduli lelaki atau perempuan. Aku ingat kakak perempuanku dikirim sekolah SMA di luar kota, katanya perempuan pun harus berani hidup sendiri.

Dulu, diantara anaknya, aku yang paling dekat dengan Bapak. Kemana-mana sering diajak : tenis, ngajar, berkunjung ke rumah teman. Bapakku selalu bilang aku anak yang pintar, dan beliau pernah bercita-cita mengirimkan aku sekolah ke Singapore. Sebagai anak kampung di kota kecil Salatiga, gak kebayang Singapore itu seperti apa. Aku main iya iya aja. Bapak juga mengajariku naik sepeda dan berenang, katanya perempuan harus bisa naik sepeda dan berenang. Entah apa maksudnya. Beliau sangat keras cara mengajarnya, sehingga aku suka menangis dan takut melanjutkan belajar. Hingga suatu kali Bapak bicara denganku : nduk, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa jika kamu mau belajar. Dan kamu pasti bisa berenang dan naik sepeda jika kamu mau terus menerus belajar. Waktu itu umurku masih delapan atau sembilan tahun, aku lupa. Kata-kata beliau itu, mengendap di kepala dan hatiku hingga kini, dan menjadi amunisi di setiap perjalan hidupku. Sayang aku cuma sebentar mengenal beliau, tetapi kenangannya luar biasa. Satu momen yang paling aku ingat dan sungguh membuatku menyesal hingga kini adalah, ketika Bapak sakit, aku, ibu dan saudara-saudaraku menemaninya berobat ke Jakarta hingga kembali pulang ke Salatiga. Karena waktu itu pesawat mahal,aku diminta menemani beliau naik pesawat, sedang yang lain naik kereta. Aku menangis sepanjang perjalanan karena ingin naik kereta bersama yang lain. Bapakku terdiam selama perjalanan dan sempat membujukku betapa enaknya naik pesawat tapi aku tak menggubrisnya dan tetap menangis sepanjang perjalanan. Andai aku tahu itu saat-saat terakhirku bersama beliau, aku akan mengajaknya tertawa, berbagi cerita dan bermanja-manja. Tapi waktu tidak bisa diputar, dan ketika menuliskan ini dada masih terasa ngilu dan airmata nyaris tumpah lagi.

Ibuku seorang perempuan biasa yang luar biasa. Aku hampir tidak pernah melihatnya menangis, kecuali satu kali ketika bapakku dipanggil Yang Kuasa. Semua persoalan hidup disimpannya rapat-rapat kalau pun kemudian aku tahu itu karena tidak sengaja atau tahu dari orang lain. Ibuku, selalu menjaga kami, anak-anaknya, untuk tetap bisa belajar, bermain seperti keluarga normal lainnya walaupun pada saat itu ibu sedang kesulitan keuangan ditinggal mati suaminya dengan hutang yang menumpuk. Ibu mewajibkan kami semua harus lulus sarjana, tidak boleh tidak. Sampai saat ini aku tidak tahu persis bagaimana ibu menyelesaikan masalah keuangan seorang diri dan berhasil menjadikan keenam anaknya sarjana. Yang aku tahu ibu pernah meneruskan bisnis ayahku berjualan kayu, tetapi karena hutangnya banyak kemudian bangkrut dan menjual sebagian tanah di rumah kami. Ibu pernah berjualan nasi, kontraktor bangunan dan beberapa kali ditipu orang sampai rumah kami sudah masuk lelang pengadilan disita bank. Semua itu aku tahu dari orang lain, tidak pernah sekali pun ibu bercerita kepada anak-anaknya, mengeluh pun tidak. Tetapi semua teratasi dengan baik, rumah tidak jadi disita, dan kami bisa sekolah semua. Makanya aku selalu merasa ibuku adalah “keajaiban”, seorang ibu rumah tangga yang punya kekuatan luar biasa. Satu hal yang selalu aku ingat hingga sekarang dan selalu jadi catatan di kepalaku adalah, ketika aku dihadapkan pada masalah yang sangat rumit, ibuku datang dan duduk disampingku yang sedang menangis. Beliau bilang, “nduk, apa yang kamu khawatirkan? Dunia ini semua milik Allah, Beliau punya semuanya. Mintalah apa yang kamu inginkan dan kamu gak perlu ketakutan. Percayalah Allah akan menolongmu.”

