Semua ini tentang kamu

Nyaris 20 tahun kita tidak bertemu, setelah peristiwa dimana kamu tiba-tiba hilang dari kehidupanku, tanpa tahu kemana aku bisa menemuimu. Bak ditelan perut bumi. Menyakitkan. Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan aku masih bergelut dengan rasah pedih. Sakit hati dan tidak terima diperlakukan begitu. Patah hati sekaligus merasa diri ini tidak berharga karena dicampakkan begitu saja. Rasa terhina jauh lebih menghujam daripada rasa patah hati.

Dalam perjalanan, aku masih berusaha mencarimu dengan berbagi cara, bahkan rasanya terbang ke seberang pulau pun aku jalani jika bisa bertemu denganmu. Hanya satu yang aku tanya: kenapa pergi menghilang begitu saja?Aku lebih suka mendengarkan keterusteranganmu sekalipun menyakitkan. Tetapi kamu lebih memilih pergi, tanpa kata tanpa tanda.

Akhirnya aku menyerah, dan berhenti mencarimu. Waktu pun ikut melipur lara sepenggal demi sepenggal. Dan waktu pun ikut mendewasakan pikiran. Aku mencoba memahami bahwa setiap tindakanmu pasti ada alasan yang cukup signifikan dan bukan sengaja untuk menyakitiku. Perlahan  aku mulai mengerti, jika kita teruskan banyak kerumitan yang bakal terjadi. Maka ku biarkan kamu pergi dari hati dan pikiranku dengan satu harap kamu baik-baik saja.

Kehidupan terus mengalir mengikuti irama matahari. Cerita demi cerita hadir di setiap jejak langkahku. Ada tawa ada duka, semua selalu datang beriringan seperti siang dan malam. Setiap langkah menghadirkan perubahan. Dan kamu pun tergerus diantara cerita dan kisah yang silih berganti melintasi kehidupanku.

Pernah suatu hari, dalam sebuah masa aku mendengar kabar pilu tentang dirimu. Terusik kembali kenangan lama, mengorek bekas luka yang tertimpa masa. Tetapi lagi-lagi hanya gelap yang aku liat, tanpa jejak. Hanya sejumput doa, semoga kamu baik-baik saja.

Hari ini, pagi-pagi hujan gerimis. Hawa dingin, angin dan rintik hujan menemani perjalanan pagiku setelah semalam mimpi tentang kamu. Entah mimpi yang ke berapa, dan seperti biasa aku pun membiarkan berlalu. Dalam hening dan dingin pagi, tiba-tiba terdengar sebuah lagu, yang dulu kamu nyanyikan tepat di depanku dalam pekatnya malam dengan alunan organ yang menghanyutkan. Semakin kuat kamu berujud dalam kepala dan hatiku. Kali ini aku tidak menghalau tetapi kunikmati keping demi keping kenangan indah yang cuma sedikit. Sesampai di kantor, aku tak kuasa menahan keinginan mencari tahu lagi tentang dirimu. Dan jari-jariku pun kembali menelusuri jejakmu di layar laptop.Berharap ada secuil kabarmu di keriuhan dunia digital.

Gotcha! Aku menemukanmu. Jejakmu mulai nampak, sedikit samar tetapi cukup untuk kembali menghubungkan kita. Tiba-tiba tanganku berhenti mengetik pesan yang akan kukirimkan ke inboxmu. Benarkah apa yang aku lakukan? Bukankah ini akan mengorek luka lama kembali basah dan perih? Rasa penasaran, dan berharap ada jawaban darimu jauh lebih menguat daripada kekhawatiranku akan tumbuh luka baru. Ah, sudahlah! Sementara perdebatan di kepala berlangsung, jari jemari ku pun tidak berhenti. Sent!

Ada kecemasan terselip, tetapi toh sudah terkirim. Sekarang tinggal menanti adakah balasan kabar darimu? Rasanya seperti 20 tahun lalu, penantian tak berujung. Tetapi kali ini bukan yang dulu. Tanpa berganti hari aku mendapatkan jawaban darimu dan kita pun terhubung kembali. Aku deg-degan nyaris tidak percaya.

Setelah 20 tahun….

Sebuah komunikasi kemudian terjalin kembali, dari sekedar sapa hingga terhamparlah sebuah cerita apa yang terjadi selama 20 tahun ini. Masih dengan suara yang sama seperti dulu, cerita panjang yang butuh keberanian dan ketegaran pun mengalir dari mulutmu. Aku hanya termangu pilu. Kita masing-masing punya cerita dengan sejuta duka. Kalau saat ini aku diberi keberanian untuk memelukmu..tetapi sudahlah. Toh kini kamu berdiri di depanku dengan senyum yang sama 20 tahun lalu. Kamu berhasil melewati itu semua.

Aku bangga mendengarnya. Setelah segala ujian yang bertubi-tubi, kamu tetap berdiri tegak, mengambil alih semua tanggung jawab, merelakan semua ketidakadilan tanpa ada balas dendam. Kamu percaya bahwa semua ada jalannya, dan kamu memilih untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab di setiap jejak perjalananmu.

Malam itu kita berpisah setelah usai bertukar cerita.  Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi. Kehidupan telah membawa kita ke jalan yang berbeda. “Biarkan mengalir mengikuti jalannya toh semua ada yang mengatur”, begitu ujarmu. Perlahan titik air hujan turun dan mulai menderas menyamarkan bulir-bulir airmata yang mengalir di pipi.

 

Aku percaya kamu akan baik-baik saja, Jakarta menjelang akhir suatu masa.

 

18 Responses

  1. danny
    8 Desember 2011
    • ainun
      8 Desember 2011
  2. flafea
    8 Desember 2011
    • ainun
      8 Desember 2011
  3. arya
    8 Desember 2011
  4. ainun
    8 Desember 2011
  5. cya
    8 Desember 2011
    • ainun
      9 Desember 2011
  6. pinkina
    8 Desember 2011
    • ainun
      9 Desember 2011
  7. jensen99
    8 Desember 2011
    • ainun
      9 Desember 2011
  8. astridarum
    9 Desember 2011
    • ainun
      9 Desember 2011
  9. Majid
    8 Januari 2012
  10. denmpoer
    13 Januari 2012
    • ainun
      13 Januari 2012
  11. uje
    16 Januari 2012

Tinggalkan Balasan