Kalau orang melihat aku sebagai perempuan tangguh, itu pasti aku dapatkan dari ibuku, dan aku belum ada apa-apanya dibanding beliau.

Hidupku penuh warna, banyak goncangan-goncangan yang aku rasakan membuatku belajar. Dan pelajaran penting aku dapat adalah belajar itu sepanjang hayat dikandung badan. Goncangan pertama yang aku rasakan ketika Bapak meninggal dunia, banyak hal-hal yang berubah, sebelumnya kami keluarga yang sangat berada tiba-tiba habis semua. Kakakku yang pertama sangat terpukul, dan kemudian menjadi sangat pemarah. Aku salah satu yang pernah merasakan kemarahannya dan sampai saat ini aku agak takut dengannya.

Menginjak remaja hidupku normal-normal saja, baru menjelang sisa akhir perkuliahan kembali merasakan sesaknya persoalan. Aku harus putus mendadak dengan pacar yang sudah lebih dari 5 tahun dengan cerita yang sungguh memilukan padahal kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya ke jenjang yang lebih serius. Masalah ini cukup berat karena menimbulkan perseteruan dua keluarga, keluargaku dan keluarga pacarku. Butuh waktu lama untuk mengikhlaskan semua kejadian ini, dan terus terang itu pukulan terberat dalam hidupku setelah kepergian Bapak.

Rupanya, ujian demi ujian belumlah usia. badai besar kembali datang, kali ini dalam rumah tanggaku. Kalau sebelumnya aku tidak pernah ditimpa masalah yang cukup berat, mungkin aku tidak kuat menanggung masalah dalam rumah tanggaku. Tetapi kehidupan telah memberiku pelajaran, walaupun rasanya dunia runtuh dan ingin menceburkan diri ke perut bumi, dengan tertatih-tatih aku bangkit dan membesarkan anakku sendirian.

Sejak itu aku percaya, persoalan akan selalu ada, dan setiap manusia akan dilipatgandakan kekuatannya oleh Tuhan untuk menghadapi persoalan hidupnya. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan manusia, karena Tuhan akan selalu memberikan kekuatanNya jika kita minta dan bersandar kepadaNya. Aku pun belajar terus dari kehidupan, setiap persoalan membuatku lebih dewasa dari waktu ke waktu.

Kehidupan mengajarkan kepadaku ternyata aku bukan siapa-siapa, tanpa kekuatanNya tetapi sekaligus aku adalah siapa-siapa, karena aku adalah makhluk yang diciptakanNya dengan segala keistimewaannya. Menjadi manusia seutuhnya adalah dengan menghargai diri sendiri tanpa melupakan bahwa aku tidak sendiri, masih ada orang lain yang mempunyai keistimewaan masing-masing.

Persoalan hidup juga membukakan mata dan hatiku, keluargalah yang utama. Mereka selalu berdiri di sisiku dan mengulurkan seluruh tangannya untuk menopangku. Buat orang lain mungkin tampak sebagai campur tangan, tetapi buatku itu dukungan yang membahagiakan.

KIta hidup di bumi tidak pernah sendiri, mempunyai banyak teman adalah anugerah luar biasa setelah keluarga. Aku sekarang merasakan betapa menyenangkan dikelilingi banyak teman, dari mereka selalu memdapatkan tawa dan pembelajaran. Hal ini kemudian menyadarkanku bahwa lingkungan sekitar sangat penting, dan ukuran sukses manusia adalah ketika kehadirannya di bumi memberikan manfaat untuk sesama.

Saat ini aku punya kegiatan namanya Akademi Berbagi, yaitu membuat kelas-kelas gratis secara rutin di berbagai daerah. Apa yang aku lakukan ini karena aku ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Bisa membantu sesama di lingkungan terdekat sudah sangat membahagiakan, apalagi kalau bisa membantu negeri tercinta, Indonesia. Walaupun cuma mimpi tetapi aku berharap apa yang aku lakukan sampai saat ini setidaknya memberi perubahan kecil untuk negeriku tercinta. Aku cukup tahu diri atas kemampuanku, tetapi aku percaya bersama-sama teman dan saudara apa yang kita kerjaan akan berdampak luar biasa untuk Indonesia.

Aku senang menggambarkan kehidupan itu seperti pohon. Aku tidak tahu apakah pohon itu simbol kehidupanku. Pohon itu tumbuh dan terus bertahan hidup dengan segala cuaca. Selalu ada daun yang rontok tetapi akan selalu tumbuh daun baru. Selalu ada angin kencang, tetapi dengan kekuatan akar yang menghujam maka dia akan terus bertahan berdiri melindungi anak-anak dan keluarganya, memberikan manfaat untuk sekitarnya. Dan pada akhirnya nanti masanya akan tiba, dia digantikan oleh pohon yang lainnya.

Apa yang terbayang di kehidupan di tahun mendatang? Aku selalu membayangkan kehidupan 20-30 tahun mendatang bukan dunia dengan segala kecanggihan digitalnya, tetapi dunia yang harmonis dengan alam. Orang kembali bersatu dengan alam, menjalani hidup dengan ritme yang wajar, dan alam yang kembali subur, hijau dan setiap orang saling bersapaan dengan ramah, karena mereka memang makhluk sosial yang saling membutuhkan. Ya kehidupan yang lebih manusiawi tanpa mengabaikan teknologi. Sebuah simbiosis harmoni kehidupan alam dengan kemajuan teknologi yang tidak saling meniadakan.

Teknologi yang semakin berkembang tidak seharusnya menghancurkan alam, justru kita harus semakin pintar untuk bisa mensinergikan. Hal yang paling kecil yang ingin aku lakukan adalah memberikan ruang belajar yang cukup bagi siapa saja untuk belajar dan menjadi lebih pintar serta bijaksana, bahwa kehidupan ini bukan semata-mata mengejar tujuan tetapi juga menghargai setiap proses yang dialami seperti alam semua hal harus berproses tidak ada yang instant.

Indonesia dengan alam indahnya, akan semakin indah dan orang-orang pintar di dalamnya. Itu mimpiku.

Aku senang menulis, dan berbagi cerita, tetapi tidak pernah terbayang akan dibuatkan buku biografi. Apa ya ada yang mau menuliskan heheee…Kalau berandai-andai tentang buku biografi dan menjadi best seller, apa ya judul yang sesuai? Bagaimana kalau : Murid Kehidupan.

Dalam hidup selalu ada hal-hal yang konyol. Hal yang paling konyol yang pernah aku lakukan apa ya? Jatuh cinta! Hahaa…yaaa, aku selalu konyol dalam urusan percintaan, menempatkan rasa di atas segalanya yang kemudian membuatku jatuh dan terluka. Tetapi kekonyolan selalu memberi pembelajaran. Terkadang kekonyolan itu menyenangkan ketika kita berhasil mentertawakan. Konon orang yang bijak adalah orang yang bisa mentertawakan dirinya sendiri. Dan aku sedang belajar menikmati setiap kekonyolan jatuh cinta untuk kemudian ditertawakan.

 

“Rubrik Kolaborasi Bukik Bertanya”

 

 

 

 

 

13 Responses

  1. Bukik
    12 Januari 2012
    • ainun
      13 Januari 2012
  2. pinkina
    13 Januari 2012
    • ainun
      13 Januari 2012
  3. Puti
    13 Januari 2012
    • ainun
      13 Januari 2012
  4. Thomas
    13 Januari 2012
    • ainun
      13 Januari 2012
  5. Thomas
    17 Januari 2012
  6. ririe khayan
    2 Februari 2012
    • ainun
      10 Februari 2012
  7. didi
    21 Februari 2012
    • ainun
      28 Februari 2012

Tinggalkan Balasan